Difabel Dijual Sebagai 'Kisah Inspiratif' demi Ego Orang normal

Mahasiswa di Universitas Brawijaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari IMRO ATU SOLIHAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah derasnya arus media sosial dan budaya populer, kita kerap disuguhi potret-potret “mengharukan” tentang individu difabel yang dianggap luar biasa karena mampu melakukan hal-hal yang oleh masyarakat dianggap “normal”. Video anak difabel yang lulus ujian, foto orang tanpa kaki yang bisa berlari, hingga kisah penyandang disabilitas yang tetap “tersenyum meski menderita” semuanya viral, dibagikan berkali-kali, dan menuai ribuan komentar penuh pujian.
Tapi, pernahkah kita bertanya, sebenarnya untuk siapa cerita-cerita itu ditampilkan? Apakah benar bentuk penghormatan, atau justru konsumsi emosional demi menyenangkan ego orang nondisabilitas? Dalam banyak kasus, difabel dijual sebagai kisah inspiratif bukan demi memperjuangkan hak mereka, melainkan demi membuat orang “normal” merasa lebih bersyukur atas hidupnya.
Disini lah mulai muncul kata “inspiration porn”, istilah ini merujuk pada cara difabel atau penyandang disabilitas ditampilkan sebagai “inspirasi” semata, khususnya dalam media, iklan, dan konten viral di media sosial. Sosok difabel sering digambarkan sebagai “pahlawan kehidupan” yang berhasil melampaui keterbatasan fisik mereka, dan kisah-kisah semacam ini dijual untuk membangkitkan rasa kagum atau motivasi bagi orang-orang normal.
Stella Young (2017), seorang aktivis difabel sekaligus komedian menyebut inspiration porn yaitu dimana orang lain menjadikan orang dengan disabilitas sebagai objek inspirasi secara terus menerus telah mendehumanisasi mereka karena dimensi hidupnya ditunggalkan. Sebab, mereka tidak hidup semata ditugaskan untuk menginspirasi orang (Kuba & Humeira, 2021)
Konsep ini digunakan untuk mengkritik cara media dan masyarakat mengemas kehidupan difabel sebagai cerita haru biru yang menginspirasi, meskipun tanpa memahami atau memperhatikan kenyataan kompleks yang mereka alami setiap hari. Menurut Young, bentuk eksploitasi ini terjadi ketika narasi tentang disabilitas tidak lagi bertujuan memahami, tetapi sekadar memberi rasa nyaman dan semangat kepada orang nondisabilitas. Dalam hal ini, peran difabel direduksi menjadi alat perbandingan agar orang lain merasa lebih bersyukur atas hidup mereka.
Contohnya bisa dilihat dalam iklan-iklan, meme motivasi di media sosial, atau konten viral yang menampilkan difabel yang “berhasil” naik tangga tanpa kursi roda, berjualan meski tanpa tangan, atau lulus sekolah meskipun difabel. Kalimat seperti “Kalau dia saja bisa, kamu juga bisa” secara implisit menempatkan difabel sebagai alat untuk memotivasi, bukan sebagai individu dengan kebutuhan dan hak yang kompleks.
Para kritikus berpendapat bahwa dengan motivasi-motivasi seperti ini memperkuat kesalahpahaman yang popular bahwa disabilitas dapat diatasi melalui usaha individu dan mengaburkan hambatan struktural dan aspek sistemik disabilitas di kehidupan nyata (Grue, 2016; Liddiard, 2014; Burt & Lite, 2024). Perspektif model sosial disabilitas biasanya mengkonseptualisasikan disabilitas sebagai sesuatu yang berasal dari kondisi fisik dan sosial seseorang di lingkungan tempat tinggalnya. Perspektif disabilitas dari model sosial yang ini digunakan untuk menegaskan bahwa disabilitas tidak dapat diperbaiki oleh individu dan sebaliknya membutuhkan perubahan lingkungan dalam skala besar agar terjadi kesetaraan (Dirth & Branscombe, 2017; Burt & Lite, 2024).
Representasi semacam ini di media sosial cenderung tidak memberi ruang untuk melihat bahwa banyak difabel menghadapi hambatan struktural seperti ketimpangan pendidikan, akses pekerjaan, atau minimnya kebijakan inklusif yang tidak pernah muncul dalam narasi “inspiratif” mereka. Konsep ini mengungkap bahwa kekaguman semu terhadap difabel sering kali justru menempatkan mereka dalam posisi yang tidak setara, hanya untuk menyentuh emosi orang nondisabilitas.
Di balik narasi inspiratif yang sering ditampilkan media, banyak aspek kehidupan difabel yang justru tidak tersorot, seperti kesenjangan akses, diskriminasi, dan pengucilan sosial. Dilansir dari website Komnas HAM (2022), bahkan beberapa disabilitas di pasung di tempat panti lalu, dalam berbagai laporan nasional, seperti yang disampaikan oleh Komnas Disabilitas pada kanal youtube Warta Kota Production (2025), penyandang disabilitas di Indonesia masih menghadapi tantangan berat dalam memperoleh pendidikan inklusif, layanan tempat keagamaan yang setara, hingga kesempatan kerja yang adil. Tak jarang, mereka dipaksa hidup dalam keterbatasan bukan karena disabilitas itu sendiri, melainkan karena lingkungan sosial dan sistem yang abai terhadap kebutuhan mereka. Ketimpangan ini jarang muncul dalam narasi media yang sibuk memuja “semangat” individu difabel, sementara kenyataan bahwa mereka harus berjuang melawan diskriminasi struktural terus terpinggirkan.
Pada akhirnya, inspiration porn bukanlah bentuk penghargaan yang membebaskan, melainkan cara halus mereduksi martabat penyandang disabilitas menjadi alat motivasi bagi orang nondisabilitas. Di balik kekaguman itu tersembunyi ekspektasi yang membatasi, serta penyangkalan terhadap realitas sosial yang tidak adil.
Untuk mengatasi problem inspiration porn, diperlukan perubahan cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Pertama, literasi publik tentang isu disabilitas harus ditingkatkan agar masyarakat memahami bahwa difabel bukan objek kekaguman semata, melainkan individu utuh yang memiliki hak, kebutuhan, dan kompleksitas kehidupan seperti siapa pun. Kedua, media perlu lebih bertanggung jawab dalam menampilkan representasi yang setara bukan sekadar menyebarkan kisah “inspiratif”, tetapi memberi ruang bagi difabel untuk tampil sebagai diri mereka sendiri, termasuk dengan menunjukkan perjuangan dan suara kritis terhadap ketidakadilan. Ketiga, negara harus menjamin hak difabel melalui implementasi kebijakan inklusif yang nyata, seperti pendidikan yang ramah disabilitas, aksesibilitas di ruang publik, serta kesempatan kerja yang setara. Terakhir, penting untuk memberikan ruang bagi komunitas difabel untuk berbicara atas nama mereka sendiri, bukan diwakili oleh narasi dari luar. Prinsip “Nothing about us without us” harus dipegang teguh agar perjuangan kesetaraan tidak hanya menjadi wacana, tetapi juga praktik nyata.
Karena seperti yang pernah dikatakan Stella Young, “Difabel tidak butuh dikasihani atau dipuja, mereka butuh diakui sebagai manusia seutuhnya.” dilansir dari TED
Daftar Pustaka
Burt, A., & Lite, R. (2024). “the only Disability in Life is a Bad Attitude”: An Exploration of Inspiration Porn and the Role of the Exercise Professional. ACSM’s Health and Fitness Journal, 28(3), 27–32. https://doi.org/10.1249/FIT.0000000000000960
KomnasHAM. (2022). https://www.komnasham.go.id/index.php/news/2022/9/12/2230/tindak-lanjut-rekomendasi-komite-hak-penyandang-disabilitas.html
Kuba, Q. S., & Humeira, B. (2021). Relasi Agen dan Struktur dalam Konstruksi Isu Disabilitas di Media Online. Jurnal Studi Jurnalistik, 3(1), 22–34. https://doi.org/10.15408/jsj.v3i1.20051
Warta Kota Production. (2025). https://youtu.be/FfCN8iONnAA?si=xhAZDgytWB_iM2s4
