Konten dari Pengguna

Cinta dalam Kesendirian

Imam Samudra

Imam Samudra

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Imam Samudra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi seseorang yang sedang sendirian / Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi seseorang yang sedang sendirian / Shutterstock

Kesendirian sering kali dianggap sebagai ruang yang kelam dan penuh kehampaan. Di tengah dunia yang begitu ramai dengan pencitraan cinta dan relasi di media sosial, kesendirian tampak seperti tanda kegagalan: kegagalan untuk memiliki, untuk dicintai, atau bahkan untuk sekadar dianggap cukup oleh orang lain. Padahal, jika kita diam sejenak dan mendengarkan denyut batin terdalam, kita akan menemukan bahwa cinta sejati justru bisa tumbuh dengan utuh dalam kesendirian. Filsuf Yunani kuno, Plato, dalam karya Symposium, pernah mengisahkan bahwa cinta (eros) sejatinya adalah kerinduan jiwa akan kesempurnaan yang pernah utuh. Dalam mitosnya, manusia dulunya memiliki dua wajah, empat tangan, dan empat kaki. Tapi karena kesombongannya, dewa Zeus memisahkan mereka menjadi dua. Sejak saat itu, setiap manusia mencari “belahan jiwanya” sebagai bentuk pencarian akan keutuhan semula. Namun Plato juga menyiratkan bahwa cinta sejati bukan sekadar hasrat akan tubuh yang lain, melainkan pendakian menuju ide tentang Keindahan yang abadi—yang tak lain adalah bentuk cinta spiritual dan intelektual. Cinta dalam kesendirian bisa menjadi bagian dari proses itu. Ia bukan tentang ketiadaan pasangan, tetapi tentang proses batiniah untuk mendekati bentuk cinta yang lebih tinggi—yang tak lekang oleh tubuh atau waktu. Dalam diam dan hening, seseorang bisa merenungkan makna cinta yang tidak dangkal: cinta sebagai dorongan menuju kebenaran, kebijaksanaan, dan keindahan sejati. Dalam sunyi, jiwa bisa memandang dirinya sendiri dan memurnikan cintanya dari kepentingan, dari nafsu memiliki, hingga akhirnya naik kepada cinta yang universal. Socrates, guru Plato, justru menunjukkan bahwa pencarian makna cinta dan kebenaran paling baik dilakukan dalam dialog, tetapi dialog yang jujur hanya bisa dilakukan oleh jiwa yang telah jernih. Dan kejernihan itu kerap kali lahir dalam kesendirian. Bagi Socrates, mengenal diri sendiri adalah permulaan segala kebijaksanaan. Dan bagaimana mungkin seseorang dapat mengenal cinta sejati, jika ia bahkan belum mengenal siapa dirinya, apa luka-lukanya, apa yang ia cari, dan apa yang ia takuti? Di titik ini, kita melihat bahwa kesendirian bukanlah lawan dari cinta, melainkan tahap awal bagi cinta yang utuh dan sadar. Dalam kesendirian, kita belajar mencintai diri sendiri bukan dalam arti narsistik, melainkan sebagai bentuk penerimaan yang lembut terhadap diri, lengkap dengan kegagalan dan lukanya. Cinta seperti ini adalah cinta yang tidak butuh pengakuan dari luar. Ia cukup karena tumbuh dari dalam. Aristoteles, murid Plato, memberikan definisi cinta yang lebih praktis dalam karya Nicomachean Ethics. Ia mengatakan bahwa cinta sejati atau philia—terutama dalam bentuk persahabatan yang berbasis kebaikan—hanya mungkin terjadi antara dua jiwa yang baik, yang saling menginginkan kebaikan untuk satu sama lain.

Cinta semacam ini tidak bisa dibangun dalam kekosongan jiwa. Maka, kesendirian justru menjadi kesempatan untuk membangun kebajikan dalam diri, agar saat cinta datang, ia tidak didasari oleh kekurangan atau rasa butuh semata, tetapi oleh kelimpahan jiwa yang telah matang. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Søren Kierkegaard, filsuf eksistensialis Denmark. Kierkegaard melihat bahwa manusia harus mengalami fase kesendirian untuk benar-benar menyadari keberadaannya. Ia menyebut bahwa cinta sejati tumbuh dari hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan—bukan sekadar cinta horizontal antara manusia dan manusia. Kesendirian, menurutnya, adalah saat paling jujur dalam hidup; di sanalah manusia berbicara dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dan dengan kekekalan. Sementara itu, Friedrich Nietzsche, dengan keberaniannya yang khas, menekankan bahwa hanya jiwa yang kuatlah yang sanggup bertahan dalam kesendirian. Dalam Thus Spoke Zarathustra, ia menyatakan bahwa kesendirian adalah tempat lahirnya sang Übermensch—manusia unggul yang tak bergantung pada pengakuan dari luar. “Jauhkan dirimu dari mereka yang selalu membutuhkan cinta,” tulis Nietzsche, “karena mereka belum tahu bagaimana mencintai.” Cinta dalam versi Nietzsche bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan untuk memberi tanpa menggantungkan diri. Kesendirian, jika direnungi dengan baik, bisa menjadi ruang suci. Ia menjadi tempat kita memulihkan luka, merumuskan ulang makna hidup, dan mempersiapkan diri untuk mencintai bukan karena takut sepi, tetapi karena sudah berdamai dengan kesendirian itu sendiri. Cinta yang tumbuh dari jiwa yang utuh akan menjadi cinta yang tak posesif, tak menuntut, dan tak melelahkan. Ia akan hadir sebagai penerimaan, bukan paksaan. Mungkin benar kata seorang bijak, bahwa tidak semua yang sendiri itu sepi, dan tidak semua yang berdua itu bahagia. Ada cinta yang tumbuh justru ketika kita sendirian. Dan mungkin, itu adalah cinta yang paling jujur: cinta yang tak memaksa untuk dimiliki, tak mendesak untuk dibalas, dan tak tergantung pada siapa pun, selain Tuhan dan keikhlasan hati.