Migrasi dan Bias Gender

inayah hidayati
Peneliti di Pusat Riset Kependudukan BRIN
Konten dari Pengguna
9 Maret 2024 7:23 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari inayah hidayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi rumah tangga setara gender. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi rumah tangga setara gender. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Migrasi adalah fenomena kompleks yang menarik perhatian akademisi, khususnya dalam konteks implikasinya bagi perempuan dan dinamika gender. Penelitian mendalam telah mengungkap disparitas gender yang signifikan di setiap fase migrasi, menunjukkan bahwa norma dan harapan gender memengaruhi pengalaman migrasi, baik dalam membentuk peluang maupun hambatan yang dihadapi individu berdasarkan identitas gender mereka.
ADVERTISEMENT
Dalam konteks migrasi antar negara yang berbatasan langsung, misalnya, penelitian telah membahas bagaimana persepsi masyarakat tentang femininitas dan maskulinitas berinteraksi dengan dinamika migrasi, seringkali menghasilkan mobilitas spasial yang terbatas bagi perempuan.
Hal ini menekankan pentingnya untuk mengakui migrasi sebagai fenomena yang dipengaruhi gender, yang dibentuk oleh permainan peran gender, dinamika kekuasaan, dan norma-norma sosial.
Lebih lanjut, penelitian terbaru telah menyoroti bagaimana kebijakan migrasi dapat secara tidak disengaja memperkuat stereotip gender, menggambarkan perempuan sebagai bergantung pada laki-laki dan dengan demikian merusak otonomi dan agensi mereka.
Bias-bias ini tidak hanya memengaruhi pengalaman migrasi perempuan tetapi juga mempengaruhi berbagai bidang, termasuk bidang seperti kedokteran, di mana bias gender menjadi hambatan signifikan bagi kemajuan dan keberhasilan perempuan.
ADVERTISEMENT
Baik di dunia akademik maupun kesehatan, penelitian telah mendokumentasikan bagaimana stereotip gender dan diskriminasi menghambat kemajuan perempuan, menghasilkan hasil yang merugikan dan membatasi peluang mereka untuk tumbuh. Demikian pula, penyelidikan tentang emigrasi dan remigrasi telah menekankan cara rumit di mana migrasi berinteraksi dengan otonomi perempuan, membentuk pengalaman mereka dan mempengaruhi akses mereka terhadap sumber daya dan peluang.
Lebih lanjut, penelitian telah menyoroti keterkaitan gender, kelas, dan ketidaksetaraan dalam proses migrasi, mengungkap bagaimana fenomena seperti feminisasi migrasi, pekerja seks, dan perdagangan perempuan dibentuk oleh dan memperkuat norma dan bias gender. Para ahli telah menekankan pentingnya memahami dan menangani kompleksitas ini untuk mengembangkan kebijakan dan praktik migrasi yang lebih inklusif dan adil.
ADVERTISEMENT
Ideologi gender dalam keluarga juga memainkan peran penting dalam perilaku migrasi, dengan disparitas yang diamati antara pasangan tradisional dan egaliter. Mengakui dan menantang diskriminasi gender dan ketidaksetaraan dalam kebijakan dan praktik migrasi adalah langkah penting menuju menciptakan sistem migrasi yang lebih adil dan merata yang menghormati hak dan martabat semua migran.
Dalam praktiknya, ini melibatkan penyediaan layanan yang sensitif terhadap gender, penanganan kekerasan berbasis gender, pengakuan akan kebutuhan yang beragam dari perempuan migran, dan mempromosikan partisipasi mereka dalam proses pengambilan keputusan terkait migrasi.
Dengan mengadopsi pendekatan komprehensif yang mempertimbangkan sifat gender dari pengalaman migrasi, para pembuat kebijakan dapat memajukan kesetaraan gender, memberdayakan perempuan, dan memfasilitasi masyarakat yang lebih inklusif dan adil bagi semua migran.
ADVERTISEMENT