Tren “654321” di ChatGPT, Ketika AI Diajak Mengenal

kegiatan saya saat ini adalah berkuliah di universitas pamulang Fakultas Agama Islam, prodi Manajamen Pendidikan Islam
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari inara nurul aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Media sosial belakangan ini kembali diramaikan oleh berbagai tren yang melibatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Salah satu yang menarik perhatian adalah tren “654321” di ChatGPT. Tren ini membuat pengguna mencoba meminta AI menggambarkan beberapa hal tentang dirinya berdasarkan percakapan yang pernah dilakukan.
Tren tersebut menggunakan angka 6 hingga 1 sebagai penanda beberapa pertanyaan. Pengguna biasanya meminta ChatGPT menyebutkan enam hal yang sering mereka katakan, lima hal yang disukai, empat hal yang dianggap penting, tiga hal yang ditakuti, dua hal yang ingin diubah, dan satu hal yang paling diimpikan.
Menariknya, hasil yang diberikan ChatGPT dapat berbeda pada setiap pengguna. Jawaban yang muncul bergantung pada percakapan dan informasi yang tersedia bagi AI. Karena itu, hasil dari satu orang belum tentu sama dengan hasil milik orang lain.
Hal inilah yang kemudian membuat tren tersebut menarik untuk dibagikan di media sosial. Pengguna dapat melihat jawaban yang diberikan AI, kemudian membandingkannya dengan apa yang mereka rasakan tentang diri sendiri. Ada hasil yang mungkin terasa sesuai, tetapi ada juga jawaban yang justru membuat pengguna berpikir ulang atau merasa tidak terlalu menggambarkan dirinya.
Tren ini juga memperlihatkan perubahan cara orang menggunakan AI. Jika sebelumnya ChatGPT lebih sering digunakan untuk mencari informasi, membantu tugas, membuat tulisan, atau mencari ide, kini pengguna juga memanfaatkannya untuk membuat konten yang lebih personal dan mengikuti tren di media sosial.
Namun, hasil dari tren tersebut tetap perlu dilihat sebagai respons dari AI, bukan sebagai gambaran mutlak tentang kepribadian seseorang. ChatGPT memberikan jawaban berdasarkan konteks yang tersedia dalam percakapan, sehingga hasilnya bisa saja tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi pengguna.
Selain itu, pengguna juga perlu memperhatikan informasi pribadi yang diberikan kepada layanan AI. Tidak semua hal tentang diri sendiri perlu dimasukkan ke dalam percakapan hanya karena sedang mengikuti tren.
Pada akhirnya, tren “654321” menjadi salah satu contoh bagaimana AI semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari. Dari sebuah prompt sederhana, pengguna bisa mendapatkan hasil yang kemudian menjadi bahan untuk bercanda, berdiskusi, atau sekadar melihat kembali berbagai hal tentang dirinya.
Tren seperti ini juga menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak hanya menghadirkan teknologi baru, tetapi ikut menciptakan cara baru bagi orang untuk berinteraksi dengan teknologi dan membagikan pengalaman mereka di media sosial.
