Semarang Boleh Berubah, Tapi Tidak dengan Nasi Goreng Babat Pak Karmin

Senior Copywriter at Digital Skola
Konten dari Pengguna
11 Mei 2019 16:23
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Indah Salimin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Semarang terus berbenah dan berubah. Perbaikan jembatan, pelebaran jalan, dan revitalisasi bangunan terus dilakukan. Jika kamu berjalan-jalan di sekitar kawasan Kota Lama, maka kamu bisa melihat wajah Semarang yang sedang 'berdandan' ini.
ADVERTISEMENT
Perubahan memang tidak terelakkan untuk bisa berjalan beriringan dengan perkembangan zaman. Yang bersikukuh bertahan, bisa jadi justru malah tertinggal.
Akan tetapi, tidak jauh dari riuh perbaikan Semarang, ada satu hal yang luput dari perubahan. Sejak puluhan tahun, satu hal ini dicintai justru karena konsistensi dan ketetapan rasanya. Bisa menebak? Ini dia, Nasi Babat Pak Karmin Mberok, salah satu kuliner legendaris Kota Semarang yang bertahan justru karena lolos dari tuntutan perubahan.
Nasi Babat Pak Karmin Mberok berada di dekat Jembatan Mberok. Foto: Indah Salimin
zoom-in-whitePerbesar
Nasi Babat Pak Karmin Mberok berada di dekat Jembatan Mberok. Foto: Indah Salimin
Sesuai dengan namanya, Nasi Babat Pak Karmin Mberok berada di dekat Jembatan Mberok. Jembatan Mberok yang melintasi Kali Semarang ini menghubungkan Kota Lama, Jalan Mpu Tantular Semarang, dengan Jalan Pemuda. Warung Pak Karmin berada di Jalan Pemuda, di tepi jalan persis di sisi Kali Semarang.
ADVERTISEMENT
Warung yang cukup lega dengan kapasitas mencapai 60 orang ini berseberangan dengan Kota Lama sehingga kamu bisa memandang bangunan peninggalan kolonial dari warung ini.
Warung ini berseberangan dengan Kota Lama, sehingga kamu bisa memandang bangunan peninggalan kolonial. Foto: Indah Salimin
zoom-in-whitePerbesar
Warung ini berseberangan dengan Kota Lama, sehingga kamu bisa memandang bangunan peninggalan kolonial. Foto: Indah Salimin
Saya sampai sekitar pukul lima sore, warung tidak begitu ramai. Dua meja di luar warung sudah penuh diduduki, sedangkan di dalam tenda hanya sebagian terisi. Saya dihampiri oleh seorang pelayan yang membawa catatan, menanyakan pesanan.
Pilihan saya, tentu saja, nasi goreng babat dan nasi babat gongso yang kelezatan rasanya terkenal sampai ke luar provinsi.
Kelezatan rasa nasi goreng babat dan nasi babat gongso dari Pak Karmin Mberok ini terkenal sampai ke luar provinsi. Foto: Indah Salimin
zoom-in-whitePerbesar
Kelezatan rasa nasi goreng babat dan nasi babat gongso dari Pak Karmin Mberok ini terkenal sampai ke luar provinsi. Foto: Indah Salimin
Sembari menunggu pesanan datang, saya bercakap dengan Pak Karmin, Sang Legenda Nasi Goreng Babat Semarang. Beliau kini tidak lagi beradu dengan penggorengan melainkan duduk di meja kasir mengurusi pembayaran. Hal ini berlangsung sejak tahun 2010 seiring dengan kesehatannya yang semakin menurun.
ADVERTISEMENT
Sejak saat itu, urusan dapur diserahkan kepada anak ketiga dan istrinya.
Sejak kesehatannya menurun, Pak Karmin tidak lagi memasak. Kini urusan dapur diserahkan kepada anak ketiga dan istrinya. Foto: Indah Salimin
zoom-in-whitePerbesar
Sejak kesehatannya menurun, Pak Karmin tidak lagi memasak. Kini urusan dapur diserahkan kepada anak ketiga dan istrinya. Foto: Indah Salimin
Pak Karmin mungkin memang sudah waktunya beristirahat. Sebab pria 70 tahun ini sudah 48 tahun menggeluti usaha Nasi Goreng Babat. Mulai jualan sejak tahun 1971, Pak Karmin mengaku butuh waktu dua hingga tiga tahun sebelum akhirnya berhasil merumuskan resep terbaik untuk Nasi Babatnya.
Bermodal naluri dan masukan dari para pelanggan, resep racikannya itu yang kini diturunkan kepada kedua anak lainnya yang membuka cabang di Jalan Thamrin dan Tanah Mas Semarang.
Pak Karmin di meja kasir. Foto: Indah Salimin
zoom-in-whitePerbesar
Pak Karmin di meja kasir. Foto: Indah Salimin
Bermula dari hanya beberapa orang pelanggan sehari, pengunjung warung Nasi Goreng Babat Pak Karmin kini bisa mencapai sekitar 400 orang tiap hari. Jumlah ini bisa naik menjadi 600 pengunjung per hari di hari libur.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi, jumlah pengunjung ini turun cukup drastis hingga 30 persen di bulan Ramadan, yang bagi Pak Karmin bukan masalah. Sebab baginya, bulan puasa bukan cuma soal puasa makan dan minum, tapi juga puasa rezeki.
Pesanan saya datang, seporsi nasi babat gongso dan nasi goreng babat. Dua-duanya saya pilih pedas karena bagi saya semakin dahsyat makanan jika bisa membuat sampai keringatan. Rasanya? Kita ulas satu persatu dari dua porsi pilihan saya ini.
Nasi babat gongso dan nasi goreng babat. Foto: Indah Salimin
zoom-in-whitePerbesar
Nasi babat gongso dan nasi goreng babat. Foto: Indah Salimin
Yang pertama nasi babat gongso. Rasa paling dominan dari babat gongso Pak Karmin di lidah saya justru adalah rasa manis dari kecap dan pedas dari sambalnya. Rasa pendukung lain seperti gurih dan asin, kurang begitu kuat dalam olahan babat ini.
ADVERTISEMENT
Tapi untungnya, dominasi rasa manis ini menjadi pas jika disantap bersama nasi hangat. Apalagi jika dibantu dengan rasa gurih dari telur dadar yang turut disajikan dalam tiap porsi sajian di warung Pak Karmin, nasi babat gongso jadi lebih terasa sedapnya.
Nasi babat gongso. Foto: Indah Salimin
zoom-in-whitePerbesar
Nasi babat gongso. Foto: Indah Salimin
Untuk tekstur babat dan campuran jeroan lain dalam hidangan itu, saya rasa terlalu empuk untuk olahan babat. Hal ini tentu saja sangat subjektif karena, bagi saya, tekstur babat yang ideal adalah jika masih menyisakan sedikit liat sehingga butuh sedikit perjuangan untuk mengunyahnya.
Akan tetapi, bagi kalian yang lebih suka tekstur empuk, babat gongso Pak Karmin ini tentu akan sangat istimewa.
Nasi goreng babat. (Foto: Indah Salimin)
zoom-in-whitePerbesar
Nasi goreng babat. (Foto: Indah Salimin)
Tentang nasi gorengnya, bisa dibilang nasi goreng babat Pak Karmin adalah salah satu nasi goreng dengan rasa yang cukup kompleks yang pernah saya makan. Manis dari kecap, pedas dari sambal, serta gurih dari babat dan jeroan menjadi kesatuan yang cukup membuat Saya ingin menyuapnya kembali.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, sama seperti nasi babat gongsonya, bagi saya nasi goreng babat Pak Karmin ini masih sedikit terlalu manis. Untung saja ada telur dadar penolong yang mendongkrak rasa gurih makanan ini menjadi seimbang.
Soal harga, Pak Karmin menjelaskan bahwa sebenarnya seporsi babat olahannya dijual seharga Rp 40.000. Namun, beliau menyadari bahwa harga tersebut agak terlalu mahal untuk masyarakat Semarang.
Karenanya, beliau mengakali hal tersebut dengan porsi yang dikurangi untuk menekan harga per porsi. Seporsi nasi babat gongso dijual seharga Rp 25.000 dan nasi goreng babat Rp 20.000.
Saya rasa, harga tersebut setimpal dan sangat layak untuk menebus rasa penasaran pada nasi babat gongso paling kondang di Semarang. Jadi, jangan lewatkan untuk mampir ke warung nasi goreng babat Pak Karmin Mberok jika kamu mengunjungi Semarang, ya!
ADVERTISEMENT
🍴 : Warung Nasi Goreng Babat Pak Karmin Mberok
📍 : Jalan Pemuda, Dadapsari, Semarang Tengah (dekat Jembatan Mberok)
💰 : Nasi Goreng Babat Rp 20.000, Nasi Babat Gongso Rp 25.000
🛵 : Go-Food/ Grabfood Ready
⏰ : Setiap hari jam 08.00 - 22.30
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020