"Bigaku" Konsep Estetika Jepang sebagai Psikoterapi Manusia

Mahasiswi Universitas Airlangga Studi Kejepangan
Tulisan dari indah fajriyatus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Secara etimologis, kata estetika berasal dari bahasa Latin aestheticus dan dalam bahasa Yunani yang berarti rasa atau hal- hal yang dapat diserap oleh panca indera manusia. Estetika merupakan cabang ilmu filsafat yang mempelajari keindahan dari suatu objek atau alam sekitar dari penciptaan dan pengamatannya. Di Jepang, ada konsep estetika yang dikenal dengan istilah Bigaku. Istilah konsep ini ditemukan pada tahun 1883 oleh Nakae Chomin. Meskipun istilah estetika ini baru ditemukan pada tahun 1883, namun pemahaman masyarakat akan estetika itu sendiri sudah ada sejak zaman Heian. Ini terbukti dari jumlah karangan yang memuat sifat-sifat alami dari seni musik, seni tari, seni taman, seni puisi dan seni drama.
Konsep ini pertama kali muncul di Jepang karena dipengaruhi oleh nilai ajaran buddhisme dan pengaruh pemikiran dari China. Konsep bigaku membahas tentang keindahan suatu objek yang didalamnya mengandung seni dan tak terpisahkan dari alam semesta. Keindahan alam ini menjadi hal utama sebagai ciri khas konsep keestetikan Jepang. Dalam estetika tradisional Jepang, konsep bigaku menjadi suatu alat ideal yang memiliki beberapa jenis lingkup keindahan. Lingkup tersebut meliputi wabi, sabi, dan yuugen.
Kata wabi (侘) berasal dari kata kerja wabu, yang berarti kesepian, dan kata sifatnya, wabishii (侘しい), digunakan untuk menggambarkan rasa sedih dan kemiskinan. Kata tersebut juga dapat berarti kesederhanaan, tidak materialistis, dan rendah hati. Kata sabi (寂) mempunyai arti seperti pergerakan alami, pertumbuhan tua dan dianggap sebagai keindahan yang tidak selamanya ada. Lalu yuugen dapat diterjemahkan sebagai dalam dan misterius. Yang bermakna keanggunan dan kelembutan yang mendalam. Semua itu merupakan lingkup penting dalam konsep estetika Jepang (Bigaku). Dengan demikian, meskipun dipandang sebagai ilmu filsafat dalam dunia Barat, konsep estetika di Jepang dapat dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Saat ini estetika Jepang meliputi beragam ideal, beberapa bagian bersifat tradisional, sementara yang lain bersifat modern dan terkadang mendapatkan pengaruh dari budaya barat.
Di dunia ini terdapat banyak keindahan yang diciptakan untuk memenuhi nilai estetika dalam kehidupan. Setiap manusia pasti mengharapkan adanya rasa keindahan dalam kehidupannya, oleh sebab itu estetika sangat erat dengan alam sekitar di kehidupan sehari-hari. Untuk mendapatkan rasa keindahan tersebut seseorang memerlukan media yang dapat menghantarkan perasaan atau penilaian yang menganggap sebagai suatu keindahan. Faktanya, keindahan adalah sesuatu yang dapat dirasakan, dinikmati dan juga dihayati yang memberikan rasa kepuasan dan kebahagiaan. Pada saat menikmati suatu keindahan, tidak hanya penghayatan saja tetapi penalaran juga dibutuhkan agar dapat disimpulkan sebagai suatu keindahan secara logis.
Sebenarnya, apa hubungan ilmu psikologi dengan konsep ilmu estetika ini?
Ilmu psikologi berperan untuk membahas tentang kejiwaan manusia, sedangkan konsep bigaku adalah suatu pemahaman yang muncul dari hasil perilaku atau jiwa manusia tersebut. Sehingga, kedua hal tersebut saling berkaitan karena dapat menghubungkan logika dengan emosi manusia. Dalam suatu penelitian, ditunjukkan bahwa estetika dapat meningkatkan kesejahteraan di antara manusia. Akibat hubungan yang tercipta antara ilmu psikologi dan ilmu estetika memunculkan sebuah ilmu kombinasi baru yang disebut ilmu psikologi estetika (psychology of art). Ilmu ini merupakan kombinasi pemahaman yang membahas konsep-konsep ilmu psikologi yang dapat diterapkan dalam ilmu estetika. Jadi merupakan sebuah ilmu terapan dari ilmu psikologi terhadap bidang ilmu estetika.
Lalu apakah ilmu estetika berpengaruh dalam psikologi manusia?
Sangat berpengaruh sekali, alasannya karena adanya suatu estetika dalam kehidupan itu sangatlah penting. Bayangkan saja, kita di dunia ini hidup dengan melihat sebuah bangunan satu warna saja, bentuk dan struktur yang sama, pakaian yang sama, tanpa adanya suatu ornamen tambahan.
Apakah kalian akan menikmati dunia dengan kondisi semacam itu? Kebanyakan orang akan merasa hidupnya membosankan dan tidak ada estetika yang dapat dinikmati dalam kehidupannya, sehingga kekurangan kualitas keindahan akan ditemukan. Seolah-olah akan dianggap sebagai lingkungan yang kosong dan kehidupan terasa seperti di penjara. Dengan melihat keindahan pada alam maupun suatu benda akan meningkatkan perspektif mengenai perilaku secara sementara. Buktinya, dapat dilihat ketika masyarakat menjadi lebih mampu dan memiliki potensi, maka akan muncul minat seseorang untuk membawa nilai estetika dalam kehidupannya menjadi meningkat.
Bukti nyata lainnya yang terjadi pada dunia saat ini, dimana terjadi peningkatan dalam pembelian perhiasan, fashion, interior modern, mobil, atau rumah impian dengan model terbaru. Hal itu semua bertujuan agar pemiliknya memiliki pemikiran mengenai keindahan yang ada di dalam barang tersebut. Meskipun, ada barang yang dimiliki dengan tujuan untuk mendapatkan status sosial yang mereka bawa, dan ada lagi barang yang dimiliki agar pemiliknya memperoleh kesenangan atau kepuasan dari estetika yang ada di dalamnya.
Dengan adanya minat yang muncul berfungsi untuk merangsang pemikiran mengenai bahwa estetika telah ada sejak awal era kehidupan manusia. Akan tetapi, dengan tujuan apa pemikiran tersebut digunakan ? melalui sudut pandang psikologi, hal itu dapat dipakai dengan berbagai fungsi dan tujuan. Menurut Franklin dan Kapan (1994), ada suatu penelitian telah membuktikan bahwa sebuah daerah luas yang misterius dan belum mudah dipahami secara detail, akan membuat seseorang tertarik karena penasaran apa yang ada di dalamnya.
Bagaimana ilmu estetika dalam mengatasi problem psikologi manusia?
Di kehidupan ini seiring berjalannya waktu permasalahan manusia muncul secara berkelanjutan. Oleh karena itu pemanfaatan ilmu estetika sebagai terapi ini dilatarbelakangi oleh permasalahan manusia yang kompleks. Karena banyaknya masalah muncul dan tuntutan hidup itulah, maka muncul berbagai efek dalam berbagai bentuk gangguan jiwa, seperti stress, depresi, kegelisahan yang mendalam, bahkan sampai kehilangan tujuan hidup. Adanya problematika kehidupan pada manusia, membuat ilmuwan memanfaat ilmu estetika dalam upaya menyembuhkan gangguan psikologi manusia yang akhirnya lahir istilah baru sebagai terapi ilmu estetika.
Ilmu estetika dapat digunakan sebagai terapi bagi penderita gangguan psikologi. Penggunaannya dalam psikoterapi menjadi salah satu hasil titik temu ilmu psikologi dengan ilmu estetika. Di Eropa dan Amerika, ilmu estetika sudah berkembang sebagai terapi psikologi. Saat ini dikenal dengan sebutan terapi drama, terapi tari, terapi musik, terapi lukis, terapi fotografi, terapi humor, bahkan terapi estetika puisi. Semua terapi ini digunakan di rumah sakit, klinik psikologi, maupun di rumah praktek spesialis ilmu psikologi dan psikiatri. Sedangkan di Indonesia, terapi ilmu estetika juga telah dimanfaatkan. Khususnya di Kota Malang, Jawa Timur, yaitu di Klinik Psikologi Romo Jansen. Penggunaan terapi ini sudah berlangsung dan menjadi upaya penyembuhan bagi penderita gangguan psikologi.
Dengan demikian, terapi ilmu estetika ini merupakan gabungan antara dua jenis bidang ilmu, yaitu ilmu estetika dan ilmu psikologi. Sehingga pemikiran konsep bigaku ini juga dapat berfungsi sebagai psikoterapi yang dipandang memberikan dampak positif bagi kesehatan mental manusia, dan menjadi sebuah opsi dari terapi ilmu lainnya. Bahkan, terapi estetika dapat juga disebut sebagai bagian dari terapi terapi ilmu psikologi yang telah berkembang pesat saat ini. Memang benar, ketika kondisi kita sedang stres tentu membutuhkan keindahan estetika sebagai penyembuh atau obat untuk membahagiakan jiwa. Dapat dilihat orang yang terbiasa menikmati keindahan estetika, maka ia cenderung jauh dari stres dan masalah psikis, oleh sebab itulah estetika ternyata berhubungan erat dengan psikologi.
Daftar Pustaka :
Roger J. Davies dan Osamu Ikeno (ed). 2002. The Japanese Mind. US: Tutle Publishing.
Ernawati (2019). Psikologis Dalam Seni: Katarsis Sebagai Representasi Dalam Karya Seni Rupa. Vol. 2, No. 2. DESKOVI Art and Design Journal.
Parmono, Kartini (20o7). Konsep Estetika Jepang: Corak Naturalis yang Dijiwai oleh Tradisi, Kepercayaan, dan Alam. Jurnal Filsafat.
Anggi, Fidiana (2004). PENGARUH BIGAKU SEBAGAI ESTETIKA MODERN DALAM MASYARAKAT JEPANG PADA ZAMAN MEIJI (1868-1912). Other thesis, Universitas Darma Persada.
