Menjadi Guru Bukan Berarti Harus Selalu Benar: Sebuah Refleksi Pendidikan
Tulisan dari Imam Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi guru adalah tentang terus belajar, mengakui kesalahan, dan bertumbuh bersama murid.
Dulu saya berpikir bahwa menjadi guru berarti harus selalu punya jawaban. Ternyata, semakin lama berada di dunia pendidikan, saya justru semakin sering menemukan bahwa guru pun masih harus banyak belajar.
Ada masa ketika seorang guru merasa harus selalu terlihat tahu.
Ketika anak bertanya, kita berusaha menjawab. Ketika ada masalah, kita dituntut menemukan jalan keluar. Ketika anak melakukan kesalahan, kitalah yang mengingatkan. Ketika orang tua membutuhkan penjelasan, kita harus mampu memberikan jawaban.
Lama-lama tanpa sadar kita membangun sebuah anggapan: guru harus selalu benar.
Mungkin bukan hanya karena tuntutan dari orang lain. Bisa jadi, tuntutan itu justru datang dari diri kita sendiri.
Kita takut terlihat tidak tahu.
Takut dianggap tidak mampu.
Takut kehilangan wibawa.
Padahal, apakah seorang guru benar-benar kehilangan wibawa hanya karena mengatakan, “Bapak/Ibu belum tahu, nanti kita cari tahu bersama”?
Saya rasa tidak.
Justru mungkin di situlah anak belajar sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar jawaban.
Bahwa tidak tahu bukanlah sebuah kesalahan.
Guru juga manusia
Kita sering meminta anak untuk berani mengakui kesalahan.
"Kalau salah, minta maaf."
"Jangan mencari alasan."
"Belajarlah dari kesalahan."
Tetapi kemudian kita sendiri terkadang merasa berat ketika harus mengatakan, “Saya tadi salah.”
Mengapa?
Karena ada ego yang ikut bermain.
Kita ingin tetap terlihat sebagai orang yang paling tahu di depan anak-anak. Kita ingin perkataan kita dihormati. Kita ingin posisi sebagai guru membuat setiap ucapan kita dianggap benar.
Padahal wibawa seorang guru tidak lahir karena ia tidak pernah salah.
Wibawa lahir ketika seorang guru mampu bertanggung jawab atas kesalahannya.
Saya membayangkan seorang guru yang suatu hari mengatakan kepada muridnya,
"Tadi Bapak salah. Seharusnya Bapak tidak berbicara seperti itu kepada kamu. Bapak minta maaf."
Kalimat itu mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan.
Tetapi bagi seorang anak, bisa jadi itu adalah pelajaran yang akan diingat jauh lebih lama daripada materi yang diajarkan hari itu.
Ia belajar bahwa meminta maaf bukan tanda kelemahan.
Ia belajar bahwa orang dewasa pun bisa salah.
Dan yang paling penting, ia belajar bahwa orang yang memiliki otoritas tetap harus memiliki kerendahan hati.
Kadang murid mengajarkan sesuatu kepada gurunya
Ada hal yang menarik dalam dunia pendidikan.
Kita datang ke sekolah dengan niat mendidik anak-anak. Tetapi setelah bertahun-tahun, kita mungkin baru menyadari bahwa sebenarnya kita juga sedang dididik oleh mereka.
Anak yang membuat kita belajar sabar.
Anak yang membuat kita belajar mendengarkan.
Anak yang memaksa kita mencari cara baru ketika cara lama ternyata tidak berhasil.
Bahkan anak yang paling sering membuat kita kesal, terkadang justru menjadi guru terbaik bagi kita tentang bagaimana memahami manusia.
Mereka mengingatkan bahwa setiap anak datang dengan cerita yang berbeda.
Tidak semua anak bisa diperlakukan dengan cara yang sama.
Dan tidak semua masalah selesai hanya dengan nasihat.
Ada kalanya anak tidak membutuhkan ceramah panjang.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau duduk di sampingnya dan berkata,
"Ceritakan kepada Bapak, sebenarnya kamu sedang kenapa?"
Di titik seperti itu, guru kembali belajar.
Belajar bahwa mendidik bukan hanya soal berbicara.
Kadang, mendidik justru dimulai ketika kita mau diam dan mendengarkan.
Kita tidak harus sempurna
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk ingin menjadi guru yang sempurna.
Padahal anak-anak tidak membutuhkan guru yang sempurna.
Mereka membutuhkan guru yang hadir.
Guru yang mau belajar.
Guru yang berani mengatakan tidak tahu.
Guru yang mampu mengakui kesalahan.
Guru yang ketika marah, mau mengevaluasi dirinya sendiri.
Guru yang ketika salah mengambil keputusan, tidak sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Sebab pada akhirnya, anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang kita katakan.
Mereka belajar dari bagaimana kita bersikap.
Kita mengajarkan kejujuran dengan cara kita mengakui kesalahan.
Kita mengajarkan tanggung jawab dengan cara kita memperbaiki kesalahan.
Kita mengajarkan adab dengan cara kita memperlakukan orang lain ketika sedang berbeda pendapat.
Dan kita mengajarkan kerendahan hati ketika kita berani berkata:
“Bapak/Ibu juga masih belajar.”
Karena guru juga sedang bertumbuh
Mungkin inilah salah satu hal yang membuat profesi guru begitu indah.
Setiap tahun kita bertemu anak-anak yang berbeda.
Mereka tumbuh.
Dan tanpa kita sadari, kita pun ikut tumbuh bersama mereka.
Guru yang tiga tahun lalu mudah marah, hari ini mungkin sudah lebih mampu menahan diri.
Guru yang dahulu merasa harus selalu memberikan jawaban, hari ini mulai berani mengatakan, “Mari kita cari tahu bersama.”
Guru yang dahulu menganggap anak yang sulit diatur sebagai masalah, mungkin hari ini mulai bertanya:
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada anak ini?"
Perubahan-perubahan kecil itu mungkin tidak pernah masuk ke dalam rapor.
Tidak ada penghargaan untuk itu.
Tidak ada tepuk tangan.
Tetapi justru di sanalah proses menjadi guru berlangsung.
Bukan hanya ketika kita berhasil membuat anak mendapatkan nilai tinggi.
Tetapi ketika kita sendiri menjadi manusia yang sedikit lebih baik dibandingkan diri kita kemarin.
Pada akhirnya, menjadi guru bukan tentang memiliki semua jawaban.
Bukan tentang tidak pernah salah.
Bukan pula tentang selalu terlihat kuat di depan anak-anak.
Menjadi guru adalah tentang bersedia terus belajar, bahkan dari murid yang kita ajar.
Tentang berani mengakui ketika kita keliru.
Tentang tetap menjaga adab ketika sedang lelah.
Tentang memahami bahwa setiap anak yang datang ke hadapan kita bukan sekadar peserta didik, tetapi manusia yang sedang bertumbuh dan membutuhkan teladan.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika anak-anak itu sudah dewasa, mereka tidak akan mengingat semua pelajaran yang pernah kita sampaikan.
Mereka mungkin lupa rumus.
Lupa tanggal.
Lupa sebagian besar tugas yang pernah kita berikan.
Tetapi semoga mereka masih mengingat satu hal:
Pernah ada seorang guru yang tidak selalu benar, tetapi mau mengakui ketika salah.
Pernah ada seorang guru yang tidak sempurna, tetapi selalu berusaha menjadi lebih baik.
Dan semoga, dari situlah mereka belajar bahwa menjadi manusia yang baik bukan berarti tidak pernah salah.

