Konten dari Pengguna

KKNT-T IPB Hadirkan PAMANGGIS untuk Hilirisasi Manggis Desa Kalong II

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KKNT-IPB Desa Kalong Dua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi bersama warga Desa Kalong II saat pelaksanaan program PAMANGGIS | Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi bersama warga Desa Kalong II saat pelaksanaan program PAMANGGIS | Dokumentasi Pribadi

Program PAMANGGIS dari KKN-T IPB University mendorong hilirisasi manggis Desa Kalong II melalui edukasi budidaya dan pengolahan menjadi selai serta jus bernilai tambah untuk memperkuat perekonomian desa.

Desa Kalong II, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, dikenal sebagai salah satu wilayah dengan potensi manggis yang cukup besar. Sekitar 10 hektare kebun manggis tersebar di desa ini, ditambah pohon-pohon manggis yang tumbuh di pekarangan serta lahan milik warga. Sejumlah kepala keluarga bahkan menjadikan manggis sebagai sumber penghasilan musiman.

Melihat potensi tersebut, Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Inovasi IPB 2025 menghadirkan program unggulan bertajuk PAMANGGIS (Panduan Agronomis dan Manajemen Pengolahan Manggis). Program ini dirancang untuk mengoptimalkan pengelolaan manggis dari hulu hingga hilir, mulai dari perawatan tanaman sampai pengolahan pascapanen agar memiliki nilai tambah.

Selama ini manggis cenderung dijual apa adanya sebagai buah segar tanpa diolah menjadi produk turunan. Ketergantungan pada penjualan segar tersebut justru memicu persoalan di Desa Kalong II ketika panen raya tiba. Produksi yang melimpah kerap tidak sebanding dengan daya serap pasar sehingga harga manggis ikut merosot.

“Kalau panen banyak, harganya bisa turun sampai Rp1.000 per kilogram. Kadang buahnya menumpuk karena tidak habis terjual, sehingga sering dibagikan ke tetangga,” ungkap salah satu warga Desa Kalong II.

Selain persoalan harga, mahasiswa KKN-T IPB juga menemukan tantangan dari sisi budidaya. Banyak pohon manggis belum dirawat secara optimal. Pemupukan dan pemangkasan yang terbatas berdampak pada rendahnya produktivitas tanaman. Tak sedikit warga mengeluhkan pohon manggis yang berbuah sedikit meskipun sudah memasuki musim panen.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim KKN-T IPB menyusun buku saku PAMANGGIS sebagai panduan praktis bagi masyarakat. Buku ini disiapkan sebelum pelaksanaan kegiatan lapangan sebagai bekal edukasi mengenai pengelolaan manggis secara terpadu, mulai dari budidaya hingga pengolahan hasil.

Buku Saku PAMANGGIS KKN-T IPB | Dokumentasi Pribadi

Selain memuat panduan perawatan yang mudah diterapkan, buku saku PAMANGGIS juga memperkenalkan pemanfaatan teknologi pertanian digital, seperti Digitani, sebagai sarana membantu memecahkan persoalan budidaya. Buku ini turut mengulas peluang pengembangan usaha berbasis manggis, sekaligus menyajikan contoh pengolahan hasil seperti selai dan jus manggis guna meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

Isi buku mencakup informasi mengenai bahan baku, tahapan pengolahan, pengemasan, penyimpanan produk, teknik pasteurisasi jus manggis, hingga aspek budidaya seperti pemupukan, penyiangan, panen, dan pascapanen, serta gambaran peluang bisnis produk olahan manggis di tingkat rumah tangga dan desa.

Penggagas PAMANGGIS, Rafi Andira Zayyan dan Justin Farel Alfareza, menjelaskan bahwa program ini hadir sebagai respons atas keterbatasan pengetahuan masyarakat terkait budidaya hingga pengolahan pascapanen manggis.

“Program PAMANGGIS kami rancang untuk memberikan edukasi komprehensif berbasis prinsip agronomis. Kami tidak hanya menjelaskan cara merawat tanaman, tetapi juga memperkenalkan pengolahan manggis menjadi produk seperti selai dan jus agar memiliki nilai tambah,” ujar Rafi.

Ia menambahkan bahwa masyarakat juga dibekali pengalaman langsung melalui praktik lapangan.

“Dengan adanya praktik pembuatan selai dan jus manggis, warga diharapkan mampu meningkatkan kualitas produksi sekaligus nilai ekonomis buah manggis yang selama ini hanya dijual dalam bentuk segar,” lanjutnya.

Sebagai implementasi di lapangan, tim KKNT IPB menggelar demonstrasi pengolahan manggis pada 18 Januari 2026 di Masjid Baitudzakirin, RT 003/001, Desa Kalong II, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 50 warga dari berbagai kalangan.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat terlibat langsung mengolah manggis menjadi selai dan jus, sekaligus mempelajari teknik pasteurisasi sederhana untuk memperpanjang masa simpan produk agar lebih aman dan layak dipasarkan. Warga ikut mengupas manggis, mengaduk adonan selai, hingga memahami proses pembuatan jus pasteurisasi secara bertahap. Suasana kegiatan berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi.

Tak hanya pelatihan, mahasiswa KKNT IPB juga membagikan produk hasil olahan berupa selai dan jus manggis serta buku saku PAMANGGIS kepada warga. Harapannya, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti saat kegiatan berlangsung, tetapi dapat dikembangkan secara mandiri, baik di tingkat rumah tangga maupun kelompok usaha desa.

Melalui PAMANGGIS, potensi manggis Desa Kalong II diharapkan tidak lagi bergantung pada penjualan buah segar semata. Dengan pengelolaan yang lebih baik dan inovasi olahan, manggis berpeluang berkembang menjadi produk unggulan desa yang bernilai tambah serta memperkuat perekonomian masyarakat secara berkelanjutan.