Mengapa Kita Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain di Media Sosial?

kegiatan saya saat ini adalah berkuliah di universitas pamulang Fakultas Agama Islam, prodi Manajamen Pendidikan Islam
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari inara nurul aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kamu merasa kurang puas dengan kehidupan sendiri setelah melihat media sosial? Saat membuka Instagram, TikTok, atau media sosial lainnya, kita bisa menemukan berbagai unggahan tentang teman yang sedang berlibur, seseorang yang baru lulus, mendapatkan pekerjaan impian, membeli barang baru, atau menjalani kehidupan yang terlihat begitu menyenangkan. Tanpa disadari, muncul pikiran seperti, “Kok hidup dia lebih bagus, ya?” atau “Kenapa aku belum seperti dia?”

Salah satu alasan kita mudah membandingkan diri adalah karena media sosial sering menampilkan sisi terbaik dari kehidupan seseorang. Orang biasanya mengunggah momen yang menyenangkan, membanggakan, atau menarik untuk dilihat. Kita melihat foto seseorang ketika sedang berlibur, tetapi tidak melihat rasa lelah atau masalah yang mungkin mereka alami selama perjalanan. Kita melihat seseorang merayakan kelulusan, tetapi tidak melihat perjuangan, kegagalan, dan tekanan yang mereka lalui sebelum mencapai keberhasilan tersebut.
Hal inilah yang terkadang membuat kita membandingkan kehidupan nyata kita dengan kehidupan orang lain yang hanya terlihat melalui media sosial. Kita mengetahui berbagai kekurangan dan masalah dalam kehidupan sendiri, tetapi hanya melihat bagian terbaik dari kehidupan orang lain. Akibatnya, kehidupan orang lain terlihat lebih sempurna, sedangkan kehidupan kita terasa penuh kekurangan.
Kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus juga dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri. Kita bisa mulai merasa kurang cantik, kurang pintar, kurang sukses, kurang memiliki banyak teman, atau merasa tertinggal dari orang-orang seusia kita. Perasaan tersebut dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri, iri, kecewa, bahkan membuat seseorang tidak lagi menikmati apa yang sebenarnya sudah dimiliki.
Padahal, setiap orang memiliki kondisi dan perjalanan hidup yang berbeda. Ada seseorang yang berhasil lebih cepat, sementara orang lain membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang sudah mengetahui tujuan hidupnya sejak muda, sementara yang lain masih mencoba menemukan jalan yang sesuai untuk dirinya. Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menganggap diri sendiri lebih rendah.
Namun, membandingkan diri dengan orang lain tidak selalu memberikan dampak buruk. Jika dilakukan dengan cara yang tepat, keberhasilan orang lain justru dapat menjadi sumber motivasi. Ketika melihat seseorang berhasil mencapai sesuatu, kita dapat menjadikannya inspirasi untuk belajar dan berkembang. Perbedaannya terletak pada cara kita memandang pencapaian tersebut. Kita dapat berpikir, “Dia bisa berkembang, aku juga ingin berusaha,” bukan “Dia sudah berhasil, berarti aku gagal.”
Untuk mengurangi kebiasaan membandingkan diri, kita perlu menyadari bahwa media sosial bukan gambaran lengkap mengenai kehidupan seseorang. Apa yang terlihat di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan mereka. Kita juga dapat membatasi waktu penggunaan media sosial dan memilih konten yang memberikan pengaruh positif. Jika ada akun tertentu yang membuat kita terus merasa rendah diri atau tidak puas dengan kehidupan sendiri, kita dapat mengurangi interaksi dengan akun tersebut.
Hal yang tidak kalah penting adalah belajar membandingkan diri dengan diri sendiri di masa lalu. Daripada terus bertanya mengapa belum memiliki pencapaian seperti orang lain, kita dapat melihat sejauh mana perkembangan yang sudah kita lakukan. Mungkin kita belum mencapai apa yang diinginkan, tetapi bisa jadi kita sudah jauh lebih berkembang dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Pada akhirnya, media sosial bukanlah ukuran keberhasilan seseorang. Kehidupan setiap orang memiliki waktu, proses, dan jalannya masing-masing. Kita tidak harus memiliki pencapaian, penampilan, atau kehidupan yang sama dengan orang lain untuk merasa cukup. Yang terpenting adalah terus berkembang, menghargai proses, dan belajar menerima bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda.
