Menyelami Polisemi Sebagai Representasi Jenaka pada Pepe Komik Instagram

Saya merupakan mahasiswa Pendididkan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 5 di UIN Jakarta. Saat ini, selain saya berorganisasi pun setiap hari nya saya selalu mengajar bimbingan belajar privat. Mengajar adalah passion yang wajib ada dalam hidup saya
Tulisan dari IMRON MAULANA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menilik perkembangan teknologi yang makin pesat, maka berdampak pada seluruh aspek kehidupan terkhusus salah satunya dalam ranah komunikasi antar sesama. Aspek vital yang digunakan oleh manusia untuk berinteraksi sosial adalah bahasa. Jika mengkorelasikan antara bahasa dan teknologi nampaknya menimbulkan fenomena-fenomena baru yang menarik dan menggelitik untuk dikaji secara komprehensif. Menilik hal itu, mungkin istilah media sosial sudah tak asing lagi terkhusus di masyarakat Indonesia. Pun kenyataan faktual mengimplisitkan makna bahwa media sosial dijadikan sebagai suatu hal yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari manusia.
We Are Sosial, nampaknya menjadi suatu “lema”, dalam hal ini perusahan media di Inggris mengungkapkan, yakni rata-rata orang di Indonesia menggunakan waktu nya selama 3 jam 23 menit sehari untuk mengakses media sosial (Pertiwi, 2018). Data tersebut memberikan pemahaman bahwa pengaksesan media sosial sudah menjadi rutinitas bagi sebagian orang, terkhusus di Indonesia. Adapun salah satu karakteristik media sosial adalah menggunakan bahasa tulis untuk mengungkapkan maksud penutur (komunikator). Oleh karena itu, jika menarik benang merah antara media sosial dengan kajian linguistik, ternyata makin intensif media sosial digunakan, maka makin kompleks fenomena kebahasaan yang dapat dikaji, terkhusus dalam hal ini, yaitu ranah Semantik. Berkaitan dengan hal tersebut, media sosial yang akan menjadi sasaran kajian analisis adalah instagram.
Pemanfaatan aspek kebahasaan atau dapat direpresentasikan sebagai permainan bahasa pada wacana dapat menunjukkan permainan bunyi, unsur pembatas, dan makna (Wijana, 2014). Dalam hal ini, permainan makna yang didapatkan salah satunya adalah ambiguitas leksikal, yaitu polisemi. Subuki (2011) dalam bukunya yang berjudul “Semantik Pengantar Memahami Makna Bahasa” mengungkapkan bahwa polisemi biasanya dikorelasikan sebagai suatu bentuk leksikal yang tentunya memiliki beberapa arti terkait secara konseptual.
Media sosial instagram menggunakan strategi jenaka (humor) dengan memanfaatkan kosakata bahasa yang sama, tetapi dengan pengungkapan makna yang terlihat berbeda, terkhusus dalam hal ini terdapat pada pepe komik. Menilik ilmu linguistik, pemaknaan terhadap kata yang sama dengan makna ganda adalah fenomena kebahasaan yang konkret. Oleh karena itu, bagi seseorang yang notabenenya ingin mengkaji ilmu kebahasaan, maka hal tersebut dapat dijadikan peluang, sebab tidak hanya sekadar mendapatkan aspek rekreatif (menghibur) saja, tetapi peneliti berargumen bahwa pemaknaan ganda dari laman tersebut dapat dijadikan observasi yang berhubungan dengan kebahasaan.
Permainan bahasa nampaknya menempatkan bahasa sebagai alat untuk berhumor ataupun jenaka. Jika menarik periodesasi sejarah, permainan bahasa biasanya digunakan oleh ahli hukum untuk membuat suatu kalimat yang mempertegas perkara tertentu dalam persidangan ( M. And Philips, 1995). Akan tetapi, seiring perkembangan bahasa yang terjadi dalam suatu masyarakat, dewasa ini dapat terlihat nyata, yakni bahasa dapat dijadikan alat untuk berhumor. Hal itu disebabkan karena memiliki keterkaitan dengan salah satu karakteristik bahasa, yaitu arbitrer (mana suka).
Tiga Pisau Analisis Penciptaan Humor (Jenaka)
Ketika berbicara mengenai teori, nampaknya akan cenderung diasosiasikan dengan acuan peneliti untuk mengkaji suatu fenomena tertentu, yakni dalam hal ini perihal kebahasaan. Adapun penciptaan konsep humor melalui pepe komik instagram berpacu pada tiga teori yang dipaparkan oleh Wijana (2004:21-28), yakni pertama teori ketidaksejajaran. Representasi nyata dari teori ini mengimplisitkan makna bahwa jenaka secara tidak langsung menggabungkan dua makna yang berbeda secara leksikal ke dalam objek yang cenderung kompleks ataupun beragam. Contohnya seperti terdapat pada satu kata yang sama, tetapi memiliki makna yang berbeda. Tentunya, hal tersebut memiliki keterkaitan logis dengan makna polisemi. Selanjutnya, teori yang kedua adalah pertentangan, yang di mana penekanan dari teori ini adalah pembuktian tujuan humor untuk menanggapi kondisi yang ada dalam masyarakat dengan menitikberatkan gurauan untuk menghindarkan diri dari problematika kehidupan. Adapun teori yang terakhir adalah teori pembebasan. Dalam hal ini, teori tersebut mengungkapkan humor dapat melepaskan masyarakat (society) dari suatu kondisi ketertekanan. Menilik hal tersebut, observasi mengenai polisemi pada pepe komik instagram akan lebih memfokuskan pada teori pertama, yaitu ketidaksejajaran.
Alasan Munculnya Kata Berpolisemi: Kajian Semantik
Istilah polisemi tidak serta merta muncul tanpa alasan, melainkan terdapat faktor penyebab yang mempengaruhinya. Tentunya ini merupakan fenomena linguistik yang menarik untuk dikaji, terkhusus yang memang notabenenya ingin berfokus pada ilmu kebahasaan. Salah satu penyebab terjadinya polisemi adalah pergeseran pemakaian. Hal tersebut disebabkan karena luasnya pemakaian dalam ranah bahasa.
Misalnya terdapat pada kata akar, dalam KBBI kata tersebut memiliki makna sebagai [bagian tumbuhan yang masuk ke dalam tanah, sedangkan akar dapat bermakna lain sebagai [asal mula; pokok; pangkal]. Adapun jika menilik dalam ilmu eksakta akar mengimplisitkan arti sebagai suatu [operasi dalam aljabar]. Semua hal tersebut kembali lagi pada permasalahan pertama, yakni suatu kata akan mengalami perluasan atau yang kerap kali dalam istilah Semantik disebut sebagai generalisasi. Selain itu, karena memang notabenenya disebabkan oleh kesepakatan masyarakat dalam memahami bahasa ataupun berdasarkan konvensi nya.
Representasi Konkret Polisemi pada Pepe Komik Instagram
Strategi yang kerap kali digunakan oleh para konten kreator jenaka (humor) di instagram salah satunya adalah polisemi. Dalam hal ini, polisemi dalam pepe komik terlihat nyata melalui visualisasi yang dibuat oleh kreator instagram dengan begitu apik. Mimik wajah dan pantomimik (gerakan) dalam sebuah komik tersebut terkesan membuat pembaca seolah-olah memahami secara visual dengan jelas. Adapun hal yang terlihat istimewa dari relasi makna tersebut, yakni terkait makna ganda yang menjadi fokus utamanya. Selain itu, untuk memahami polisemi seseorang membutuhkan pemahaman akan keterkaitan konteks masyarakat dengan bahasa, sehingga pemahamannya akan terlihat lebih konkret. Oleh karena itu, representasi bentuk polisemi ada dalam pepe komik berikut ini.
Buk, Bapak dapet rezeki lebih hari ini// Alhamdulillah// Tapi Ibuk dikasih duit belanjanya tetep kayak biasanya aja, pak// Sisanya buat simpenan// kata istriku ini buat kamu// berarti dia sudah tau hubungan kita, dong/.
Menilik hal itu, konteks pembicaraan tersebut mengenai seorang suami yang memberikan uang nya untuk istri, tetapi penggunaan kata yang dikemukakan oleh istri, yakni simpenan mengandung makna ambiguitas. Hal tersebut terbukti dengan respons suami yang berkata, [kata istriku ini buat kamu], sehingga dapat dipahami bahwa respons yang diutarakan oleh istri menyebabkan pemaknaan ganda terhadap sang suami. Ketika menilik KBBI, simpenan diartikan sebagai [sesuatu yang disimpan uang, barang dan sebagainya].
Akan tetapi, jika melihat konteks tuturan tersebut kata simpenan memiliki perluasan makna tentunya diasosasikan dengan perempuan simpenan. Kenapa demikian? Mari kembali lagi kita melihat konteks percakapan tersebut, ataupun agar pemahaman lebih terlihat ilmiah seseorang dapat menghubungkannya dengan salah satu ilmu bahasa, yakni pragmatik. Secara konseptual, pragmatik tidak hanya memahami makna dari suatu kata atupun frasa saja, tetapi poin penting yang hendak diutarakan, yakni perihal konteks dalam suatu tuturan.
Fokus pada persoalan awal bahwa frasa perempuan simpenan muncul karena kita dapat mengkorelasikannya dari makna percakapan tersebut.
Polisemi selanjutnya berkaitan dengan pergeseran makna. Pergeseran dalam penggunaan makna dapat dihubungkan dengan istilah dalam Semantik, yaitu generalisasi (meluas) pun spesialisasi (menyempit). Dalam hal ini, suatu kata mempunyai makna baru yang memiliki hubungan dengan makna sebelumnya, tetapi benang merah yang akan diutarakan, yakni makna baru tersebut sering kali berubah tergantung konteks penggunaannya. Berikut ini adalah representasi dalam pepe komik yang berkenaan dengan pergeseran makna.
Bro gue minjem hp lo dong// hp gue mati, lupa di cas// bohong lo, coba sini gue cium, bau apa enggak// emang kalo bau kenapa?// kalo bau bangke, berarti hp lo beneran mati//
Dari percakapan tersebut terdapat pada kata mati yang mengalami pergeseran makna, yakni generalisasi. Adapun ketika melihat kalimat hp gue mati, maka acuan makna nya adalah gawai (handphone) sebagai benda yang mati dan tidak bisa hidup kembali. Akan tetapi, jika melihat konteks percakapan selanjutnya terdapat kalimat kalo bau bangke, berarti hp lo beneran mati. Menilik hal itu, secara konkret kita dapat memberikan konklusi bahwa kata mati tersebut mengacu pada makna sudah hilang nyawa nya. Tentunya diasosiasikan dengan makhluk hidup, yakni manusia. Berdasarkan pemaparan sebelumnya, salah satu poin penting dari pergeseran makna ialah makna baru yang masih berhubungan dengan makna sebelumnya, maka dari kedua makna tersebut mengimplisitkan benang merah yang sama, yaitu sesuatu yang tidak bisa hidup kembali karena disebabkan hal tertentu. Oleh karena itu, fenomena polisemi dalam ranah linguistik ternyata dapat dikorelasikan dengan kemajuan teknologi yang makin maju. Peneliti yang notabenenya sebagai mahasiswa kebahasaan memberikan konklusi bahwa hal tersebut menarik untuk dikaji dalam berbagai perspektif keilmuan, sehingga poin penting dalam analisis ini di samping mendapatkan hiburan melalui komik daring, tetapi menambah pemahaman baru mengenai analisis ilmu kebahasaan.
Sumber Referensi
Susianti. 2020. Teori Semantik, Relasi Makna, Marked dan Unmarked. Totobuang.
Subuki, Makyun. 2011. Semantik Pengantar Memahami Makna Bahasa. Jakarta: Transpustaka.
Staff UNY. “Faktor Penyebab Munculnya Polisemi”. staffnew.uny.ac.id.
Zulfatun Anisah. “Polisemi Pada Wacana Humor Indonesia Lawak Klub”. Jurnal Studi Keislaman, 6 (2): 152s-153.
