Konten dari Pengguna

Pemanfaatan Lahan, Mahasiswa UMM Adakan Edukasi Alam Untuk Anak Sekolah

Indah Dwi Pratiwi

Indah Dwi Pratiwi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Indah Dwi Pratiwi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tim Kuliah Kerja Nyata Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (KKN-PMM Bhaktimu Negeri) kelompok 44 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berusaha menghasilkan program kerja nyata yang dapat bermanfaat bagi masyarakat setempat. Program kerja tersebut yaitu memberikan edukasi alam terhadap siswa Sekolah Dasar dengan memanfaatkan lahan pertanian.

Sekolah biasanya identik dengan bangunan yang berisi banyak ruang kelas. Pada bangunan tersebut, ada guru dan murid yang melakukan aktivitas belajar-mengajar. Namun seiring berjalannya waktu, konsep sekolah pun berkembang, misalnya saja dengan hadirnya edukasi alam. Di Indonesia, sekolah alam sendiri baru diperkenalkan tahun 1998 oleh Lendo Novo, seorang aktivis lingkungan sekaligus social entrepreneur. Padahal di luar negeri, sekolah berbasis alam ini sudah ada sejak tahun 1950 dan digagas pertama kali di Denmark.

Edukasi alam atau sekolah alam memiliki konsep untuk mengajak anak-anak berinteraksi langsung dengan alam dan memanfaatkan alam sebagai sumber belajar setiap harinya. Pembelajaran tak lagi abstrak bagi siswa karena mereka dapat langsung menerapkannya dengan media belajar yang ada di alam. ”Alam bisa menjadi sumber pengetahuan yang baik bagi anak-anak. Generasi muda kita mesti bisa mengeksplorasi alam sebagai sumber belajar dan sumber ekonomi untuk kesejahteraan bangsa dengan tetap menjaga keseimbangan alam,” kata Bapak Muliono, selaku Kepala Desa Ngadirejo.

Interaksi dengan alam itu bukan hanya dirasakan dari lingkungan sekolah yang luas dan asri karena ditumbuhi dengan beragam pepohonan dan bangunan kelas yang ramah lingkungan. Yang terpenting justru bagaimana guru bisa mentransfer ilmu pengetahuan, membentuk karakter, mengajarkan berbagai keterampilan hidup, dan kewirausahaan lewat kegiatan-kegiatan bernuansa alam. Sekolah alam umumnya adalah sekolah formal, ada yang dari playgroup hingga SMA. Edukasi alam dikembangkan lagi untuk bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan komprehensif untuk pengembangan minat, bakat, dan potensi setiap anak.

Terintegrasi di sekolah alam, pembelajaran dilaksanakan secara tematik dengan memanfaatkan media belajar yang tersedia di alam. Pelajaran-pelajaran yang mesti dikuasai siswa tidak diajarkan secara terpisah-pisah, tetapi terintegrasi di dalam buku tema yang sudah dibuat. Kegiatan berkebun, beternak, atau bersawah menjadi cara yang lazim digunakan di sekolah alam. Anak-anak yang senang bermain dan memiliki rasa ingin tahu bisa belajar banyak dari kegiatan yang tidak lepas dari alam itu.

Foto: Edukasi alam di lahan pertanian warga

Untuk belajar menghitung, misalnya siswa diajak untuk menanam cabai di lingkungan sekolah. Ketika panen, siswa bisa menghitung cabai untuk mengenal konsep satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan. Mereka bisa mengenal satuan berat dengan menimbang hasil panen cabai. Kewirausahaan pun diajarkan dengan mengajak anak-anak memperkirakan harga jual cabai serta menghitung kerugian atau keuntungan yang diperoleh dari harga jual yang ditetapkan. Dalam proses menanam cabai, anak-anak pun dapat belajar sains tentang pertumbuhan. Mereka juga bisa belajar bahasa saat di minta untuk menceritakan atau menuliskan pengalaman bertanam cabai. Dengan edukasi alam ini siswa dapat belajar mengenai perkembangbiakan pada beberapa tumbuhan, cara menjaga dan melestarikan tumbuhan tersebut dan memanfaatkan tumbuhan tersebut dapat digunakan untuk apa.

“Pembentukan karakter bisa dilakukan dengan mengajarkan anak-anak disiplin untuk tidak membuang sampah dan memilah sampah, memelihara tumbuhan di lingkungan sekitar, dan bekerja sama dengan teman-teman. Anak diberi ruang untuk berekspresi dan bereksplorasi. Belajar juga dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari sehingga efektif dan menyenangkan buat anak-anak”. Ujar Fitri selaku koordinator kelompok.