Mengapa Generasi Alpha Semakin Sulit Berbicara dengan Nada yang Sopan
Tulisan dari Indah Dolo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena yang semakin sering kita lihat di era digital saat ini, semakin sering kita menemukan Generasi Alpha yang berbicara dengan cara yang kurang sesuai dengan etika dan usia mereka. Di media sosial seperti YouTube, Facebook, TikTok, dan platform lainnya yang sering kita buka, tidak sulit menemukan anak-anak yang membuat candaan dengan bahasa dan perilaku yang sebenarnya tidak pantas untuk usia mereka. Namun, sebagian orang tua justru membiarkan hal tersebut, bahkan ada yang memanfaatkannya sebagai bahan konten agar menarik perhatian penonton dan meningkatkan jumlah tayangan. Padahal, hal seperti ini dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap pembentukan karakter anak. Jika terus dianggap wajar, anak-anak dapat terbiasa menggunakan bahasa yang kurang sopan, bahkan kepada orang tua maupun orang-orang di sekitarnya.
Mengapa Fenomena Ini Terjadi dan Dampaknya terhadap Anak
Hal yang sering terlewat dalam pembahasan mengenai anggapan bahwa anak-anak zaman sekarang cenderung berbicara lebih kasar adalah bahwa fenomena ini tidak semata-mata disebabkan oleh faktor moral atau pola pengasuhan dalam keluarga. Terdapat dua faktor yang berperan secara bersamaan. Pertama, sebagian orang dewasa sengaja menjadikan ucapan kasar yang diucapkan anak-anak sebagai bahan konten karena kontras antara kepolosan anak dan kata-kata kasar dianggap lucu serta mudah menarik perhatian publik. Kedua, algoritma media sosial dirancang untuk meningkatkan keterlibatan pengguna sehingga konten yang memicu emosi kuat, seperti keterkejutan dan humor kasar, cenderung memperoleh lebih banyak interaksı. Akibatnya, konten semacam itu lebih sering direkomendasikan dan tersebar luas, termasuk kepada anak-anak yang mengakses media sosial melalui perangkat milik orang tua maupun akun pribadi mereka. Fenomena ini dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap kebiasaan dan pembentukan karakter anak. Pada usia dini, anak-anak belum memiliki kemampuan yang cukup untuk membedakan antara ucapan yang hanya dimaksudkan sebagai candaan dan ucapan yang pantas digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mereka, sesuatu yang sering ditampilkan serta mendapatkan respons berupa tawa atau pujian akan dianggap sebagal perilaku yang dapat diterima. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila kata-kata kasar yang awalnya hanya ditiru untuk tujuan hiburan perlahan menjadi bagian dari kebiasaan berbicara mereka, bahkan saat berkomunikasi dengan orang tua maupun orang yang lebih tua. Akibatnya, nilai-nilai kesopanan yang sebelumnya dijaga dalam lingkungan keluarga dapat semakin memudar karena anak terbiasa melihat bahasa kasar mendapatkan respons positit, bukan teguran.
Dalam kondisi seperti ini, peran orang tua menjadi sangat penting. Namun, tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar melakukan kekeliruan dengan membiarkan, merekam, bahkan membagikan perilaku tersebut ke media sosial karena dianggap lucu dan menghibur. Tindakan tersebut dapat memberikan pesan kepada anak bahwa penggunaan kata-kata kasar merupakan hal yang wajar dan dapat diterima. Anak-anak belum mampu memahami bahwa respons orang dewasa terhadap perilaku tertentu dapat bersifat situasional. Bagi mereka, perhatian, tawa, dan pujian yang diberikan oleh orang dewasa sudah cukup untuk dianggap sebagai bentuk penerimaan. Akibatnya, anak cenderung mengulangi perilaku yang sama tanpa memahami bahwa ucapan tersebut sebenarnya tidak sesuai dengan norma kesopanan yang berlaku dalam masyarakat.
Langkah Konkret yang Dapat Dilakukan
Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi fenomena ini? Tentu, upaya tersebut tidak cukup hanya dengan nasihat umum seperti "awasi konten yang ditonton anak" , yang dalam praktiknya sering kali sulit diterapkan di tengah kesibukan sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah yang lebih nyata dan dapat diterapkan secara konsisten oleh orang tua.
Pertama, hindari menertawakan, merekam, atau membagikan momen ketika anak mengucapkan kata-kata kasar, meskipun pada saat itu terdengar lucu. Respons yang tenang disertai penjelasan sederhana akan jauh lebih efektif dibandingkan tawa yang justru dapat memperkuat kebiasaan tersebut. Kedua, apabila anak mulai berbicara kurang sopan kepada orangtua atau orang yang lebih tua, berikan teguran dengan cara yang baik dan jelaskan bahwa setiap situasi memiliki aturan kesopanan yang berbeda.
Anak perlu memahami bahwa cara berbicara kepada teman sebaya tidak selalu dapat diterapkan saat berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Ketiga, luangkan waktu untuk sesekali memeriksa jenis konten yang muncul di media sosial anak. Tujuannya bukan untuk mengawasi secara berlebihan, melainkan untuk memahami pola tontonan yang sering mereka konsumsi dan membantu mengarahkan mereka kepada konten yang lebih positif, edukatif, serta sesuai dengan usia mereka.
Melalui langkah-langkah sederhana tersebut, orang tua dapat berperan lebih aktif dalam membentuk kebiasaan berbahasa yang baik pada anak. Dengan pendampingan yang tepat dan konsisten, anak akan lebih mudah memahami pentingnya sopan santun dalam berkomunikasi, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Bukan Sekadar Soal Disiplin di Rumah
Pada akhirnya, penggunaan bahasa kasar oleh anak-anak generasi saat ini bukan semata-mata persoalan disiplin di lingkungan keluarga. Fenomena ini juga berkaitan dengan pengaruh berbagai faktor di luar rumah, mulai dari kreator konten hingga algoritma media sosial yang turut membentuk kebiasaan berbahasa anak. Pengaruh tersebut sering kali bekerja lebih cepat dan lebih intens daripada yang disadari oleh banyak orang tua. Oleh karena itu, memahami bagaimana lingkungan digital memengaruhi perilaku anak merupakan langkah awal yang penting untuk mencegah dan mengatasi masalah ini secara lebih efektif.

