Islam Virtual dan Realitas: Menakar Kesalehan Digital di Era Media Sosial

Dosen studi Islam di STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon dan peneliti di bidang sosial-keagamaan. Fokus pada pemikiran Islam, isu pluralisme, relasi antaragama, dan dinamika masyarakat multikultural di Indonesia.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Supardi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era media sosial, ekspresi keberagamaan tak lagi hanya berlangsung di masjid atau pesantren. Kini, Islam hadir juga dalam bentuk Islam virtual—melalui ceramah TikTok, kutipan hadis di Instagram, dan konten religius di YouTube. Namun, apakah kesalehan yang ditampilkan secara digital sama nilainya dengan praktik keislaman di dunia nyata?
Pertanyaan ini menjadi penting di tengah maraknya kesalehan digital, yang tumbuh seiring budaya viral. Agama bukan sekadar diamalkan, tapi juga dipertontonkan. Maka, perlu kajian ulang: sejauh mana Islam virtual mencerminkan Islam realitas?
Islam Virtual dan Kesalehan yang Terbingkai
Islam virtual menawarkan kemudahan akses terhadap informasi keagamaan. Siapa pun kini bisa belajar fikih, akidah, atau tafsir Al-Qur’an dari ponsel. Namun, seperti dikatakan Stig Hjarvard dalam konsep mediatization of religion, agama yang masuk ke media akan menyesuaikan diri dengan logika platform—harus singkat, menghibur, dan mudah viral.
Di titik inilah muncul persoalan. Konten yang viral sering kali menyederhanakan teks suci, bahkan kadang menyimpang dari konteks. Ceramah dipotong jadi potongan 60 detik, ayat dikutip untuk membenarkan opini. Di tengah derasnya algoritma, nilai spiritual terancam tergeser oleh nilai klik dan views.
Filsuf Jean Baudrillard menyebut ini sebagai simulakrum—simbol-simbol yang kehilangan makna aslinya karena terus direproduksi secara dangkal. Kesalehan pun ikut jadi simbol: tampil syar’i, menyebar hadis, atau posting video zikir menjadi ekspresi utama beragama.
Namun, kesalehan digital seperti ini sering kali tidak dibarengi dengan refleksi atau transformasi diri. Ia bersifat performatif, bukan substantif. Kita perlu bertanya, apakah Islam hanya soal tampilan luar, atau juga soal tindakan dan kepedulian sosial?
Islam Realitas vs Islam Virtual: Tantangan Kesalehan di Dunia Nyata
Berbeda dari Islam virtual, Islam realitas hadir di ruang-ruang kehidupan sehari-hari: dalam interaksi, etika kerja, kejujuran bisnis, hingga solidaritas kemanusiaan. Di sinilah agama menjadi jalan hidup, bukan hanya identitas digital.
Dalam teori Paulo Freire, agama adalah praxis—perpaduan antara refleksi dan aksi. Artinya, beragama bukan sekadar mengetahui, tetapi menjalani dan mengubah. Misalnya, membayar zakat bukan hanya soal donasi digital, tapi juga soal keadilan sosial. Silaturahmi bukan hanya menyapa di kolom komentar, tetapi hadir dan peduli.
Islam realitas menuntut konsistensi, kesabaran, dan kedalaman. Ia tidak bisa dikemas dalam 1 menit video atau 1 paragraf kutipan. Maka, kesalehan di sini lebih sulit ditunjukkan, tapi lebih nyata dirasakan. Sayangnya, tidak semua hal semacam ini mendapat ruang di media sosial.
Literasi digital keagamaan menjadi penting agar umat tak mudah terpukau pada simbol tanpa isi. Umat perlu dibekali kemampuan memilah antara dakwah mencerahkan dengan konten provokatif, antara ustaz populer dengan otoritas keilmuan yang valid.
Menjembatani Dunia Digital dan Praktik Keislaman Nyata
Kita tidak sedang menghadapkan dua kubu, tapi sedang mencoba menjembatani Islam virtual dan realitas secara bijak. Dunia digital bisa menjadi awal yang baik, asalkan tidak dijadikan satu-satunya arena keberagamaan.
Maka, penting bagi umat Islam untuk memiliki literasi digital keagamaan. Siapa yang menyampaikan pesan? Apa otoritas ilmunya? Apakah isinya mencerahkan atau hanya memprovokasi? Di tengah banjir informasi, pertanyaan-pertanyaan ini jadi penting.
Jürgen Habermas mengingatkan bahwa ruang publik yang sehat harus dibangun di atas diskusi rasional. Media sosial harus kita arahkan ke arah itu—sebagai ruang belajar, bukan hanya arena saling menyalahkan.
Menjaga keberagamaan tetap hidup di dunia nyata berarti membawa ajaran Islam dari layar ke tindakan: dari like menjadi peduli, dari share menjadi berbagi nyata, dari komentar menjadi kontribusi sosial. Kesalehan digital harus menjadi pintu masuk, bukan titik akhir.
Kesalehan Tak Butuh Panggung
Kesalehan yang sejati tidak butuh sorotan. Ia lahir dalam kejujuran tanpa kamera, dalam empati yang tidak diumumkan, dan dalam usaha memperbaiki diri tanpa butuh validasi publik. Islam bukan soal viralitas, tapi vitalitas: hadir nyata dalam hidup, dan bermakna bagi sesama.
