Konten dari Pengguna

FOMO, Media Sosial, dan Dampaknya terhadap Kehidupan Anak Muda

Indah Shaary

Indah Shaary

Mahasiswa Manajemen Itb Ahmad dahlan

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Indah Shaary tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi fenomena FOMO (Fear of Missing Out) akibat penggunaan media sosial yang berlebihan. (Foto: Ilustrasi/Generative AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi fenomena FOMO (Fear of Missing Out) akibat penggunaan media sosial yang berlebihan. (Foto: Ilustrasi/Generative AI)

Pernah merasa tidak nyaman ketika melihat teman sedang liburan, membeli barang baru, atau menghadiri acara yang sedang ramai di media sosial? Perasaan seperti itu mungkin pernah dialami banyak orang, terutama anak muda. Fenomena ini dikenal dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO, yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman, informasi, atau tren yang sedang berlangsung.

Di era digital, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Platform seperti Instagram, TikTok, dan X membuat informasi menyebar begitu cepat. Dalam hitungan detik, kita bisa mengetahui tren terbaru, tempat nongkrong yang sedang viral, hingga gaya hidup para kreator konten. Di satu sisi, hal ini memberikan banyak manfaat karena memudahkan kita mendapatkan informasi. Namun, di sisi lain, derasnya arus konten juga dapat memengaruhi cara kita berpikir dan mengambil keputusan.

Tanpa disadari, banyak anak muda mulai membandingkan kehidupannya dengan apa yang mereka lihat di layar ponsel. Padahal, yang ditampilkan di media sosial sering kali hanyalah bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Akibatnya, muncul perasaan kurang percaya diri, merasa tertinggal, bahkan menganggap hidup orang lain selalu lebih menarik.

FOMO juga berdampak pada kebiasaan konsumsi. Tidak sedikit orang yang membeli barang, mencoba makanan viral, atau datang ke tempat tertentu bukan karena benar-benar membutuhkan atau menginginkannya, tetapi karena takut dianggap ketinggalan tren. Kebiasaan seperti ini dapat memicu pengeluaran yang tidak terencana dan pada akhirnya mengganggu kondisi keuangan, terutama bagi mahasiswa dan anak muda yang masih memiliki penghasilan terbatas.

Selain berdampak pada keuangan, FOMO juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Keinginan untuk selalu mengikuti perkembangan media sosial membuat sebagian orang merasa harus terus membuka ponsel agar tidak tertinggal informasi. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini bisa menimbulkan rasa cemas, sulit fokus, bahkan mengurangi kualitas interaksi dengan keluarga maupun teman di dunia nyata.

Meski demikian, media sosial bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Yang perlu dilakukan adalah menggunakannya secara lebih bijak. Kita perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua yang viral cocok untuk semua orang. Membatasi waktu penggunaan media sosial, memilih konten yang bermanfaat, serta lebih fokus pada tujuan dan kebutuhan diri sendiri dapat membantu mengurangi rasa FOMO.

Yang perlu diingat, media sosial hanyalah sebuah alat. Dampak positif atau negatifnya sangat bergantung pada cara kita menggunakannya. Menjadi anak muda di era digital memang penuh tantangan, tetapi kita tetap bisa menikmati perkembangan teknologi tanpa harus kehilangan jati diri atau merasa tertinggal. Sebab, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mengikuti tren, melainkan tentang bagaimana kita menjalani kehidupan sesuai dengan kemampuan, nilai, dan tujuan yang kita miliki.