Menjadi Modern Tanpa Kehilangan Arah: Menjaga Nurani dengan Pendidikan Islam

Dosen Universitas Darul 'Ulum Jombang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Imam Mashudi Latif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah gemuruh revolusi digital, manusia modern sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Teknologi berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kecerdasan buatan mampu menjawab pertanyaan dalam hitungan detik, media sosial menghubungkan miliaran manusia tanpa batas geografis, dan berbagai aktivitas kehidupan kini dapat dilakukan hanya melalui sentuhan jari.
Namun di balik kemajuan yang memukau itu, muncul pertanyaan yang semakin mendesak: apakah manusia semakin bijaksana seiring kemajuan teknologi yang dimilikinya?
Realitas sosial menunjukkan gejala yang tidak selalu menggembirakan. Kita menyaksikan meningkatnya polarisasi di ruang digital, penyebaran hoaks yang masif, budaya instan yang menggerus proses berpikir mendalam, hingga krisis empati yang kian terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ironisnya, di saat akses terhadap pengetahuan semakin terbuka, manusia justru sering kehilangan kemampuan untuk menemukan makna.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar abad ke-21 bukanlah kekurangan informasi, melainkan kekurangan orientasi. Kita memiliki banyak data, tetapi sering kehilangan kebijaksanaan. Kita mampu menciptakan teknologi yang semakin canggih, tetapi belum tentu mampu mengendalikan dampaknya terhadap kehidupan manusia.
Dalam konteks inilah pendidikan Islam menemukan relevansinya yang sangat penting.
Pendidikan Islam tidak cukup hanya menjadi sarana transfer ilmu pengetahuan atau penguasaan keterampilan teknis. Lebih dari itu, ia harus menjadi ruang pembentukan manusia yang utuh: cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara spiritual. Pendidikan Islam dituntut mampu melahirkan generasi yang tidak hanya siap menghadapi masa depan, tetapi juga mampu menjaga arah di tengah perubahan zaman yang sangat cepat.
Kesadaran tersebut tampak dalam kegiatan studi banding dan penguatan kerja sama antara Fakultas Agama Islam Universitas Darul 'Ulum (FAI Undar) Jombang dan Sekolah Tinggi Islam Kendal (STIK) yang berlangsung pada Mei hingga Juni 2026. Pertemuan yang berlangsung dalam suasana sederhana namun penuh kehangatan itu sesungguhnya menyimpan makna yang jauh melampaui agenda seremonial.
Di ruang Fakultas Agama Islam yang oleh Dekan FAI Undar, Dr. H. Muhtadi, S.Ag., M.H.I., disebut sebagai ruang kecil yang telah melahirkan banyak doktor, tersirat pesan bahwa kemajuan tidak selalu lahir dari kemegahan fisik. Justru dari ruang-ruang sederhana yang dipenuhi tradisi keilmuan dan ketulusan pengabdian, lahir pemikiran-pemikiran yang mampu memberi arah bagi masyarakat.
Beliau menyampaikan pesan, "Barang siapa bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah petunjuknya, maka ia tidak bertambah dekat kepada Allah, justru semakin jauh." Pesan yang disampaikan terasa sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini.
Ungkapan tersebut seakan menjadi kritik terhadap peradaban modern yang sering mengukur kemajuan hanya dari aspek teknologis dan material. Padahal, ilmu yang tidak dibimbing oleh nilai dan moralitas berpotensi melahirkan berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan, eksploitasi, bahkan dehumanisasi.
Era Society 5.0 yang diperkenalkan Jepang sebenarnya menawarkan konsep yang menarik. Berbeda dengan Revolusi Industri 4.0 yang berfokus pada teknologi, Society 5.0 menempatkan manusia sebagai pusat peradaban. Teknologi dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan sebaliknya.
Namun, konsep yang baik tersebut hanya akan menjadi slogan apabila tidak disertai dengan pembangunan karakter dan kesadaran moral.
Di sinilah pendidikan Islam memiliki peran strategis. Kampus Islam harus mampu menjadi jembatan antara kemajuan teknologi dan kebutuhan spiritual manusia. Mahasiswa tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan kecerdasan buatan, tetapi juga diajak memahami batas-batas etis penggunaannya. Mereka tidak cukup hanya menguasai teknologi digital, tetapi juga dibekali kemampuan untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Tantangan terbesar generasi muda saat ini bukanlah keterbatasan akses informasi, melainkan melimpahnya distraksi. Banyak anak muda menghabiskan berjam-jam untuk menggulir layar ponsel tanpa tujuan yang jelas. Mereka terhubung dengan dunia, tetapi sering kehilangan kesempatan untuk berdialog dengan dirinya sendiri.
Akibatnya, ruang kontemplasi semakin menyempit. Kedalaman berpikir tergeser oleh kecepatan merespons. Ketenangan batin dikalahkan oleh notifikasi yang terus berbunyi.
Dalam situasi seperti ini, nasihat agar lebih sering membuka Al-Qur'an daripada membuka telepon genggam bukan sekadar seruan religius, melainkan kritik sosial yang sangat relevan. Pesan tersebut mengingatkan bahwa manusia memerlukan pusat orientasi yang mampu menuntunnya di tengah derasnya arus informasi.
Kemajuan teknologi tidak akan pernah mampu menggantikan fungsi nurani. Kecerdasan buatan dapat membantu manusia berpikir lebih cepat, tetapi tidak dapat menggantikan kebijaksanaan. Algoritma mampu membaca pola perilaku manusia, tetapi tidak mampu mengajarkan makna kejujuran, empati, dan kasih sayang.
Karena itu, pendidikan Islam harus terus memperkuat perannya sebagai penjaga keseimbangan. Ia harus mampu melahirkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan modern tanpa tercerabut dari akar spiritualitasnya. Generasi yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas moralnya.
Kolaborasi antara Undar Jombang dan STIK Kendal menjadi contoh penting bahwa tantangan besar zaman ini tidak mungkin dihadapi secara sendiri-sendiri. Dunia pendidikan membutuhkan sinergi, pertukaran gagasan, dan penguatan jaringan keilmuan agar mampu menghadirkan model pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Kunjungan yang oleh perwakilan STIK Kendal, H. Mafakhir, M.Pd., disebut sebagai upaya "mencari berkah" mengandung pesan yang menarik. Di tengah budaya modern yang sering hanya mengukur segala sesuatu dengan angka dan capaian material, tradisi mencari berkah mengingatkan bahwa pendidikan sejati tidak hanya berbicara tentang transfer pengetahuan, tetapi juga pewarisan nilai, keteladanan, dan kebijaksanaan.
Pada akhirnya, masa depan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi paling canggih. Sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban besar runtuh bukan karena kekurangan ilmu, melainkan karena kehilangan moralitas.
Karena itu, tugas pendidikan Islam di era Society 5.0 bukanlah menolak modernitas, melainkan mengarahkan modernitas. Bukan menghindari teknologi, tetapi memastikan teknologi tetap berada dalam kendali nilai-nilai kemanusiaan.
Ketika dunia semakin bising oleh mesin, algoritma, dan kecerdasan buatan, manusia tetap membutuhkan satu hal yang tidak dapat diproduksi oleh teknologi apa pun, yaitu nurani. Menjaga nurani itulah pekerjaan besar pendidikan Islam hari ini.
