Konten dari Pengguna

Ketika Bahasa Ibu bersembunyi: Bahasa Asing di Akun Perpustakaan Jakarta

ZAHRA AFINA FADHLIH

ZAHRA AFINA FADHLIH

Mahasiswi Semester 3 UNJ

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ZAHRA AFINA FADHLIH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar 1. Tampilan unggahan Instagram Perpustakaan Jakarta. Sumber: Instagram @perpusjkt https://www.instagram.com/p/DeMKvNhDyqS/?xtok=c3Fzc2VwNXBhazZ5.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1. Tampilan unggahan Instagram Perpustakaan Jakarta. Sumber: Instagram @perpusjkt https://www.instagram.com/p/DeMKvNhDyqS/?xtok=c3Fzc2VwNXBhazZ5.

Sejak lama menyatu dengan manusia, hari-hari tanpa kehadiran media sosial terasa hambar, hal ini mampu dibuktikan melalui data oleh We Are Social (2025) tentang "Overview of Social Media Use" yang mengatakan bahwa warga Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam setiap hari untuk tenggelam dalam media sosial. Data tersebut menunjukkan betapa kuatnya pengaruh media sosial yang bisa menarik perhatian seseorang untuk betah berlama lama di sana. Kalau didefinisikan lewat satu kata "bercerita" mungkin kata yang pas untuk menerjemahkan apa itu media sosial. Di tengah tengah perkembangan teknologi yang terus maju, media sosial menjadi wadah abadi dalam bagian dari hiburan manusia. Bagi masyarakat Indonedia sendiri, akibat dari kemudahan akses internet dan penggunaan ponsel pintar dari berbagai usia mendatangkan rasa antusias untuk hidup berdampingan dengan hal-hal berbau digital, salah satunya media sosial. (Kamila Azzahra, 2025) Media sosial ini punya mekanisme kerja yang sangat sederhana, dalam satu kali menggulir layar seseorang dapat dengan mudah berpindah-pindah dari berita ekonomi, lalu politik, tiba tiba kecantikan, atau gaya hidup. Semua topik berebutan untuk mendapat perhatian dari pengguna meskipun hanya sepersekian detik di layar konten ditayangkan. Berada dalam lingkaran perputaran arus global, bahasa selain berfungsi fundamental sebagai alat komunikasi, kali ini punya peran krusial untuk mencari perhatian warganet dan membangun kedekatan. Di satu sisi, ada upaya untuk mempromosikan dan memajukan bahasa Indonesia di dunia maya, tetapi di sisi yang satunya dominasi bahasa asing, terutama bahasa Inggris, berisiko mengurangi penggunaan bahasa Indonesia dalam komunikasi digital. (Rismanto, 2024) Dalam hal ini, akun Instagram Perpustakaan Jakarta menjadi salah satu lembaga pemerintah yang perlu kematangan perencanaan bahasa dalam penyampaian informasi melalui unggahan konten-konten di dalamnya.

Sebagai lembaga negara, diperlukan cara yang tepat untuk bicara dan bercerita kepada audiensenya supaya tetap komunikatif tanpa kehilangan wibawanya sebagai akun institusi lokal. Dalam upayanya, tentu ada tantangan tersendiri, yaitu masuknya pengaruh budaya dan bahasa asing yang otomatis tidak menutup kemungkinan jika bahasa asing dijadikan pilihan untuk penyajian konten kepada publik. Penggunaan bahasa pada media sosial Perpustakaan Jakarta dapat diamati melalui publikasi kegiatan Piala HB Jassin yang berlangsung sejak bulan Juli sampai dengan Oktober sebagai rangkaian dari perayaan bulan bahasa nasional. Dalam sejumlah unggahannya, ditemukan penggunaan istilah berbahasa Inggris seperti Frequently Asked Questions dan Open Call. Istilah Frequently Asked Questions (FAQ) biasanya dipakai untuk menunjukkan kumpulan pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan kemudian akan dijawab dalam satu kali postingan dengan maksud merangkum pertanyaan sekaligus, sementara Open Call merujuk pada pengumuman terbuka yang memberi kesempatan bagi masyarakat umum agar dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang dilaksanakan penyelenggara. Kalau dilihat dari pola perkembangannya, sebetulnya istilah FAQ ini memang cukup sering dipakai sejak lama dalam banyak urusan, tetapi paling banyak dalam hal urusan kompetisi. Sama halnya dengan istilah Open Call. Istilah yang mirip-mirip dengan Open Call di antaranya: Open Recruitment (perekrutan terbuka) dan Open Register (pendaftaran terbuka). Karena penggunannya yang telah meluas, kata-kata tersebut familier bagi kebanyakan orang, namun, mereka sering kali kebingungan saat mendengar istilah padanannya dalam bahasa Indonesia. Hal tersbeut memperlihatkan bahwa fenomena ini tidak terpisahkan dari kebiasaan masyarakat digital. Oleh karena itu, pemanfaatan tren digital menjadi salah satu pendekatan Perpustakaan Jakarta guna menjangkau masyarakat dan menyesuaikan diri sesuai zamannya tanpa secara berlebihan. Namun meski begitu, popularitas suatu istilah tidak sekonyong-konyong menjadi alasan untuk mengesampingkan bahaha nasional kita.

Bahasa Indonesia adalah unsur identitas nasional dan secara eksplisit dinyatakan dalam ikrar Sumpah Pemuda melalui Kongres Pemuda Kedua pada 28 Oktober 1928. Sebagai lembaga publik, Perpustakaan Jakarta punya tanggung jawab untuk berkomunikasi dengan masyarakat, terlebih lagi Perpustakaan Jakarta menjadi bagian dari ekosistem literasi yang sepatutnya mendukung penggunaan bahasa Indonesia, apalagi mengingat bahwa basis pengikut akunnya besar membuat Perpustakaan Jakarta punya kekuatan mempengaruhi audiens lewat unggahannya. Oleh karena itu, konsistensi komunikasi menjadi elemen penting sebagai media yang dapat meningkatkan pembiasaan berbahasa Indonesia yang baik dan dan memperkaya kosakata bahasa. Namun, kenyataan bahwa kita hidup di era digital bukan berarti bahasa asing harus disingkirkan, adaptasi sangat dibutuhkan dengan catatan perlunya memeprtimbangkan pengunaan bahasa sesuai porsinya apalagi dalam konteks komunikasi digital. Tentu, kehadiran audiens merupakan komponen yang sangat diperhatikan bagi akun pusat informasi publik seperti Perpustakaan Jakarta, namun konsistensi penggunaan bahasa juga tidak kalah penting karena dapat mendorong masyarakat selaku pengonsumsi koneten juga jadi akrab penggunaan bahasa Indonesia dan menjadi cara penguatan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dalam kacamata perencanaan bahasa, keputusan untuk memilih istilah pada media sosial lembaga publik tidak hanya soal gaya komunikasi tetapi juga berkaitan dengan upaya menentukan bahasa yang akan dipakai masyarakat. Perencanaan bahasa bukan secara mentah-mentah diartikan sebagai penolakan terhadap globalisasi melainkan sebagai pertimbangan dan evaluasi mengenai penggunaan bahasa sesuai kebutuhan komunikasi dengan masyarakat. Istilah asing sah-sah saja dipertahankan apabila memang punya fungsi dan tujuan tertentu. Namun, tidak ada salahnya apabila memperkenalkan padanan bahasa Indonesia yang mudah dipahami dan mampu menyampaikan maksud sebenarnya tanpa memakai bahasa asing apalagi mengingat bahwa kekuatan efek globalisasi yang secara instan menyebar luas sampai-sampai berpotensi menggeser budaya lokal, penguatan bahasa nasional menjadi cukup vital dan bermakna. Institusi lokal memegang peran penting untuk menghadirkan dan membiasakan bahasa Indonesia di ruang publik. Dengan demikian, perencanaan bahasa pada media sosial Perpustakaan Jakarta perlu difokuskan supaya melihat relevansi masyarakat tetapi tetap memerhatikan kebutuhan nilai bahasa pemersatu bangsa.

Sumber rujukan:

Ambasari, N. (2023, December). Kewajiban penggunaan Bahasa Indonesia di forum resmi nasional. BINUS University. https://binus.ac.id/bandung/2023/12/kewajiban-penggunaan-bahasa-indonesia-di-forum-res mi-nasional/

Azzahra, K., Triyanti, A., & Desi, Y. (2025). Media sosial dan tantangan di era digital. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, 4(1), 1625–1629. https://jerkin.org/index.php/jerkin

Pratama, A. R. W., & Amir, D. R. (2025). Dampak scrolling tanpa henti: Analisis dampak media sosial terhadap pola pikir, kesehatan mental, dan dinamika kehidupan modern serta perspektif di era digital. (SENTIMAT) SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. (2026, 28 Juli). Pemprov Kalteng perkuat pengutamaan bahasa negara melalui pembinaan lembaga pemerintah dan swasta. https://kalteng.go.id/berita/read/42686/pemprov-kalteng-perkuat-pengutamaan-bahasa-nega ra-melalui-pembinaan-lembaga-pemerintah-dan-swasta

Sihombing, J. (2024, 18 Januari). Transformasi bahasa Indonesia: Tantangan dan peluang dalam era digitalisasi. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. https://badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/artikel-detail/4123/transformasi-bahasa-indones ia:--tantangan-dan-peluang-dalam-era-digitalisasi

Sundary, L., & Fauzah. (2024). Studi analisis perkembangan bahasa Indonesia di era digital. INNOVATIVE: Journal of Social Science Research, 4(3), 11295–11303. https://j-innovative.org/index.php/Innovative

We Are Social. (2025, November 11). Digital 2026: Top digital and social media trends in Indonesia https://wearesocial.com/id/blog/2025/11/digital-2026-top-digital-and-social-media-trends-in-indonesia