Konten dari Pengguna

Membaca Rona Muharram dan Sura: Hijrah Kebudayaan di Tengah Polarisasi Bangsa

Imam Mashudi Latif

Imam Mashudi Latif

Dosen Universitas Darul 'Ulum Jombang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Imam Mashudi Latif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Tahun Baru Islam. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tahun Baru Islam. Foto: Shutterstock

Setiap kali lonceng pergantian tahun berdentang, ingatan kolektif kita kerap kali ditarik ke dalam sekat-sekat formalisme ritual yang sunyi dari pemaknaan substantif. Namun, ketika kalender Hijriyah dan penanggalan Jawa berpapasan pada satu titik mula—yakni pertemuan magis antara 1 Muharram dan 1 Sura—seharusnya ada getaran kultural yang membangkitkan kesadaran kita. Pertemuan ini bukanlah kebetulan astronomis belaka, melainkan sebuah maklumat historis yang menegaskan bahwa Islam dan kearifan lokal Nusantara sejatinya adalah sepasang kekasih peradaban yang tak patut dipisahkan.

Sayangnya, di ruang publik kontemporer yang kian bising, harmoni itu perlahan menguap. Kita sedang menyaksikan tontonan yang mencemaskan: agama kerap kali ditarik secara paksa dari khittah-nya sebagai mata air kebijaksanaan dan dijatuhkan menjadi sekadar instrumen pembelahan sosial. Jagat digital kita riuh oleh penghakiman massal, di mana perbedaan afiliasi keagamaan, variasi madzhab, hingga praktik tradisi lokal dengan begitu murahnya dicap sebagai penyimpangan. Polarisasi identitas ini melahirkan suasana kebatinan bangsa yang gampang tersulut amarah, saling curiga, dan miskin empati.

Strategi Kebudayaan Sultan Agung

Guna memulihkan disorientasi sosial ini, kita perlu mengingat sejarah abad ke-17, saat Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram mengambil sebuah langkah kebudayaan yang luar biasa visioner. Sang Sultan tidak memilih jalur asimilasi paksa yang destruktif, tidak pula memberangus tradisi Saka yang telah mendarah daging demi kemurnian kalender Hijriyah. Sebaliknya, ia melakukan perkawinan sistemik yang jenius: memadukan perhitungan bulan (qamariyah) berbasis Islam dengan struktur sosial dan spiritualitas Jawa.

Langkah monumentalnya melahirkan Kalender Jawa-Islam. Ini bukan sekadar urusan administratif penataan tanggal, melainkan sebuah bentuk cultural engineering (rekayasa kebudayaan) yang sangat matang. Sultan Agung mengajarkan satu diktum berharga: dakwah tidak harus hadir sebagai palu godam yang menghancurkan struktur lokal. Islam mampu tumbuh subur, rindang, dan berbuah lebat tanpa harus mencabut akar pohon kebudayaan tempat ia bersemayam. Pola adaptasi sinergis inilah yang melahirkan wajah Islam Nusantara yang ramah, teduh, dan kaya akan dimensi sufistik.

Melihat realitas hari ini, warisan kedewasaan berpikir tersebut seolah mengalami penyusutan. Kita hari ini terjebak di antara dua kutub ekstrem yang sama-sama membahayakan masa depan bangsa. Di satu kutub, tumbuh kelompok puritan-formalistik yang memandang segala bentuk warisan budaya lokal—mulai dari sedekah bumi, tahlilan, slametan, hingga kirab budaya—dengan kacamata penuh kecurigaan, seolah-olah tradisi tersebut adalah noda yang mengancam kemurnian tauhid. Mereka luput membaca ada kedalaman moral, perekat sosial, serta doa-doa transendental yang dibalut secara indah dalam estetika lokal.

Sementara di kutub seberang, muncul gelombang kebudayaan sekuler yang menguras habis nilai-nilai religius dari ritus tradisi, menjadikannya sebatas komoditas pariwisata atau tontonan eksotik tanpa ruh etik. Akibatnya, masyarakat kita mengalami kedangkalan ganda: beragama secara kering kultural, atau berbudaya secara hampa spiritual.

Reorientasi Makna Hijrah

Pada titik krusial inilah, momentum Tahun Baru Hijriyah wajib ditarik keluar dari jebakan seremonial keliling obor atau sekadar pengajian luring yang pasif. Kita harus mengembalikan makna "Hijrah" ke dalam arti asalnya yang revolusioner: sebuah perpindahan total menuju tatanan hidup yang lebih mulia. Fenomena yang marak terjadi belakangan ini menunjukkan adanya penyempitan makna hijrah yang sangat akut. Hijrah kerap kali direduksi sebatas transformasi kosmetik-individual—berubahnya cara berpakaian, adopsi simbol-simbol visual keagamaan Timur Tengah, atau perubahan nomenklatur linguistik semata.

Perubahan personal tentu sah dan baik, namun bangsa yang sedang didera fragmentasi sosial ini membutuhkan lompatan yang jauh lebih mendasar dan berdampak luas: sebuah hijrah kebudayaan. Hijrah kebudayaan menuntut kita semua untuk berhijrah dari mentalitas yang gemar menghakimi menuju tradisi yang mengedepankan dialog ilmiah. Ia menuntut perpindahan dari fanatisme kelompok yang sempit menuju kedewasaan berbangsa yang inklusif. Kita memerlukan cara pandang keagamaan yang akomodatif terhadap kebudayaan lokal, sepanjang tradisi tersebut tidak menabrak batas-batas fundamental ketauhidan dan nilai universal kemanusiaan.

Sangat penting bagi kita untuk menyerap kembali metodologi dakwah Wali Songo. Para penyebar Islam di tanah Jawa ini merajut keyakinan baru melalui media wayang, gending, tembang, serta tata bahasa setempat. Mereka tidak memulai misinya dengan maklumat penghancuran kebudayaan lokal secara frontal, melainkan melakukan infiltrasi dan transformasi nilai-nilai tauhid secara perlahan, halus, dan penuh kearifan. Hasilnya, Islam didekap erat oleh masyarakat Nusantara bukan karena rasa takut atau paksaan identitas, melainkan karena ia dirasakan sebagai jawaban atas dahaga spiritual dan pembawa kemaslahatan sosial nyata.

Saat ini, tatkala Indonesia terus-menerus diuji oleh intoleransi digital, polarisasi politik sisa pemilu, dan menguatnya fabrikasi kebencian di media sosial, pendekatan dakwah yang kultural dan merangkul menjadi sebuah urgensi mutlak. Narasi keagamaan yang ramah budaya harus diposisikan sebagai energi pemersatu, bukan alat pemisah.

Ketika Muharram bersua dengan Sura, alam semesta sebenarnya sedang mengirimkan pesan sunyi namun tajam kepada kita semua. Peradaban Indonesia dirajut dari benang-benang keberagaman, dan kebudayaan adalah tenunan utamanya. Tugas generasi hari ini bukan memutus benang-benang tersebut demi ego kelompok masing-masing, melainkan merawat warisan kebijaksanaan leluhur agar tetap kokoh menjadi jembatan sosial di tengah zaman yang kian gaduh ini. Sebab pada akhirnya, kita membutuhkan lebih banyak jembatan yang menghubungkan hati antar-anak bangsa, bukan tembok keangkuhan yang memisahkan kita.