25 Tahun Dora The Explorer Kenapa Masih Eksis di Tengah Perubahan Media?

Mahasiswa Universitas Pamulang. Fakultas Ilmu Komunikasi, Prodi Ilmu Komunikasi S1
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Siti Fatimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang dulu sering duduk di depan televisi sambil mengikuti petualangan Dora dan Boots? Bagi sebagian anak yang tumbuh pada era 2000-an, Dora the Explorer bukan sekadar tayangan animasi. Dora hadir sebagai teman di masa kecil melalui berbagai petualangan, lagu, pertanyaan, hingga ajakannya kepada penonton untuk ikut membantu menyelesaikan masalah.
Dora the Explorer pertama kali ditayangkan pada tahun 2000. Di Indonesia, karakter ini sudah dikenal sejak pertengahan 2000-an. Pemberitaan detikHot pada 2005 bahkan sempat membahas popularitas Dora di kalangan anak-anak Indonesia. Saat itu, Dora dikenal sebagai tayangan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton ikut berinteraksi.
Hal tersebut menjadi salah satu hal yang membedakan Dora dari tayangan animasi biasa. Dora tidak hanya berbicara dengan karakter lain dalam cerita, tetapi juga sering berbicara langsung kepada penonton.
Ketika Dora sedang mencari jalan atau menghadapi suatu masalah, penonton diajak untuk ikut membantu. Anak-anak seolah memiliki peran dalam petualangan tersebut. Mereka bisa menjawab pertanyaan, mengikuti lagu, atau membantu Dora menentukan pilihan.
Pola seperti ini membuat pengalaman menonton menjadi lebih aktif. Anak tidak hanya duduk melihat layar, tetapi merasa dilibatkan dalam cerita.
Bukan Cuma Hiburan
Salah satu hal yang membuat Dora the Explorer mudah diingat adalah perpaduan antara hiburan dan pembelajaran. Petualangan Dora biasanya diselingi dengan pertanyaan, pengulangan, lagu, permainan bahasa, dan kegiatan memecahkan masalah.
Konsep interaktif tersebut memang menjadi bagian dari identitas Dora the Explorer. Nickelodeon sejak awal mengembangkan tayangan ini dengan unsur pembelajaran yang membuat anak ikut terlibat dalam cerita dan membantu Dora menyelesaikan berbagai tantangan.
Dora juga dikenal dengan penggunaan bahasa Inggris dan Spanyol dalam ceritanya. Unsur bahasa tersebut menjadi bagian dari identitas program dan membuat Dora tidak hanya dikenal sebagai tayangan petualangan.
Selain itu, karakter Dora dan Boots memiliki ciri visual yang mudah dikenali. Rambut pendek, pakaian berwarna cerah, ransel, serta Boots menjadi bagian dari identitas yang membuat karakter ini tetap mudah dikenali meskipun sudah bertahun-tahun berlalu.
Dari Televisi ke Media yang Lebih Beragam
Perkembangan teknologi membuat kebiasaan menonton anak ikut berubah. Dulu, anak-anak harus menunggu jadwal tayangan di televisi. Sekarang, berbagai konten dapat ditemukan melalui internet dan platform digital.
Namun, perubahan tersebut tidak serta-merta membuat karakter lama hilang. Dora justru terus dikembangkan dalam berbagai bentuk.
Setelah dikenal melalui serial animasi, Dora juga hadir dalam film Dora and the Lost City of Gold pada 2019. Karakter ini kemudian kembali dikembangkan melalui berbagai produksi baru. Pada 2025, Dora kembali hadir dalam film Dora and the Search for Sol Dorado.
Kemunculan kembali tersebut menunjukkan bahwa yang bertahan bukan hanya episode lama yang pernah ditonton anak-anak pada era 2000-an. Karakter Dora sendiri terus diperkenalkan kepada penonton dari generasi yang berbeda.
Di sinilah kemampuan sebuah karakter untuk beradaptasi menjadi penting. Identitas Dora tetap dipertahankan, tetapi bentuk penyajiannya dapat mengikuti perkembangan zaman.
Ketika Dora Menjadi Bagian dari Kenangan Masa Kecil
Ada satu hal yang juga menarik untuk dibicarakan, yaitu nostalgia.
Anak-anak yang dulu menonton Dora di televisi kini telah tumbuh menjadi remaja atau orang dewasa muda. Ketika mereka kembali melihat Dora melalui internet, media sosial, atau berita mengenai produksi terbarunya, karakter tersebut bisa mengingatkan mereka pada masa kecil.
Tentu pengalaman setiap orang berbeda. Tidak semua orang yang pernah menonton Dora akan memiliki rasa nostalgia yang sama. Namun, pengalaman menonton sejak kecil membuat karakter tersebut memiliki hubungan tertentu dengan sebagian penontonnya.
Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa karakter lama masih bisa mendapatkan perhatian ketika kembali muncul dalam bentuk baru.
Dora dan Perubahan Cara Menonton
Kalau dulu Dora dikenal terutama melalui televisi, sekarang penonton memiliki lebih banyak pilihan untuk menemukan sebuah tayangan. Anak-anak tidak harus menunggu program favoritnya muncul pada jam tertentu.
Perubahan ini sebenarnya menjadi tantangan bagi tayangan anak yang sudah lama hadir. Mereka harus mampu beradaptasi dengan kebiasaan audiens yang semakin dekat dengan media digital.
Namun, perjalanan Dora menunjukkan bahwa sebuah karakter tidak harus selalu bertahan dalam bentuk yang sama. Selama ciri khasnya masih dipertahankan dan dapat dikembangkan sesuai perubahan media, karakter tersebut masih memiliki kesempatan untuk dikenal oleh generasi berikutnya.
25 Tahun Dora dan Generasi Baru
Lebih dari dua dekade setelah pertama kali hadir, Dora the Explorer masih menjadi karakter yang mudah dikenali. Eksistensinya bukan hanya soal sudah berapa lama karakter tersebut muncul di televisi, tetapi juga bagaimana karakter tersebut mampu mengikuti perubahan media.
Bagi sebagian penonton yang tumbuh pada era 2000-an, Dora mungkin mengingatkan pada masa ketika televisi menjadi salah satu hiburan utama di rumah. Sementara bagi generasi yang lebih baru, Dora dapat hadir melalui bentuk tayangan dan media yang berbeda.
Pada akhirnya, perjalanan Dora menunjukkan bahwa perkembangan media tidak selalu berarti berakhirnya sebuah tayangan lama. Sebuah karakter masih dapat bertahan ketika identitasnya tetap kuat, tetapi cara penyampaiannya terus menyesuaikan dengan perubahan zaman.
Dora mungkin sudah tidak lagi hidup di zaman ketika televisi menjadi satu-satunya tempat untuk menikmati tayangan anak. Namun, setelah 25 tahun, karakter tersebut masih menemukan cara untuk kembali menyapa penontonnya, baik mereka yang pernah tumbuh bersamanya maupun generasi baru yang baru mengenalnya.
