Jangan Cuma Baca Slide: Cara Tampil Manusiawi Saat Presentasi di Era AI

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ekonomi & Bisnis
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Indah Ainnul Quran tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di dunia perkuliahan, presentasi sudah menjadi kegiatan yang sering dilakukan mahasiswa, mulai dari mempresentasikan tugas hingga menyampaikan hasil penelitian. Dengan bantuan Artificial Intelligence (AI), kita bisa mencari informasi, merangkum materi, membuat naskah, bahkan menyusun slide dalam waktu singkat. Namun, materi yang bagus saja belum tentu membuat presentasi menjadi menarik. Cara kita menyampaikan informasi dan membangun komunikasi dengan audiens juga memiliki peran penting.
Sebagai mahasiswa, saya menyadari bahwa presentasi bukan sekadar membuat slide yang rapi atau menghafalkan naskah, tetapi juga memahami materi dan mampu menjelaskannya dengan bahasa sendiri. Di tengah perkembangan AI, kemampuan berkomunikasi secara alami justru menjadi hal yang perlu terus dilatih.
Untuk mewujudkan presentasi yang menarik dan mudah dipahami, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, mulai dari cara menggunakan slide, membangun kepercayaan diri saat berbicara, hingga menjalin interaksi dengan audiens. Berikut tiga hal yang menurut saya penting untuk diterapkan mahasiswa saat melakukan presentasi di era AI yaitu :
1. Jadikan Slide sebagai Pendukung, Bukan Naskah
Salah satu kesalahan yang sering terjadi saat presentasi adalah memasukkan terlalu banyak tulisan ke dalam slide, kemudian membacakannya kembali di depan audiens. Akibatnya, presentasi terasa monoton dan audiens lebih sibuk membaca daripada mendengarkan penjelasan.
Hal ini berkaitan dengan prinsip pembelajaran multimedia yang dibahas oleh Mayer dan Moreno (2002), yaitu bahwa penyajian informasi perlu dirancang agar membantu audiens memahami materi, bukan justru membebani mereka dengan informasi yang berlebihan.
Menurut saya, mahasiswa bisa menerapkan prinsip ini dengan membuat slide berisi poin-poin utama, gambar, atau grafik yang relevan. Penjelasan selanjutnya disampaikan menggunakan bahasa sendiri. Istilah penting, rumus, dan data tetap bisa ditampilkan jika memang dibutuhkan. Intinya, slide berfungsi sebagai alat bantu, bukan naskah yang harus dibaca dari awal sampai akhir.
2. Berani Terlihat Manusiawi, Tidak Harus Sempurna
Berbicara di depan kelas sering membuat mahasiswa merasa gugup, takut salah bicara, atau khawatir tidak bisa menjawab pertanyaan. Karena itu, sebagian orang memilih menghafalkan seluruh naskah agar presentasinya berjalan lancar.
Padahal, memahami inti materi jauh lebih penting daripada menghafalkan setiap kalimat. Jika lupa dengan urutan penjelasan, kita bisa berhenti sejenak, menarik napas, lalu melanjutkan pembicaraan. Jika belum mengetahui jawaban suatu pertanyaan, kita juga bisa mengakuinya dan berusaha mencari informasi yang benar.
Hal ini dapat dikaitkan dengan penelitian Aronson, Willerman, dan Floyd (1966) mengenai *pratfall effect*, yaitu temuan bahwa kesalahan kecil dalam situasi tertentu dapat membuat seseorang yang dinilai kompeten terlihat lebih menarik. Namun, bukan berarti kita boleh mengabaikan persiapan atau menyampaikan informasi yang salah.
Menurut saya, presentasi yang baik tidak menuntut kita untuk selalu sempurna. Persiapan tetap penting, tetapi kita juga perlu bersikap tenang dan mampu menyesuaikan diri ketika terjadi hal yang tidak terduga.
3. Sampaikan Cerita dan Bangun Dialog dengan Audiens
Presentasi akan lebih menarik ketika materi dihubungkan dengan contoh nyata yang dekat dengan kehidupan audiens. Daripada hanya membacakan definisi, pembicara bisa menggunakan pengalaman sehari-hari untuk membantu menjelaskan suatu konsep.
Penelitian Stephens, Silbert, dan Hasson (2010) membahas keterkaitan aktivitas otak antara pembicara dan pendengar ketika komunikasi berlangsung dengan baik. Temuan ini menunjukkan pentingnya hubungan antara penyampaian pesan dan pemahaman audiens.
Dalam praktiknya, mahasiswa dapat membangun komunikasi dengan melakukan kontak mata, menggunakan intonasi yang wajar, memberikan contoh sederhana, dan sesekali mengajukan pertanyaan kepada audiens. Misalnya, “Pernah tidak kalian mengalami hal yang sama?” Pertanyaan seperti ini dapat membuat audiens merasa dilibatkan dalam pembahasan.
Karena itu, AI sebaiknya digunakan untuk membantu mencari informasi dan menyusun materi, sedangkan cara menjelaskan dan membangun interaksi tetap perlu dilatih oleh pembicara sendiri.
Bayangkan dua mahasiswa, Ardi dan Maya, sedang mempresentasikan ide bisnis. Keduanya menggunakan AI untuk menyiapkan materi, tetapi cara penyampaiannya berbeda.
Ardi membuat slide dan naskah yang lengkap, tetapi saat presentasi ia lebih banyak membaca tulisan di layar. Sementara itu, Maya menggunakan AI untuk menyusun materi, lalu menjelaskan idenya melalui contoh pemilik warung yang kesulitan mencatat pemasukan dan pengeluaran. Maya juga menggunakan gambar pendukung dan memberikan kesempatan kepada audiens untuk bertanya.
Dalam ilustrasi tersebut, Maya lebih berpeluang membangun komunikasi yang baik karena ia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membantu audiens memahami manfaat idenya. Perbedaannya bukan pada penggunaan AI, melainkan pada bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan. Ilustrasi ini bersifat fiktif, tetapi menunjukkan bahwa materi yang baik perlu disertai penyampaian yang jelas.
Kesimpulan
Perkembangan AI membuat persiapan presentasi menjadi lebih mudah, tetapi kemampuan berkomunikasi tetap tidak bisa diabaikan. Slide yang menarik dan materi yang lengkap akan lebih bermanfaat jika disampaikan dengan jelas, menggunakan bahasa sendiri, serta disertai interaksi dengan audiens. Menurut saya, AI sebaiknya menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir dan kemampuan kita dalam menyampaikan ide. Kita tetap perlu memahami materi, memeriksa kebenaran informasi, dan berlatih berbicara secara alami.
Salah satu latihan sederhana yang bisa dilakukan adalah menjelaskan inti materi kepada teman selama tiga menit tanpa membaca slide atau naskah. Dengan cara ini, kita dapat melatih pemahaman sekaligus membangun kepercayaan diri. Pada akhirnya, presentasi yang baik bukan tentang siapa yang memiliki slide paling sempurna, melainkan siapa yang mampu membuat audiens memahami pesan yang disampaikan.
Sumber
Aronson, E., Willerman, B., & Floyd, J. (1966). The effect of a pratfall on increasing interpersonal attractiveness. *Psychonomic Science, 4*, 227–228. https://doi.org/10.3758/BF03342263
Mayer, R. E., & Moreno, R. (2002). Aids to computer-based multimedia learning. *Learning and Instruction, 12*(1), 107–119. https://doi.org/10.1016/S0959-4752(01)00018-4
Stephens, G. J., Silbert, L. J., & Hasson, U. (2010). Speaker–listener neural coupling underlies successful communication. *Proceedings of the National Academy of Sciences, 107*(32), 14425–14430. https://doi.org/10.1073/pnas.1008662107
Yue, C. L., Bjork, E. L., & Bjork, R. A. (2013). Reducing verbal redundancy in multimedia learning: An undesired desirable difficulty? *Journal of Educational Psychology, 105*(2), 266–277. https://doi.org/10.1037/a0031971
