Anak Tidak Butuh Ayah yang Sempurna, Mereka Butuh Ayah yang Hadir
Tulisan dari Imam Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ayah yang Hadir bukan tentang selalu punya waktu atau selalu benar, tetapi tentang memberikan perhatian, mendengarkan, dan menemani anak ketika mereka membutuhkan.
Ada masa ketika kita berpikir bahwa menjadi ayah berarti harus selalu punya jawaban bukan Ayah yang hadir.
Harus kuat.
Harus tahu banyak hal
Harus bisa menyelesaikan masalah
Harus menjadi contoh yang baik setiap saat.
Kita ingin menjadi ayah yang sempurna untuk anak-anak. Tetapi semakin kita menjalani peran sebagai ayah, semakin kita sadar bahwa kesempurnaan itu tidak pernah benar-benar ada.
Kita bisa lelah.
Kita bisa salah
Kadang kita terlalu sibuk bekerja
Kadang kita kehilangan kesabaran.
Anak tidak selalu membutuhkan ayah yang sempurna. Mereka membutuhkan Ayah yang Hadir dalam kehidupan mereka.
Mereka hanya ingin ayahnya hadir.
Hadir bukan sekadar berada di rumah
Ada perbedaan antara berada di rumah dan menjadi ayah yang hadir untuk anak. Kita bisa duduk bersama anak sambil memegang ponsel. Bisa makan satu meja, tetapi pikiran sibuk memikirkan pekerjaan. Bisa mengantar anak bermain, tetapi sepanjang perjalanan sibuk membalas pesan.
Secara fisik kita ada.
Tetapi apakah anak benar-benar merasakan kehadiran kita?
Kadang anak hanya ingin bercerita tentang hal yang bagi kita terlihat sederhana.
Tentang mainannya.
Tentang temannya.
Tentang sesuatu yang ia lihat hari itu.
Mungkin bagi kita ceritanya tidak penting.
Tetapi bagi anak, ketika ayah mau berhenti sejenak dan mendengarkan, itu adalah sebuah pengalaman bahwa “Ayah menganggap ceritaku penting.”
Dan mungkin itulah salah satu bentuk kasih sayang yang paling sederhana.
Anak tidak menghitung berapa banyak yang kita berikan
Sebagai ayah, kita sering merasa bahwa tanggung jawab kita adalah menyediakan yang terbaik.
Sekolah yang baik.
Makanan yang cukup.
Pakaian yang layak.
Mainan.
Liburan.
Berbagai fasilitas.
Semua itu penting.
Tetapi ada sesuatu yang tidak bisa dibeli.
Waktu.
Anak mungkin tidak akan mengingat semua mainan yang pernah kita belikan. Tetapi mereka bisa mengingat ketika ayah duduk menemani mereka menggambar.
Mereka bisa mengingat ketika ayah datang melihat pertunjukan kecil mereka. Mereka bisa mengingat ketika ayah memeluk mereka setelah mereka gagal. Mereka bisa mengingat ketika ayah berkata,
“Tidak apa-apa. Kita coba lagi.”
Kenangan-kenangan kecil seperti itulah yang mungkin kelak menjadi bagian dari cara mereka memahami arti rumah.
Ayah juga boleh mengatakan, “Ayah salah”
Kadang kita takut kehilangan wibawa di depan anak ketika mengakui kesalahan. Padahal mungkin justru sebaliknya. Ketika ayah berani mengatakan, “Maaf, tadi Ayah terlalu marah.” Anak belajar bahwa meminta maaf bukan tanda kelemahan.
Ketika ayah berkata, “Ayah belum tahu. Kita cari tahu bersama.” Anak belajar bahwa orang dewasa pun masih terus belajar.
Ketika ayah mengatakan, “Ayah juga sedang belajar menjadi ayah yang lebih baik.” Anak belajar bahwa menjadi baik bukan berarti tidak pernah salah.
Bukankah ini juga bagian dari pendidikan?
Kita tidak hanya mendidik anak melalui nasihat.
Kita mendidik mereka melalui cara kita menjalani kehidupan.
Dalam Al-Qur'an, kita menemukan banyak percakapan ayah dan anak
Menariknya, Al-Qur'an tidak hanya menceritakan hubungan orang tua dan anak dalam bentuk perintah dan nasihat. Ada dialog.
Luqman berbicara kepada putranya dengan panggilan penuh kasih, “Ya bunayya”—wahai anakku.
Nabi Ibrahim berdialog dengan Ismail ketika menyampaikan sebuah perkara besar. Ia bahkan meminta pendapat putranya.
Nabi Ya'qub mendengarkan cerita Yusuf tentang mimpinya, kemudian memberikan nasihat.
Ada proses mendengar, berbicara, memahami, dan mengarahkan.
Seolah-olah kita diingatkan bahwa mendidik anak membutuhkan hubungan yang dekat, bukan sekadar instruksi.
Pada akhirnya, anak akan tumbuh
Suatu hari nanti, anak-anak kita tidak lagi sekecil sekarang. Mereka akan punya kesibukan sendiri. Mereka akan punya teman-temannya sendiri. Mungkin mereka tidak lagi berlari memanggil, “Ayah!” sesering hari ini.
Dan saat itu tiba, kita mungkin akan menyadari bahwa ternyata masa-masa sederhana yang dulu kita anggap biasa adalah masa yang sangat berharga.
Maka mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk mengejar predikat sebagai ayah yang sempurna.
Cukuplah berusaha menjadi ayah yang hadir.
Hadir ketika mereka ingin bercerita.
Hadir ketika mereka gagal.
Hadir ketika mereka berhasil.
Hadir ketika mereka membutuhkan nasihat.
Dan bahkan hadir ketika mereka hanya ingin duduk di samping kita tanpa mengatakan apa-apa.
Karena pada akhirnya, anak mungkin tidak membutuhkan ayah yang selalu benar.
Mereka membutuhkan ayah yang bisa mereka percaya.
Dan mungkin, warisan terbesar seorang ayah bukanlah apa yang ia tinggalkan dalam bentuk harta.
Tetapi kenangan tentang seorang ayah yang pernah benar-benar hadir dalam perjalanan hidup mereka.

