Konten dari Pengguna

Rasa Ingin Tahu Anak: Jangan Matikan Hanya karena Kita Lelah Menjawab

Sumber : AI Generated
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : AI Generated

Rasa Ingin Tahu Anak tumbuh melalui pertanyaan. Tugas orang tua bukan selalu memberikan jawaban, tetapi menjaga agar anak tetap berani bertanya.

Di balik pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, ada rasa ingin tahu anak yang sedang tumbuh.

“Ayah, kenapa langit warnanya biru?”

Belum selesai menjawab, datang lagi pertanyaan berikutnya.

“Kenapa bulan mengikuti kita?”

“Kenapa ikan bisa hidup di air?”

“Kenapa kita harus sekolah?”

Lagi dan lagi.

Sampai suatu ketika, setelah seharian bekerja dan tubuh sudah lelah, kita mungkin menjawab,

“Sudah, jangan banyak tanya. Ayah capek.”

Kalimat itu mungkin sederhana. Kita mengatakannya karena lelah, bukan karena ingin menyakiti.

Tapi pernahkah kita berpikir, apa yang sebenarnya sedang tumbuh di balik pertanyaan-pertanyaan itu?

Mungkin bukan sekadar anak yang cerewet.

Mungkin rasa ingin tahunya sedang tumbuh.

Tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban

Anak melihat dunia dengan cara yang berbeda dari kita. Hal-hal yang bagi orang dewasa biasa, bagi mereka bisa menjadi sesuatu yang luar biasa.

Mengapa hujan turun?

Mengapa daun berwarna hijau?

Mengapa kita harus berbuat baik?

Mereka sedang mencoba memahami dunia.

Sebagai orang tua, kita memang tidak selalu punya waktu untuk menjawab. Kita sedang bekerja, memasak, berkendara, atau mungkin hanya ingin beristirahat. Dan itu manusiawi. Kita tidak harus selalu tahu semua jawaban. Ketika tidak tahu, kita bisa mengatakan,

“Ayah belum tahu. Yuk, kita cari tahu bersama.”

Sederhana, tetapi anak belajar bahwa tidak tahu bukan sesuatu yang memalukan. Kita boleh mencari, membaca, bertanya, dan belajar bersama.

Al-Qur'an mengajarkan indahnya percakapan dengan anak

Menariknya, Al-Qur'an banyak mengabadikan percakapan antara orang tua dan anak.

Luqman berbicara kepada putranya dengan panggilan penuh kasih, “Ya bunayya”—wahai anakku. Ia menyampaikan tentang tauhid, salat, kesabaran, dan akhlak.

Nabi Ibrahim juga berdialog dengan Ismail ketika menyampaikan perintah Allah. Bahkan setelah menjelaskan mimpinya, Ibrahim bertanya tentang pendapat putranya.

Nabi Ya'qub mendengarkan cerita Yusuf tentang mimpinya, kemudian memberikan nasihat.

Bahkan dalam kisah Nabi Nuh, kita melihat bagaimana seorang ayah tetap memanggil anaknya dengan penuh kasih ketika mengajaknya menyelamatkan diri.

Dari kisah-kisah itu, kita belajar bahwa mendidik anak tidak hanya tentang apa yang harus kita katakan kepada mereka, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun percakapan dengan mereka.

Jangan buru-buru menyebutnya cerewet

Anak yang banyak bertanya kadang kita sebut cerewet. Padahal bisa jadi ia sedang menunjukkan rasa ingin tahu anak yang besar. Pertanyaan-pertanyaannya mungkin menjadi jalan bagi kita untuk mengenali apa yang menarik perhatiannya.

Ada yang terus bertanya tentang hewan.

Ada yang penasaran dengan angka.

Ada yang ingin tahu bagaimana sesuatu bekerja.

Ada pula yang lebih banyak bertanya tentang perasaan dan kehidupan.

Kita tidak perlu buru-buru mengatakan itu sebagai bakat. Cukup perhatikan dan beri ruang. Karena setiap anak memiliki fitrah dan potensi yang berbeda.

Sampai kapan mereka akan bertanya?

Anak-anak tidak selamanya kecil. Akan datang masa ketika mereka tumbuh menjadi remaja. Mereka mulai memiliki dunia sendiri dan mungkin tidak lagi bertanya kepada kita sesering dulu.

Mungkin saat itu kita justru akan merindukan suara kecil yang dahulu membuat kita lelah.

“Ayah, kenapa...?”

Maka selama pertanyaan itu masih datang, mungkin kita perlu belajar sedikit lebih sabar. Tidak harus selalu punya jawaban. Tidak harus selalu tahu. Kadang cukup dengan berkata:

“Pertanyaannya bagus. Ayah belum tahu. Kita cari tahu sama-sama, ya.”

Karena bisa jadi, pertanyaan yang hari ini membuat kita lelah adalah tanda bahwa rasa ingin tahu anak sedang tumbuh.

Jangan sampai karena kita terlalu lelah menjawab, kita justru membuat mereka lelah untuk bertanya. Sebab anak yang berhenti bertanya belum tentu sudah menemukan semua jawaban. Bisa jadi, ia hanya sudah tidak yakin bahwa ada yang mau mendengarkan. Dan mungkin, salah satu bentuk dakwah pertama seorang ayah kepada anaknya bukanlah ceramah panjang.

Melainkan percakapan sederhana yang membuat anak merasa dicintai, dihargai, dan didengarkan.