Konten dari Pengguna

Religius di Media Sosial, Berakhlak di Dunia Nyata

Imam Mashudi Latif

Imam Mashudi Latif

Dosen Universitas Darul 'Ulum Jombang

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Imam Mashudi Latif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berakhlak di dunia maya dan nyata (foto: shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Berakhlak di dunia maya dan nyata (foto: shutterstock)

Di era ketika kesalehan mudah dipamerkan melalui layar, tantangan terbesar generasi muda bukanlah terlihat religius, melainkan membuktikan bahwa agama benar-benar mengubah cara mereka memperlakukan sesama.

Ada pemandangan yang semakin akrab di media sosial. Anak muda membagikan kutipan ayat Al-Qur’an, mengunggah video ceramah, menulis nasihat tentang kesabaran, dan menyebarkan pesan tentang pentingnya menjaga akhlak. Linimasa dipenuhi kata-kata bijak tentang kejujuran, kesederhanaan, dan kemuliaan hati.

Namun, di ruang yang sama, kita juga menjumpai caci maki, perundungan, penyebaran fitnah, penghinaan terhadap orang yang berbeda pendapat, hingga kebiasaan menghakimi kehidupan orang lain. Seseorang dapat mengutip dalil tentang kasih sayang pada pagi hari, lalu merendahkan orang lain pada sore harinya.

Di sinilah sebuah pertanyaan layak diajukan: apakah kita sedang menyaksikan tumbuhnya generasi yang semakin religius, atau justru generasi yang semakin mahir menampilkan citra religius?

Pertanyaan ini bukan tuduhan terhadap anak muda. Banyak anak muda yang tulus beragama, aktif dalam kegiatan sosial, membela kelompok rentan, dan menjadikan ajaran Islam sebagai sumber inspirasi untuk memperbaiki kehidupan. Namun, di tengah budaya digital yang mengubah hampir segala sesuatu menjadi tontonan, hubungan antara agama, citra diri, dan perilaku perlu diperiksa kembali.

Sebab, agama bukan sekadar sesuatu yang layak dipertontonkan, melainkan nilai yang seharusnya membentuk tindakan.

Ketika Kesalehan Menjadi Konten

Media sosial telah membuka peluang besar bagi anak muda untuk belajar agama. Ceramah yang dahulu hanya dapat diakses di masjid atau majelis taklim kini tersedia melalui video pendek. Kajian keislaman dapat diikuti dari mana saja. Pesan tentang kebaikan dapat menyebar melampaui batas geografis dan kelompok sosial.

Perkembangan ini patut disambut positif. Teknologi dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan moral, dan penguatan solidaritas. Persoalannya bukan pada penggunaan media sosial untuk menyebarkan pesan agama, melainkan pada kecenderungan menjadikan penampilan sebagai ukuran utama keberagamaan.

Dalam budaya digital, sesuatu yang terlihat sering kali lebih mudah memperoleh perhatian daripada sesuatu yang dikerjakan secara diam-diam. Unggahan tentang sedekah dapat mengundang banyak respons, sedangkan membantu tetangga tanpa diketahui siapa pun mungkin tidak menghasilkan satu tanda suka pun. Nasihat tentang kejujuran dapat viral, sementara kejujuran dalam urusan uang, tugas, dan tanggung jawab tidak selalu mendapat sorotan.

Akibatnya, muncul risiko ketika agama diperlakukan sebagai bagian dari pencitraan diri. Kesalehan seolah-olah harus dibuktikan melalui unggahan, jumlah pengikut, atau kemampuan menyampaikan nasihat yang menyentuh.

Padahal, mengunggah pesan agama tidak otomatis menunjukkan kemunafikan, sebagaimana menyembunyikan kebaikan tidak otomatis menjamin ketulusan. Niat seseorang tidak dapat dinilai hanya dari tampilan akun media sosialnya. Yang perlu dikritik ialah ketika citra religius tidak diikuti kesediaan untuk menjalankan nilai yang disampaikan.

Agama akhirnya berpotensi menjadi identitas yang dipamerkan, bukan kompas yang mengarahkan perilaku.

Islam Tidak Berhenti pada Simbol

Islam memberikan perhatian besar terhadap hubungan antara keyakinan dan perbuatan. Iman bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi memiliki konsekuensi moral dalam kehidupan sehari-hari.

Al-Qur’an memberikan kritik tajam terhadap perilaku yang memisahkan perkataan dari tindakan. Dalam QS Ash-Shaff ayat 2–3, Allah mengingatkan orang-orang beriman agar tidak mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan. Ayat ini menegaskan pentingnya konsistensi antara ucapan dan perbuatan.

Pesan tersebut relevan bagi siapa pun, termasuk generasi muda yang hidup di tengah budaya komunikasi serba cepat. Mudah sekali menulis tentang keadilan, tetapi tidak mudah bersikap adil ketika kepentingan pribadi dipertaruhkan. Mudah menyerukan persaudaraan, tetapi jauh lebih sulit menghormati orang yang berbeda pilihan politik, organisasi, mazhab, atau pandangan keagamaan.

Demikian pula, berbicara tentang kejujuran tidaklah cukup apabila seseorang masih terbiasa menyontek, memanipulasi informasi, mengambil hak orang lain, atau menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.

Dalam perspektif Islam, akhlak bukan pelengkap setelah seseorang menguasai pengetahuan agama. Akhlak merupakan bagian penting dari perwujudan keberagamaan itu sendiri.

Nabi Muhammad Saw. bersabda bahwa orang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang dikenal luas.

Jika prinsip tersebut diterapkan dalam kehidupan digital, pertanyaannya menjadi sederhana: apakah komentar kita membuat orang lain merasa aman atau justru terluka? Apakah unggahan kita memperjelas persoalan atau menyebarkan kebencian? Apakah pengetahuan agama membuat kita semakin rendah hati atau semakin mudah merendahkan orang lain?

Lisan hari ini tidak hanya berbentuk ucapan. Jari yang mengetik komentar, tombol yang menyebarkan kabar, dan akun yang mengunggah fitnah juga dapat menjadi sarana menyakiti sesama.

Karena itu, ruang digital bukan wilayah bebas nilai. Etika tetap berlaku meskipun seseorang bersembunyi di balik nama samaran, layar telepon, atau dukungan kelompoknya.

Jangan Mudah Menghakimi Generasi Muda

Kritik terhadap kesenjangan antara religiusitas dan akhlak perlu disampaikan secara proporsional. Tidak adil bila seluruh generasi muda dianggap dangkal hanya karena sebagian perilaku di media sosial memperlihatkan kontradiksi.

Generasi muda hidup dalam lingkungan yang penuh tekanan. Mereka menghadapi tuntutan untuk berprestasi, membangun karier, menjaga penampilan, mengikuti tren, dan memperoleh pengakuan. Pada saat yang sama, mereka berhadapan dengan arus informasi yang deras, perdebatan identitas, dan budaya perbandingan yang membuat kehidupan orang lain selalu tampak lebih sempurna.

Media sosial juga memiliki mekanisme yang dapat membuat konten provokatif lebih menonjol. Perdebatan keras sering menarik perhatian, sedangkan percakapan yang tenang dan bernuansa tidak selalu mendapatkan jangkauan serupa.

Dalam keadaan seperti itu, kemarahan mudah memperoleh panggung, sementara kebijaksanaan membutuhkan kesabaran. Orang yang paling keras berbicara dapat terlihat paling berani, meskipun belum tentu paling memahami persoalan.

Namun, memahami tantangan tersebut bukan berarti membenarkan perilaku buruk. Justru di sinilah pendidikan agama perlu mengambil peran lebih besar: membantu anak muda membangun kemampuan mengendalikan diri, memeriksa informasi, menghormati perbedaan, dan mempertanggungjawabkan tindakannya.

Kita tidak membutuhkan generasi yang sekadar pandai mengutip dalil untuk memenangkan perdebatan. Kita membutuhkan generasi yang mampu memahami ajaran agama sekaligus menerjemahkannya menjadi kejujuran, kepedulian, kedisiplinan, dan keberanian membela kebenaran.

Pendidikan agama yang berhasil bukan hanya menghasilkan orang yang mampu menjelaskan mana yang benar dan mana yang salah, melainkan juga orang yang bersedia melakukan yang benar ketika tidak ada orang yang melihat.

Mengukur Kesalehan dari Cara Memperlakukan Sesama

Lalu, bagaimana mengembalikan hubungan antara religiusitas dan akhlak?

Pertama, keluarga perlu menjadikan keteladanan sebagai fondasi pendidikan agama. Anak muda sulit memahami makna kejujuran jika mereka menyaksikan orang dewasa mengajarkan nilai itu sambil membenarkan kebohongan demi kepentingan sendiri. Nasihat akan kehilangan kekuatannya ketika bertentangan dengan perilaku pemberinya.

Kedua, lembaga pendidikan dan pesantren perlu mengintegrasikan pembelajaran agama dengan persoalan nyata. Akhlak tidak cukup diajarkan sebagai definisi yang dihafalkan menjelang ujian. Ia harus dilatih melalui budaya akademik yang jujur, penghormatan terhadap perbedaan, tanggung jawab organisasi, kepedulian sosial, dan keberanian mengakui kesalahan.

Ketiga, generasi muda perlu membangun kebiasaan melakukan pemeriksaan diri sebelum mengoreksi orang lain. Sebelum membagikan nasihat, periksalah apakah pesan itu juga berlaku bagi diri sendiri. Sebelum menyebarkan tuduhan, periksalah kebenarannya. Sebelum menulis komentar yang menyakitkan, pertimbangkan apakah perkataan itu membawa manfaat.

Keempat, masyarakat perlu berhenti menjadikan penampilan religius sebagai satu-satunya ukuran moral seseorang. Simbol keagamaan patut dihormati, tetapi tidak boleh menggantikan penilaian terhadap tindakan. Orang yang rajin menyampaikan pesan agama tetap perlu bertanggung jawab atas perilakunya. Sebaliknya, orang yang jarang menampilkan identitas keagamaan di ruang publik tidak boleh serta-merta dianggap tidak bermoral.

Prinsipnya sederhana: jangan mudah memvonis isi hati seseorang, tetapi jangan pula menutup mata terhadap perilaku yang merugikan orang lain.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan agama tidak cukup dilihat dari seberapa banyak anak muda mengikuti kajian, menghafal ayat, atau membagikan kutipan keislaman. Semua itu dapat bernilai positif, tetapi perlu disertai perubahan nyata dalam kehidupan.

Apakah mereka lebih jujur ketika mengerjakan tugas? Lebih santun ketika berbeda pendapat? Lebih amanah ketika diberi tanggung jawab? Lebih peduli kepada orang miskin? Lebih berani menolak perundungan? Dan lebih mampu mengakui kesalahan tanpa sibuk mencari pembenaran?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membawa agama kembali ke wilayah kehidupan yang sesungguhnya.

Jangan Hanya Tampak Saleh

Kita tidak perlu mempertentangkan media sosial dengan agama. Teknologi dapat menjadi jalan untuk menyebarkan pengetahuan, menggerakkan solidaritas, dan memperluas manfaat. Anak muda juga tidak harus menyembunyikan identitas keagamaannya agar dianggap tulus.

Yang perlu dibangun adalah keselarasan antara apa yang ditampilkan dan apa yang dijalankan. Jika seseorang menyebarkan pesan tentang kasih sayang, biarlah orang lain merasakan kasih sayang itu dalam pergaulannya. Jika ia berbicara tentang keadilan, biarlah keadilan tampak dalam cara ia memperlakukan orang yang berbeda. Jika ia mengajak orang lain berbuat baik, biarlah ajakan itu terlebih dahulu menemukan tempat dalam perilakunya sendiri.

Kita tidak sedang menuntut manusia menjadi sempurna. Setiap orang memiliki kekurangan dan berhak menjalani proses perbaikan. Justru karena itu, keberagamaan seharusnya membuat seseorang semakin terbuka terhadap kritik, bukan semakin kebal terhadap koreksi.

Pada akhirnya, dunia tidak kekurangan orang yang pandai berbicara tentang kebaikan. Yang selalu dibutuhkan adalah orang-orang yang bersedia mengerjakan kebaikan itu, bahkan ketika tidak ada kamera, tidak ada pengikut, dan tidak ada pujian.

Sebab, kesalehan sejati tidak berhenti ketika layar ponsel dimatikan. Ia justru mulai diuji ketika kita kembali berhadapan dengan manusia: saat memegang amanah, menghadapi perbedaan, memperlakukan yang lemah, dan memilih untuk tetap jujur ketika kebohongan terasa lebih menguntungkan.

Di situlah agama berhenti menjadi sekadar konten dan mulai menemukan maknanya sebagai jalan kehidupan.