Konten dari Pengguna

Inilah Salah Satu Faktor Denmark Dinobatkan sebagai Negara Paling Bahagia

Inatsan Yasyfa Fadhlilla Nugroho

Inatsan Yasyfa Fadhlilla Nugroho

Mahasiswi S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inatsan Yasyfa Fadhlilla Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : shutterstock.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : shutterstock.com

Saat mendengar kata negara paling bahagia, pasti terlintas dalam benak kita, "Apasih yang menjadi kunci kebahagiaan negara tersebut sampai bisa dinobatkan sebagai negara paling bahagia?"

Keistimewaan Negara Denmark

Dalam World Happiness Report 2022 menyebutkan bahwa Denmark berada di urutan kedua negara paling bahagia di dunia. Indonesia berada pada urutan ke-80. Menurut OECD (Organization of Economic Cooperation and Development) Denmark secara konsisten dinobatkan sebagai negara terbahagia sejak tahun 1973. Maknanya, negara ini telah dinobatkan sebagai negara terbahagia lebih dari 40 tahun.

Alasan Denmark Dinobatkan Sebagai Negara Paling Bahagia

Dalam buku The Danish Way of Parenting yang ditulis oleh Jessica Joelle dan Iben Dissing Sandahl menyatakan bahwa setelah melakukan riset bertahun-tahun, akhirnya mereka menemukan alasan mengapa Denmark dinobatkan sebagai negara paling bahagia. Alasannya adalah pola asuh mereka. Pola asuh menjadi sangat penting karena anak layaknya tanah liat yang sedang dibentuk, sehingga sangat mudah untuk dibentuk agar memiliki kepribadian yang baik. Pola asuh inilah yang membuat masyarakat Denmark memiliki emosi yang stabil. Pola ini layaknya tradisi, terus turun temurun sehingga Denmark secara konsisten dapat dinobatkan sebagai negara terbahagia.

6 Kunci Parenting Style Masyarakat Denmark

Jessica Joelle dan Iben Dissing Sandahl menetapkan 6 pola asuh pada masyarakat Denmark yang kerap disebut PARENT :

1. Play

Sumber : pexels.com

Bermain menurut masyarakat Denmark adalah kegiatan yang tidak terstruktur dan tidak pasif. Bermain biola, menonton TV, dan bermain HP tidak termasuk dalam kegiatan bermain. Saat bermain dengan temannya, anak dapat belajar bekerja sama, bernegosiasi, mengendalikan emosi, dan mengenali emosi orang lain. Hal-hal ini tidak didapatkan anak di sekolah.

Tips bermain ala masyarakat Denmark :

1) Matikan gadget

Dengan tidak adanya gadget imajinasi anak mampu berkembang dengan baik karena imajinasi adalah hal yang paling penting saat bermain.

2) Gunakan seni

Siapkan bahan-bahan seni sepeti alat lukis, alat menggambar, dan sebagainya agar anak dapat mengekspresikan diri.

3) Biarkan anak bermain di luar

Ajak anak ke lingkungan yang aman untuk bermain dan biarkan mereka menjelajah lingkungannya.

4) Bermain dengan anak lain yang beda usia

Ajak anak agar mengenali teman-temannya yang berbeda usia. Hal ini dapat membuat anak belajar untuk mengayomi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua.

5) Biarkan anak bermain sendiri

Ternyata hal ini sangat penting, karena anak dapat mengendalikan emosinya dan mengetahui apa yang terjadi pada hari itu

2. Authenticity

Yang dimaksud dengan keaslian adalah jujur terhadap emosi kita kepada anak karena seringkali orang tua menutupi kesedihannya di depan anak. Kita pun harus jujur apabila anak bertanya dan menjawab pertanyaan mereka sesuai dengan usia mereka. Karena anak sebetulnya dapat mengenali kebohongan orang tua. Dengan mengetahui kejujuran emosi orang tuanya, dapat membantu anak mengenali emosinya juga.

3. Reframing

Kita harus berhati-hati dalam me-label perilaku anak karena seperti yang kita tahu bahwa ucapan adalah doa. Apabila anak sering mendengar pernyataan buruk tentang dirinya, maka ia akan memiliki penilaian negatif terhadap dirinya. Kenali ulang dan berikan pengertian pada anak mengenai perilaku buruknya. Contohnya beri pemahaman kepada anak yang sulit untuk makan, bukan karena ia tidak ingin makan tetapi ia sudah makan banyak cemilan, sehingga ia harus mengurangi cemilan agar tetap makan.

4. Emphaty

Cara untuk mengajarkan empati adalah jadilah contoh sebagai orang yang berempati di rumah. Keluarga yang tidak mendukung empati anak ditandai dengan kekerasan verbal, non-verbal maupun psikologis. Keluarga yang overprotective juga tidak mendukung anak untuk memiliki rasa empatik karena mereka merasa bahwa dia adalah pusat dunia dan menjadi pribadi yang egois.

5. No Ultimatum

Kita tidak boleh mudah memukul, membentak, dan memarahi anak. Hukuman fisik dan verbal tidak efektif bagi anak. Hal ini justru dapat membuat anak berpotensi nakal di belakang orang tua.

6. Togetherness

Sumber : pexels.com

Masyarakat Denmark memiliki prinsip Hygga. Hygga adalah kegiatan untuk menikmati kebersamaan keluarga. Mereka membuat waktu-waktu khusus untuk quality time dengan keluarga tercinta. Maka tak heran ya, apabila Denmark dinobatkan sebagai negara paling bahagia. Mereka juga membuat peraturan saat berkumpul seperti no gadget, hilangkan stress sejenak saat berkumpul, dan tentukan waktu khusus agar tiap anggota keluarga meluangkan waktunya untuk berkumpul.

Bisakah Indonesia

Daftar Pustaka :

Musman, Asti. 2020. Seni Mendidik Anak 4.0. Yogyakarta : Anak Hebat Indonesia