Apakah Anak Harus Takut agar Menjadi Shaleh?

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Imanova Yasmina Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Kalau tidak shalat nanti masuk neraka”
"Dosa dek kalau melanggar"
“Jangan lakukan itu, nanti Allah marah”
Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar biasa dalam beberapa keluarga dengan pola parenting pendidikan islam dan tumbuh dalam keluarga religius. Ancaman dosa, hukuman tuhan, atau rasa takut sering kali dilakukan oleh orang tua agar anak menjadi disiplin dan patuh terhadap ajaran agama. Cara tersebut kerap kali digunakan orang tua dengan dalih kepercayaan, bahwa rasa takut menjadi cara yang efektif untuk mendisiplinkan anak. Dalam beberapa persoalan, pengenalan mengenai dosa dan pahala memang diperlukan ketika mendidik anak. Namun, problema lain muncul ketika rasa takut dijadikan pendekatan yang utama dalam pola parenting. Motivasi tersebut memunculkan arah persepsi anak yang berubah, cara pandang anak mengenai dirinya, orang tuanya dan bahkan agamanya sendiri menghasilkan tekanan psikologis.
Tujuan awal orang tua menerapkan pendidikan dirumah agar anak dapat memaknai agama secara utuh akan berubah arah menjadi pendekatan berbasis ketakutan atau fear-based parenting, yaitu pola asuh dengan alat utama adalah rasa takut. Anak mungkin menjadi patuh, tetapi kepatuhan tersebut muncul karena rasa cemas dan takut dihukum, bukan karena memahami nilai moral dibalik pengajaran. Pola asuh seperti ini dalam jangka panjang memiliki kemungkinan yang besar dapat membentuk hubungan emosional yang tidak sehat baik dengan orang tua ataupun agama itu sendiri.
Dalam ilmu psikologi pola asuh seperti ini mirip dengan pola asuh otoriter atau authoritarian parenting. Teori parenting styles dikemukakan oleh tokoh psikologi perkembangan Diana Baumrind. Diana menjelaskan bahwa pola asuh dengan ciri kontrol tinggi pada orang tua, aturan yang ketat, tuntutan kepatuhan dan minim komunikasi dua arah sudah dikategorikan sebagai authoritian parenting. Anak tidak diberikan ruang berdialog dan mengekspresikan perasaanya. Parenting styles seperti ini kerap kali membuat anak tumbuh dengan ketakutan dan tekanan.
Dampak Psikologis pada Anak
Problema dalam pola ini adalah, hasil dari perkembangan psikologis anak tidak selalu menunjukkan hal yang baik dan signifikan positif. Penelitian yang telah dilakukan oleh Fajri dan Kusumaningrum dalam jurnal Unisia tahun 2024 menunjukkan bahwa pola asuh otoriter memiliki hubungan negatif dengan psychological well-being remaja. Hasil dari pola asuh otoriter anak cenderung memiliki tingkat kecemasan yang tinggi, memiliki penerimaan diri yang rendah dan sulit mengekspresikan emosi. Hal ini menunjukkan kepatuhan pada pola asuh otoriter adalah rasa takut dan hal ini berbanding lurus dengan tujuan mensejahterakan mental anak.
Hubungan mengenai parenting style dengan emotional well-being sudah dibahas dalam frontiers in Psychology tahun 2022, bahwa meningkatnya emotional ill-being di sebabkan oleh pola pengasuhan yang bersifat coercive atau menekan. Anak akan rentan terkena stress emosional dan membangun regulasi emosi yang tidak sehat.
Dampak ini tidak selalu terlihat pada saat anak masih kecil, namun pada beberapa individu baru terasa ketika sudah mencapai usia dewasa. Individu tersebut akan mudah merasa takut untuk gagal, takut mengecewakan orang lain, dan memiliki kecenderungan untuk mencari validasi eksternal. Dalam hubungan sosial juga individu akan lebih tertutup dan kesulitan mengekspresikan emosi.
Perspektif Islam terhadap Parenting
Penerapan pola asuh seperti ini pada dasarnya orang tua memiliki kepercaya bahwa anak harus mengikuti aturan tanpa banyak penjelasan. Dalam konteks parenting agama sifatnya lebih kompleks, pendekatan ini dapat muncul dari bentuk ancaman sederhana seperti dosa, neraka, atau rasa malu karena dianggap tidak religius. Mereka takut melakukan kesalahan, takut dianggap dosa, dan bahkan takut untuk bertanya mengani hal-hal yang membingungkan bagi mereka. Hasilnya, hubungan spiritual yang pada awalnya memberikan ketenangan berubah menjadi kecemasan.
Anak akhirnya mengenal agama melalui rasa takut. Pemahaman mereka tentang tuhan akan berubah menjadi sosok yang selalu menghukum bukan tempat untuk mencari ketenangan dan kasih sayang. Fokus anak berubah pada ketakutan melakukan kesalahan, bukan memahami nilai moral dan spiritual ajaran agama tersebut.
Dalam perspektif islam, pendidikan tidak dibangun hanya karena rasa takut, tetapi juga menekankan kasih sayang, kelembutan, dan keseimbangan dalam mendidik. Rahmah yang artinya kasih sayang menjadi salah satu konsep utama dalam menjaga hubungan antar manusia, termasuk hubungan orang tua dan anak.
Prophetic Parenting sebagai Alternatif Pengasuhan
Nabi Muhammad SAW sendiri dikenal sebagai orang yang lembut terhadap anak-anak. Berbagai riwayat menceritakan, Nabi tidak menjadikan ketakutan sebagai satu-satunya fondasi dalam mendidik. Pendekatan yang beliau lakukan adalah dengan memberi teladan, menunjukkan empati, dan membangun kedekatan emosional dengan anak-anak disekitarnya. Salah satu contohnya terlihat ketika cucu Nabi, Hasan dan Husain, bermain diatas punggung beliau saat melakukan sujud dalam salatnya, beliau tidak marah melainkan memperpanjang sujudnya. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi dalam merespon perilaku anak bukan menggunakan kemarahan atau menekankan ketakutan. Nabi Muhammad juga menerapkan bahwa kedekatan emosional lebih diprioritaskan disbanding sekedar menuntut kepatuhan langsung.
Prophetic parenting yang menekankan pola pengasuhan dengan penuh empati dan keteladanan sudah menjadi topik dalam berbagai kajian psikologi islam. Dalam jurnal psikologika sudah dibahas penelitian mengenai prophetic parenting, dimana pola asuh ini mengadopsi nilai-nilai pengasuhan Nabi yang memiliki hubungan positif dengan kesejahteraan psikologis individu.
Hal ini menunjukkan bahwa pola asuh disiplin dan kasih sayang bukan berarti dua hal yang berlawanan. Aturan, arahan dan pendidikan moral tetap harus diberikan pada anak untuk memberikan batasan. Namun, penyampaiannya perlu dilakukan lebih komunikatif dan memanusiakan manusia. Anak perlu memahami mengapa mereka harus mematuhi aturan tersebut, bukan hanya mengkomunikasikan konsekuensinya.
Pendidikan agama yang sehat seharusnya membantu anak untuk mengenal nilai-nilai spiritual secara utuh. Melalui pendekatan yang suportif, agama akan dikenal menjadi wadah ketenangan, pencarian makna hidup dan penguatan moral. Sebaliknya, anak yang sedari tumbuh sudah dikenalkan dengan ancaman dan ketakutan tanpa penjelasan yang menyeluruh maka akan tumbuh dengan hubungan emosional yang kurang sehat dengan spiritualnya.
Pada akhirnya, tujuan utama parenting bukan hanya menciptakan suatu kepatuhan, tetapi juga membantu individu menjadi sehat secara emosional. Anak dengan pemahaman agama yang disisipi oleh kasih sayang maka memiliki peluang besar untuk membangun kesadaran moral yang lahir dari pemahaman mendalam, bukan karena rasa takut.
