Konten dari Pengguna

Mendengarkan Anak: Mereka Tidak Selalu Butuh Nasihat

Sumber : AI generated
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : AI generated

Mendengarkan anak adalah salah satu cara sederhana untuk membangun kepercayaan dan komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak.

kadang mendengarkan anak lebih penting dari apapun

“Ayah, aku mau cerita...”

Kalimat sederhana di atas sering kita dengar dari anak.

Tapi kadang, sebelum mereka selesai bercerita, kita sudah buru-buru menjawab.

"Makanya jangan begitu."

"Kan sudah Ayah bilang."

"Seharusnya kamu..."

Kita merasa sedang mendidik.

Padahal mungkin, saat itu mendengarkan anak justru adalah hal pertama yang perlu kita lakukan.

Ia tidak selalu membutuhkan nasihat. Kadang ia hanya ingin didengarkan.

Kita sering terlalu cepat memberi jawaban

Sebagai orang tua, tentu kita ingin anak belajar dari setiap masalah. Ketika mereka bercerita tentang temannya, kita langsung memberikan nasihat. Ketika mereka kecewa, kita buru-buru mengajarkan cara menghadapinya. Ketika mereka melakukan kesalahan, kita segera menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan.

Niat kita baik.

Kita ingin mereka menjadi anak yang kuat dan mampu menghadapi kehidupan.

Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:

“Apakah anak sedang membutuhkan solusi, atau hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan?”

Ada kalanya anak pulang sekolah dengan wajah murung.

Bukan karena nilainya jelek.

Bukan karena ada masalah besar.

Mungkin hanya karena hari itu temannya tidak mengajaknya bermain.

Bagi kita mungkin terlihat sederhana.

Tetapi bagi anak, itu bisa menjadi masalah yang cukup besar.

Dan ketika ia bercerita, mungkin yang ia butuhkan bukan penjelasan panjang tentang bagaimana memilih teman.

Mungkin ia hanya ingin kita berkata:

“Pasti kamu sedih ya. Sini, cerita sama Ayah.”

Sesederhana itu.

Didengarkan bukan berarti selalu dibenarkan

Mendengarkan anak bukan berarti kita harus menyetujui semua yang mereka lakukan.

Kalau anak salah, tetap perlu diarahkan.

Kalau perilakunya tidak baik, tetap perlu ditegur.

Tetapi ada perbedaan antara menegur setelah memahami dengan menegur sebelum mendengarkan.

Ketika anak merasa didengarkan, ia akan lebih mudah menerima arahan. Karena itu, mendengarkan anak bukan berarti membiarkan semua perilakunya, tetapi memberi ruang untuk memahami apa yang sedang ia rasakan.

Sebaliknya, ketika setiap cerita selalu dibalas dengan ceramah, lama-lama anak bisa belajar satu hal:

"Kalau aku cerita kepada Ayah atau Ibu, nanti aku akan dinasihati."

Akhirnya ia memilih diam.

Dan mungkin, di situlah kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar sebuah percakapan.

Kita kehilangan kepercayaan.

Anak akan tumbuh, tetapi kenangan tentang rumah akan tinggal

Anak-anak tidak selamanya kecil.

Akan datang masa ketika mereka lebih banyak bercerita kepada teman daripada kepada orang tua. Mereka punya dunia sendiri. Punya rahasia. Punya persoalan yang mungkin tidak selalu kita ketahui.

Mungkin saat itu kita akan berharap mereka tetap mau bercerita kepada kita.

Maka hubungan itu perlu dibangun sejak sekarang.

Bukan dengan membuat anak takut kepada kita.

Bukan pula dengan memastikan mereka selalu mengikuti semua yang kita katakan.

Tetapi dengan membuat mereka merasa:

“Kalau aku punya masalah, aku bisa pulang dan bercerita.”

Rumah seharusnya menjadi tempat di mana anak tidak perlu takut menjadi dirinya sendiri.

Tempat ia boleh bercerita tentang keberhasilannya.

Tetapi juga tempat ia boleh menangis karena kegagalannya.

Tempat ia bisa mengatakan, “Aku takut.”

Tanpa langsung dijawab, “Jangan takut.”

Kadang cukup dengan:

“Ayah ada di sini.”

Mungkin kita perlu belajar diam

Menjadi orang tua ternyata bukan hanya tentang belajar bagaimana berbicara kepada anak.

Kita juga perlu belajar kapan harus diam.

Diam untuk mendengarkan.

Diam untuk memahami.

Diam agar anak punya ruang untuk menyelesaikan ceritanya.

Sebab tidak semua masalah anak harus kita selesaikan.

Ada masalah yang perlu mereka hadapi sendiri agar belajar.

Ada kesalahan yang perlu mereka rasakan akibatnya agar tumbuh menjadi lebih bertanggung jawab.

Dan ada cerita yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban apa pun.

Hanya membutuhkan telinga yang mau mendengar.

Mungkin suatu hari nanti, anak kita tidak akan mengingat semua nasihat yang pernah kita berikan.

Tetapi semoga mereka mengingat bagaimana rasanya ketika datang kepada kita dalam keadaan sedih, lalu kita membuka tangan dan berkata:

“Cerita saja. Ayah/Ibu dengarkan.”

Karena terkadang, mendidik anak bukan tentang seberapa banyak nasihat yang kita berikan, tetapi seberapa aman mereka merasa untuk bercerita kepada kita.

Dan mungkin, sebelum kita sibuk mengajarkan anak bagaimana menghadapi dunia, ada satu hal yang perlu kita pastikan terlebih dahulu:

Apakah mereka tahu bahwa rumah adalah tempat mereka selalu didengarkan?