Sudahkah Mengenal Potensi Anak, atau Hanya Mengenal Harapan Kita tentang Mereka?
Tulisan dari Imam Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengenali potensi anak sesuai fitrahnya adalah bagian dari tugas kita sebagai orang tua dan guru.
Sayangnya, potensi anak sering kali baru kita lihat ketika mereka sudah menunjukkan hasil. Ada anak yang begitu senang bermain dengan angka. Ada yang tangannya tidak pernah berhenti menggambar. Ada yang suka bertanya tentang banyak hal. Ada yang pendiam, tetapi ketika diberi kesempatan berbicara tentang sesuatu yang disukainya, tiba-tiba ia bisa bercerita panjang.
Setiap anak seperti membawa dunianya sendiri. Sayangnya, terkadang kita terlalu cepat memberi label. "Anak ini kurang pintar." "Dia pemalu." "Dia tidak bisa fokus." "Mengapa dia tidak seperti kakaknya?"
Sebagai orang tua dan guru, tentu kita punya harapan. Kita ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, mandiri, berilmu, dan memiliki masa depan yang baik. Namun, mengenali potensi anak seharusnya menjadi bagian dari proses tersebut.
Mungkin, kita hanya belum menemukan cara untuk melihat potensi yang ada dalam dirinya.
Fitrah yang perlu ditemukan
Saya percaya bahwa Allah tidak menciptakan anak tanpa bekal. Ada fitrah yang Allah titipkan dalam diri setiap anak. Potensi anak bisa muncul dalam bentuk yang berbeda-beda, dan terkadang baru terlihat ketika mereka mendapatkan ruang untuk mencoba.
Tugas kita bukan membuat semua anak menjadi sama. Tugas kita adalah membantu mereka menemukan jalan terbaik untuk tumbuh.
Mungkin ada anak yang tidak menonjol dalam pelajaran, tetapi sangat peduli kepada temannya.
Mungkin ada anak yang tidak pernah menjadi juara, tetapi selalu berusaha menyelesaikan sesuatu sampai tuntas.
Mungkin ada anak yang tidak banyak bicara di kelas, tetapi memiliki imajinasi yang luar biasa.
Apakah mereka tidak hebat? Atau jangan-jangan kita yang terlalu sempit dalam mendefinisikan kata “hebat”?
Berhenti membandingkan
Setiap anak memiliki perjalanan yang berbeda. Karena itu, daripada terus membandingkan, mungkin lebih baik kita memberi kesempatan kepada potensi anak untuk tumbuh sesuai dengan fitrahnya.
Salah satu hal yang sering membuat anak kehilangan kepercayaan dirinya adalah perbandingan. "Lihat temanmu, dia sudah bisa." "Kakakmu dulu tidak seperti kamu." "Masa begitu saja tidak bisa?"
Mungkin bagi kita kalimat itu sederhana. Tetapi bagi anak, bisa jadi kalimat itu tinggal cukup lama di dalam pikirannya.
Anak akhirnya tidak lagi sibuk mengenali dirinya. Ia sibuk membuktikan bahwa dirinya tidak kalah dari orang lain.
Padahal setiap anak punya waktu tumbuh yang berbeda.
Seperti tanaman, tidak semua bunga mekar pada waktu yang sama.
Ada yang cepat tumbuh. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama.
Ada yang membutuhkan lebih banyak cahaya. Ada yang justru tumbuh baik setelah mendapatkan perhatian yang tepat.
Anak pun demikian. Jangan sampai karena kita ingin melihat bunga itu segera mekar, kita justru terlalu sering menarik kelopaknya. Lalu, sudahkah kita benar-benar mengenal mereka?
Mungkin pertanyaan ini layak kita ajukan kepada diri sendiri.
Sebagai orang tua, apakah kita benar-benar mengenal apa yang membuat anak kita bersemangat?
Sebagai guru, apakah kita sudah melihat lebih jauh dari sekadar nilai dan perilaku di kelas?
Apakah kita tahu apa yang membuat mereka percaya diri?
Apa yang membuat mereka takut?
Apa yang sebenarnya mereka sukai?
Dan apa potensi yang selama ini mungkin belum mendapatkan kesempatan untuk tumbuh?
Karena bisa jadi, anak tidak membutuhkan lebih banyak tuntutan.
Mereka membutuhkan orang dewasa yang mau berhenti sejenak, memperhatikan, lalu berkata: "Bapak/Ibu ingin mengenal kamu lebih jauh."
Barangkali, pendidikan yang baik bukan tentang membuat semua anak berjalan di jalan yang sama.
Tetapi tentang menemani mereka menemukan jalan yang Allah titipkan untuk masing-masing.
Kita tidak pernah tahu akan menjadi apa seorang anak kelak.
Anak yang hari ini dianggap biasa saja mungkin suatu hari menjadi seseorang yang sangat berarti bagi banyak orang.
Maka jangan terlalu cepat menyimpulkan siapa mereka.
Kenali. Dampingi. Beri ruang. Arahkan.
Sebab setiap anak membawa potensi.
Dan tugas kita bukan memaksanya menjadi seperti yang kita inginkan.
Tugas kita adalah membantu mereka tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya, tanpa kehilangan fitrah yang Allah titipkan.

