Dari Johannesburg ke Dunia: Kisah Women's Shutdown dan Perempuan Transnasional

Mahasiswi Universitas Sriwijaya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Imas Putri Salsabila Ceasare tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan sebuah kota berhenti sejenak, bukan karena mati listrik ataupun kerusuhan. Melainkan, karena perempuan memilih untuk berdiri bersama, mengangkat suara untuk menentang kekerasan yang telah lama membelenggu mereka. Itulah yang terjadi di Johannesburg, Afrika Selatan, ketika Gerakan Women’s Shutdown yang mengguncang kota yang kemudian menyebar ke penjuru dunia. Gerakan ini bukan hanya tentang protes, ini adalah panggilan bagi seluruh perempuan dari berbagai negara untuk bersatu, merajut solidaritas serta menuntut perubahan nyata. Dari Afrika Selatan ke berbagai komunitas transnasional, Women’s Shutdown menjadi simbol kekuatan bagi perempuan yang tidak bisa diabaikan, menegaskan bahwa perjuangan melawan kekerasan gender adalah perjuangan bersama tanpa batas.
Di Afrika Selatan, kekerasan terhadap perempuan sudah sangat mengkhawatirkan. Menurut laporan dari Sunday Independent, sedikitnya 5.578 perempuan dibunuh antara April 2023 hingga Maret 2024, atau sekitar 15 perempuan per hari. Angka ini memicu kemarahan dan kesedihan. Kondisi ini memicu lahirnya Gerakan Women’s Shutdown, sebuah aksi protes yang kuat dan penuh makna dari perempuan yang menuntut perubahan segera. Gerakan ini bukan hanya soal Afrika Selatan, tapi menjadi sebuah panggilan solidaritas perempuan dari berbagai negara yang peduli terhadap isu kekerasan gender di seluruh dunia.
Gerakan ini digagas oleh organisasi Women for Change, yang mengajak perempuan untuk berhenti bekerja serta beraktivitas sehari-hari selama satu hari. Aksi ini bertujuan untuk membuat semua orang sadar betapa pentingnya peran perempuan dan betapa besar konsekuensinya jika mereka tiba-tiba tidak berkontribusi. Aksi ini sengaja dilakukan menjelang perhelatan KTT G20 2025 di Johannesburg agar masalah kekerasan terhadap perempuan ini mendapat perhatian oleh dunia.
Ribuan perempuan turun ke jalan dengan memakai pakaian hitam dan ungu sebagai simbol duka dan perlawanan, serta berbaring diam selama 15 menit yang menggambarkan banyaknya nyawa yang hilang setiap harinya akibat dari kekerasan tersebut. Dengan cara yang kuat namun damai, mereka menuntut perhatian serta tindakan nyata supaya perempuan bisa hidup lebih aman dan dihargai.
Solidaritas dan jangkauan dari Gerakan Women’s Shutdown telah melampaui batas geografis Afrika Selatan. Gerakan ini mendapatkan dukugan luas dari berbagai kelompok perempuan, mulai dari komunitas lokal hingga organisasi internasional yang peduli kepada isu kekerasan gender. Selain untuk memperkuat solidaritas lintas negara, media sosial juga mienjadi alat utama. Dengan penggunaan warna ungu pada foto profil dan tagar #WomenShutdown menjadi simbol yang memperluas jangkauan kampanye secara digital dan fisik.
Menurut laporan NovaNews, kampanye ini memainkan peran penting dalam membangun tekanan politik kepada pembuat kebijakan agar menangani isu kekerasan berbasis gender dengan serius. Solidaritas transnasional yang terus diperkuat melalui media digital menjadi kekuatan ampuh dalam memperjuangkan perubahan yang lebih besar serta berkelanjutan demi keselamatan perempuan dii Afrika Selatan maupun dunia.
Menghadapi tantangan kekerasan berbasis gender, Gerakan Women’s Shutdown juga menyoroti pentingnya keterlibatam semua kalangan masyarakat, bukan hanya dari kalangan perempuan. Tetapi, laki-laki, komunitas lokal, sampai dengan organisasi masyarakat sipil turut diajak untuk ikut bersuara dan berhenti sejenak dari semua aktivitas harian mereka sebagai bentuk protes damai. Momen KTT G20 dimanfaatkan sebagai panggung besar untuk menunjukkan ke dunia bahwa masalah ini sudah darurat dan tidak bisa lagi diabaikan.
Selain turun ke jalan dan berhenti kerja, gerakan ini juga menekankan betapa pentingnya untuk mengubah cara pandang mengenai kekerasan berbasis gender. Bukan lagi dianggap sebagai urusan domestic ata masalah pribadi, namun sebagai persoalan bersama yang membutuhkan solusi dari kebijakan negara dan dukungan masyarakat. NovaNews juga menegaskan bahwa aksi ini dilihat sebagai upaya mendorong pemerintah untuk mengambil langkah tegas, mulai dari penegakan hukum yang lebih serius sampai perlindungan yang nyata bagi korban.
Di tengah semua aksi itu, Gerakan Women's Shutdown mengingatkan bahwa hidup tanpa rasa takut seharusnya menjadi hak dasar setiap perempuan. Femisida dan kekerasan berbasis gender bukan hanya sekadar angka, tapi soal nyawa dan masa depan yang hilang.
Di akhir tulisan ini, penulis ingin menegaskan bahwa seruan perempuan di Afrika Selatan lewat Gerakan Women's Shutdown bukan hanya milik satu negara. Ini adalah pengingat bagi seluruh pemerintah, termasuk di negara lain, bahwa perlindungan terhadap perempuan tidak bisa lagi ditunda dan diabaikan.
Daftar Pustaka
Gumede, M. (2025). South African women stage lie-down protest against gender-based violence ahead of G20 summit. APNews. https://apnews.com/article/women-south-africa-g20-protest-violence-gender-d729680eebe7750bc54119c32b78a8a4
Jafta, S. (2025). Nationwide ‘Women’s Shutdown’ to honour 15 women murdered daily in South Africa. NovaNews. https://novanews.co.za/nationwide-womens-shutdown-to-honour-15-women-murdered-daily-in-south-africa/
Mtembu, X. (2025). Women For Change’s petition : Over one million demand GBV be declared national disaster. Sunday Independent. https://sundayindependent.co.za/news/crime-and-courts/2025-11-14-women-for-changes-petition-over-one-million-demand-gbv-be-declared-national-disaster/
Ngcobo, K., Maseko, N., BBC Africa, & Kupemba, D. N. (2025). South Africa calls gender violence a national disaster after protests. BBC Africa. https://www.bbc.com/news/articles/cn979g302l9o
Women For Change. (2025). Women For Change to Shut Down the Nation Ahead of G20 Summit. Women For Change. https://womenforchange.co.za/women-for-change-to-shut-down-the-nation-ahead-of-g20-summit/
