Kota yang Terlalu Mengandalkan Suara

Peneliti Mobilitas Penduduk - BRIN
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari inayah hidayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Beberapa waktu ini saya berkesempatan mengenal lebih dekat komunitas Tuli. Awalnya, saya banyak belajar tentang bahasa isyarat, budaya Tuli, dan berbagai aktivitas komunitas yang mereka lakukan. Namun ada satu hal yang tidak saya duga sebelumnya: saya mulai melihat kota dengan cara yang berbeda.
Sebagai orang dengar, saya hampir tidak pernah memikirkan bagaimana suara bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Saya mendengar pengumuman di stasiun, panggilan antrean di rumah sakit, informasi keberangkatan di bandara, atau pemberitahuan dari petugas layanan publik. Semua terasa begitu biasa sehingga saya tidak pernah mempertanyakan keberadaannya.
Sampai suatu saat saya bertanya pada diri sendiri: bagaimana jika saya tidak bisa mendengar?
Pertanyaan sederhana itu ternyata mengubah cara saya memperhatikan lingkungan sekitar.
Saya mulai menyadari bahwa banyak ruang publik di sekitar kita dibangun dengan asumsi bahwa semua orang dapat mendengar. Ketika kereta mengalami perubahan jadwal, informasi sering kali diumumkan melalui pengeras suara. Ketika nomor antrean dipanggil, suara menjadi penanda utama. Ketika terjadi keadaan darurat, alarm berbunyi nyaring sebagai peringatan.
Sebagai orang dengar, saya hampir tidak pernah mengalami kesulitan dalam situasi tersebut. Namun setelah mengenal teman-teman Tuli, saya mulai memahami bahwa pengalaman menggunakan ruang publik bisa sangat berbeda.
Yang menarik, saya tidak menemukan keluhan atau kemarahan ketika berinteraksi dengan beberapa teman Tuli. Sebaliknya, saya justru melihat kreativitas dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Mereka terbiasa mengandalkan informasi visual, saling berbagi informasi, dan membangun jaringan sosial yang membantu mereka menjalani aktivitas sehari-hari.
Dari situlah saya menyadari bahwa persoalannya bukan terletak pada kemampuan individu, melainkan pada bagaimana lingkungan dirancang.
Pemikiran ini mengingatkan saya pada konsep Deaf Space, yaitu pendekatan yang melihat bagaimana ruang dapat dirancang dengan mempertimbangkan pengalaman visual dan kebutuhan komunikasi komunitas Tuli (Edwards, 2014). Dalam perspektif ini, aksesibilitas bukan hanya soal menyediakan alat bantu, tetapi juga tentang bagaimana ruang memungkinkan setiap orang memperoleh informasi dan berinteraksi secara nyaman.
Misalnya, ketika sebuah video memiliki teks, bukan hanya teman Tuli yang terbantu. Saya sendiri sering menonton video dengan teks ketika berada di tempat ramai atau ketika tidak ingin menyalakan suara. Layar informasi di stasiun juga membantu wisatawan, lansia, maupun masyarakat yang mungkin tidak mendengar pengumuman dengan jelas.
Tanpa sadar, banyak fasilitas yang awalnya dirancang untuk meningkatkan aksesibilitas justru membuat hidup lebih mudah bagi semua orang.
Hal lain yang saya pelajari adalah bahwa kota tidak hanya terdiri atas jalan, gedung, atau kendaraan. Kota juga dibangun oleh informasi. Ketika informasi dapat diakses, seseorang dapat bergerak dengan lebih mandiri. Sebaliknya, ketika informasi hanya tersedia dalam satu bentuk, sebagian orang akan menghadapi hambatan yang sebenarnya bisa dihindari.
Berbagai penelitian bahkan mulai memperkenalkan gagasan deaf-friendly city, yaitu kota yang tidak hanya menyediakan akses fisik, tetapi juga akses komunikasi melalui informasi visual, pencahayaan yang baik, tata ruang yang mendukung komunikasi bahasa isyarat, serta sistem informasi yang mudah diakses oleh komunitas Tuli (Chidiac et al., 2024).
Mungkin karena itulah saya mulai lebih sering memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya luput dari perhatian. Apakah video yang saya tonton memiliki teks? Apakah informasi di stasiun tersedia dalam bentuk visual? Apakah acara publik menyediakan juru bahasa isyarat? Apakah informasi penting dapat diakses oleh semua orang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak pernah muncul dalam benak saya sebelumnya.
Bagi saya, mengenal komunitas Tuli bukan hanya tentang belajar bahasa isyarat atau memahami disabilitas. Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa setiap orang mengalami kota dengan cara yang berbeda. Apa yang terasa mudah bagi sebagian orang belum tentu mudah bagi orang lain.
Dan mungkin, kota yang benar-benar ramah bukanlah kota yang menganggap semua orang sama, melainkan kota yang memahami bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk melihat, mendengar, memahami, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, komunitas Tuli mengajarkan saya satu hal sederhana: kadang-kadang kita perlu melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda untuk menyadari bahwa masih ada banyak hal yang bisa dibuat lebih baik. Bukan hanya untuk komunitas Tuli, tetapi untuk kita semua.
