Representasi Krisis Multidimensi Dalam Naskah Drama Putu Wijaya

Saya merupakan mahasiswa Pendididkan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 5 di UIN Jakarta. Saat ini, selain saya berorganisasi pun setiap hari nya saya selalu mengajar bimbingan belajar privat. Mengajar adalah passion yang wajib ada dalam hidup saya
Tulisan dari IMRON MAULANA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seni merupakan refleksi konret dari kebutuhan seorang insan yang tidak disadari. Dalam realitas nya, pemaknaan terhadap suatu karya masih menimbulkan problematika yang kompleks. Berbagai studi kasus telah dianalisis dan dapat ditarik benang merah bahwa seni memiliki dampak progresif bagi kehidupan manusia. Menilik hal itu, memiliki kontinuitas dengan salah satu karya sastra yang tak asing lagi di telinga masyarakat, yakni drama. Seperti yang kita ketahui bahwa drama merupakan salah satu bagian dari genre sastra, tentunya mempunyai sisi keistimewaan tersendiri dalam beragam aspek pemaknaannya.
Mari Mengenal Drama!
Suatu hal konkret bahwa sebagai suatu karya, drama mempunyai karakteristik terspesialisasi, yaitu memiliki kontinuitas (hubungan) dengan dua dimensi yang berbeda, tetapi menjadi satu kesatuan. Dalam hal ini, pada satu sisi berdimensi sastra, dan di sisi lain memiliki dimensi suatu pemaknaan pada seni pertunjukan. Tentunya, kekhususan drama disebabkan tujuan drama itu sendiri, yakni ditulis oleh pengarang tidak hanya menitikberatkan sampai tahap penjelasan peristiwa untuk dinikmati secara estetika imajinatif nya saja oleh pembaca, melainkan harus dilanjutkan untuk dapat tervisualisasi menjadi lebih konkret, yaitu dipertontonkan dalam suatu penampilan gerak dan perilaku yang dapat disaksikan (Hasanudin, 1996:1). Sastra diasosiasikan sebagai media subjektif berusaha untuk mencoba mengangkat persoalan dan problematika realitas yang ada pada masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, karya satra dan masyarakat akan terjalin hubungan resiplokal (timbal balik).
Problematika Pengalihan Kekuasaan Era Orde Baru Menuju Reformasi
Ketika berbicara mengenai persoalan dan permasalahan yang terjadi di bangsa ini, nampaknya peristiwa pengalihan kekuasaan menjadi saksi akan penderitaan rakyat Indonesia kala itu, terkhusus yang dirasakan oleh masyarakat golongan bawah. Masa penghujung kekuasaan orde baru yang terjadi pada tahun 1998 yang dipimpin oleh Soeharto, setelah beberapa dekade akhirnya berujung dengan pemberhentian secara paksa. Setelah masa kepemimpinan nya lengser, maka memasuki fase baru yang juga penuh dengan problematika, yakni masa reformasi. Pada era ini, sistem pemerintahan Indonesia memiliki tatanan baru, tetapi perubahan tersebut tidak bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Indonesia. Bahkan, menimbulkan babak-babak baru yang penuh kejanggalan pada sistem pemerintahannya.
Adapun untuk mengetahui secara konkret perihal penggambaran krisis multidimensi yang terjadi pada masa-masa tersebut, yakni era orde baru hingga reformasi yang terjadi pada tahun 1998-sekarang, maka drama adalah salah satu jawabannya. Hal itu disebabkan karena melalui drama, seseorang dapat mengetahui secara visual maupun dramatikal dari peristiwa yang akan diangkat oleh pengarang. Menilik hal itu, naskah drama yang mereprentasikan kejadian yang penuh kontroversi pada masa tersebut, yakni “Jangan Menangis Indonesia” Karya Putu Wijaya yang terdiri dari lima babak. Tema mayor (besar) dari drama tersebut secara general mengisahkan segala bentuk kekacauan yang terjadi di Indonesia di penghujung era presiden Soeharto lengser dan memasuki era reformasi, yakni BJ Habibi hingga presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pemikiran Putu Wijaya yang bebas dituangkan dalam bentuk narasi yang menarik dan pembaca dibuat seolah-olah bertanya-tanya akan cara kerja beliau dalam merepresentasikan drama nya.
Deskripsi Kekacauan yang Terjadi di Indonesia Pada Era Orde Baru Hingga Reformasi dalam Drama “Jangan Menangis Indonesia” Karya Putu Wijaya
Krisis Multidimensi yang terjadi di Indonesia bak memperlihatkan pemerintah saat itu belum bisa menyelesaikan permasalahan bangsa ini. Tidak hanya dalam ranah politik saja, melainkan aspek sosial, budaya, kesehatan, hukum, bahkan kebejatan moral, turut terjadi silih berganti. Pergantian kekuasaan nampaknya belum bisa menghilangkan belenggu kesengsaraan negara ini, terkhusus yang di rasakan oleh kalangan bawah. Adapun penggambaran drama tersebut dimulai dari situasi awal yang dikemukakan oleh dalang perihal berbagai kesusahan yang terjadi di Indonesia saat itu. Kemudian pengarang merepresentasikan tokoh Jendral yang mengucapkan kata-kata yang kotor dan terkesan merendahkan bangsa Indonesia, seperti terdapat kutipan “Kerja bukan cari untung! Angkat! Dasar budak! Gotong royong! Maunya ko menelan” (Wijaya, 2005:3). Akan tetapi, jika kita melihat realitas saat itu dengan pikiran yang jernih, maka memang benar adanya. Tentunya, kita dapat melihat fenomena-fenomena yang terjadi pada bangsa ini, terutama pada masa presiden Soeharto akan lengser dari masa pemerintahannya. Hal tersebut memancing mahasiswa untuk menyerbu gedung MPR RI yang menuntut agar beliau mundur dari jabatannya sebagai presiden. Adapun setelah beliau lengser, maka digantikan oleh era presiden BJ. Habibi, tetapi timbul masalah baru yang membuat rakyat indonesia terus merasakan penderitaannya, yakni krisis monoter yang mengakibatkan harga-harga naik secara signifikan dari sebelumnya. Masa kepemimpinan BJ. Habibi tidak lama, melainkan hanya dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun, kemudian digantikan oleh beberapa presiden setelahnya, terkhusus salah satunya presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menjabat dua periode, tetapi pun permasalahan yang terjadi di bangsa ini tidak bisa terselesaikan. Selain itu, maraknya budaya korupsi nampaknya sudah mengkristal bagi para pemegang kekuasaan. Status sosial bagi mereka lebih penting daripada kemaslahatan masyarakat Indonesia itu sendiri. Akan tetapi, dari segala bentuk permasalahan, baik itu kekacauan, ketidakbenaran, dan ketidakadilan.
Dalam hal ini, melalui penggambaran drama tersebut, pengarang ingin mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia harus terus berjuang, jangan berhenti untuk mencari suatu kebenaran yang konkret. Terkhusus bagi para pegiat yang peduli akan kesejahteraan bagi bangsa ini. Pun pengarang secara nyata hendak mengungkapkan, jika keadilan itu harus terus diperjuangkan, jangan memperlihatkan bahwa kita lemah dengan segala problematika yang terjadi. Tentunya, jika bangsa ini lemah, maka tak khayal rakyat ini terus tertindas. Oleh karena itu, melalui drama Jangan Menangis Indonesia, kita dapat melihat representasi ataupun penggambaran krisis multidimensi yang terjadi di Indonesia pada masa-masa tersebut.
