Sapaan Sang Giri: Suara Isna Marifa Menentang Perdagangan Orang

Penulis, Pemerhati Budaya dan Gaya Hidup
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Indah Ariani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam dunia yang penghuninya selalu memimpikan, ada sebuah kejahatan yang hidup lestari. Perdagangan orang, melalui novel Sapaan Sang Giri, Isna Marifa bersuara menentangnya.

Selama berabad-abad, dunia yang kita huni ini selalu dihantui praktik perdagangan orang. Perjuangan panjang menghapuskannya, tak pernah benar-benar berhasil. Perdagangan orang tak pernah pupus. Dari zaman ke zaman, ia hanya berganti pakaian, bersalin nama dan terus meremajakan bentuk-bentuk praktiknya. Berbagai lembaga advokasi dan perlindungan manusia yang terus lahir, selalu harus berkejaran dengan terus meningkatnya korban perdagangan orang di tiap negara.
Hingga hari ini, praktik perdagangan orang terus saja terjadi, bahkan ketika Majelis Umum Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) telah menetapkan World Day Against Trafficking in Persons atau Hari Dunia Menentang Perdagangan Orang setiap tanggal 30 Juli melalui resolusi A/RES/68/192 pada tahun 2013. Harapan dari penetapan hari tersebut sejatinya agar dapat meningkatkan kesadaran global mengenai situasi para korban perdagangan manusia serta untuk mempromosikan dan melindungi hak-hak mereka. Namun perdagangan orang terus saja berlangsung, bahkan bergerak semakin cepat seiring perkembangan teknologi seperti penggunaan kecerdasan buatan (AI). Sayangnya, masih tak banyak yang tahu bahwa dunia sudah punya Hari Menentang Perdagangan Orang tersebut.
Setiap tahun, tema yang digaungkan berbeda-beda. Pada 2026 ini, PBB menetapkan tema “Trapped Behind the Scam” atau Terperangkap di Balin Penipuan pada Hari Dunia Menentang Perdagangan Orang.Tema tersebut dipilih untuk menyoroti bentuk perdagangan orang yang berkembang pesat, di mana kelompok kejahatan terorganisasi lintas negara mengeksploitasi orang untuk melakukan penipuan keuangan berskala industri. Para korban diperdagangkan untuk melakukan tindak kriminal secara paksa dan dipaksa terlibat dalam operasi penipuan daring. Bentuk eksploitasi ini sangat erat kaitannya dengan kejahatan siber, penipuan keuangan, pencucian uang, dan korupsi, yang menunjukkan sifat kejahatan terorganisasi yang semakin saling terkait. Di berbagai tempat di belahan bumi, terutama di negeri-negeri yang penuh konflik dan miskin, banyak orang terpikat oleh janji palsu tentang pekerjaan yang layak. Banyak yang tak sadar kalau dirinya tengah memasuki sesuatu yang berbahaya dan saat tersadar, mereka mendapati diri terjebak oleh jaringan perdagangan orang.
Di Indonesia, upaya untuk menghapus dan mengantisipasi perdagangan orang juga telah cukup lama dilakukan. Sejak 2009, Indonesia telah memiliki Undang-undang (UU) Nomor 14 Tahun 2009 tentang Pengesahan Protocol To Prevent, Suppress And Punish Trafficking in Persons, Especially Women And Children,Supplementing The United Nations Convention Against Transnational Organized Crime atau Protokol untuk Mencegah, Menindak, dan Menghukum Perdagangan Orang, Terutama Perempuan dan Anak-Anak, Melengkapi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Menentang Tindak Pidana Transnasional yang Terorganisasi. Nyatanya, praktitk perdagangan orang masih terus terjadi hingga hari ini. Perjuangan untuk menghapuskan perdagangan orang dan mengadvokasi para korban terus dilakukan.
Isna Marifa dan Sapaan Sang Giri
Tak hanya melalui jalur hukum dan kemanusiaan, juga melalui sastra seperti yang dilakukan oleh pakar lingkungan Isna Marifa yang pada 2020 lalu menulis sebuah novel bertema perdagangan orang berjudul Sapaan Sang Giri yang berlatar waktu pada abad ke-18, tepatnya dalam kurun waktu 1751 hingga 1791. Dalam perjalanan kerja ke Cape Town Afrika Selatan pada 2015, Isna Marifa menyisipkan kunjungan ke Bo Kaap, wilayah di mana keturunan Cape Malay banyak bermukim. Dari sanalah semua bermula.
1751. Wulan. Demikian judul bab pertama dalam buku Sapaan Sang Giri ditetapkan oleh Isna Marifa. Wulan merupakan tokoh utama yang diambil inspirasinya dari seorang kanak berusia delapan tahun bernama Sipio. Nama anak lelaki itu juga tertera di antara deretan nama-nama budak yang diperdagangkan di Cape Malay pada 1751 itu. Kendati telah mafhum tentang kondisi perdagangan manusia yang terjadi di masa itu dari sebuah liputan khusus di majalah Tempo yang dibacanya beberapa tahun silam, pakar lingkungan itu berdiri terpaku cukup lama di depan papan nama-nama budak yang masih terpasang rapi di sebuah bangunan bekas pabrik yang kini menjadi salah satu situs sejarah Cape Malay di Cape Town. “Di papan tersebut terdapat beberapa kolom yang berisi nama, usia, asal serta harga para budak tersebut. Saya tahu perihal itu. Hal yang tak saya tahu adalah bahwa nama seorang anak berusia delapan tahun terselip di sana. Fakta yang begitu mengusik rasa kemanusiaan saya,” kata Isna.
Kegelisahan itu terus mengikuti Isna hingga jauh setelahnya. Suasana pertemuan dengan beberapa keluarga keturunan Cape Malay yang hangat terus terbayang di benaknya. Ia seperti bisa merasakan aliran rindu yang besar atas keingintahuan mereka tentang segala hal dari tanah leluhur mereka. “Cape Malay sebenarnya bukan hanya terdiri dari orang Jawa. Ada pula yang berasal dari Sumatera, Sulawesi, Maluku dan daerah lainnya. Di Bo Kaap, ada sebuah pemakaman yang diberi nama Tanah Baru di mana di salah satu batu nisan di makam tersebut ada tertulis nama Tuan Guru dari Tidore,” Isna mengisahkan. Menurutnya, di Afrika Selatan -begitu pula di Indonesia- terdapat sedikit sekali literatur tentang Cape Malay. “Salah satu buku yang menyinggung tentang sejarah warga Indonesia di Cape Malay adalah buku A Brief History of Indonesia yang ditulis oleh Tim Hannigan. Selebihnya, rasanya tak ada lagi. Di Indonesia pun, sedikit sekali referensi baik buku maupun artikel tentang Cape Malay. Tidak seperti keturunan Jawa yang menetap di Suriname yang lebih banyak publikasinya,” ujar Isna.
Setelah kedatangan pada 2015, Isna sempat kembali ke Bo Kaap pada akhir 2016 untuk melakukan riset. “Saat datang pada 2015 itu, saya sama sekali tak berpikir akan menulis buku ini. Namun perasaan terganggu yang muncul setelah kunjungan pertama itu seperti menghantui,”katanya. Hatinya seperti menggugat, “Kenapa tak banyak cerita tentang orang-orang Cape Malay keturunan Indonesia?” Ia lantas tergerak untuk menulis sesuatu tentang komunitas itu. “Niat bikin buku ini muncul dari keinginan saaya untuk menghubungkan kembali “dua saudara” -orang Indonesia dan Cape Malay, dan juga sebaliknya- yang sudah lama sekali tidak terhubung karena terbatasnya informasi untuk saling mengetahui,” katanya. Isna mulai menulis Sapaan Sang Giri pada 2017, dan di tahun itu pun, ia merasa perlu untuk kembali datang ke Cape Town untuk menggali lagi beberapa informasi yang ia butuhkan untuk melengkapi penulisannya. Proses menulis berlangsung hingga 2019, ketika draft pertama buku akhirnya dapat ia selesaikan dan cetakan pertama diterbitkan pada 2020 oleh penerbit Ombak yang berbasis di Jakarta. Pandemi COVID 19 yang melanda dunia pada Maret 2020, membuat Isna hanya bisa melakukan peluncuran dan berbagai diskusi novel pertamanya ini secara daring (online). Namun animo terhadap buku tentang perjalanan hidup ayah dan anak perempuan dari Jawa yang menjadi korban perdagangan manusia ini mendapat perhatian yang cukup baik sejak pertama kali di terbitkan.
Berlatar tahun 1751, Sapaan Sang Giri menceritakan perjalanan Wulan, seorang anak berusia sembilan tahun yang, bersama Ayahnya, dibawa menyeberangi lautan ke Cape Colony (Afrika Selatan). Di dunia yang asing baginya, Wulan dan orang-orang di sekelilingnya berjuang mempertahankan identitas, keyakinan, dan ingatan—sekaligus membangun ikatan dalam komunitas multikultural yang kelak keturunannya dikenal sebagai Cape Malay.
Dua tahun setelah diterbitkan, Isna mendapat tawaran dari penerbit Kabar Media untuk meluncurkan edisi bahasa Inggrisnya. Tentu saja Isna menerima baik kesempatan tersebut karena ia memang ingin sekali kisah Wulan, Parto, Abi dan kegetiran hidup manusia yang menjadi korban perdagangan manusia ini mendapat pembaca yang lebih luas. Menerbitkannya dalam bahasa Inggris tentu saja membuka peluang bagi Sapaan Sang Giri untuk bertemu dengan para pembaca dari berbagai negara. Selain di Indonesia, setelah edisi bahasa Inggrisnya terbit dengan judul “Mountain More Ancient”, buku ini mendapat perhatian dari pembaca di Belanda, India, dan negara lain. “Di Belanda, diskusi tentang Sapaan Sang Giri pernah dilakukan di Utrech. Di India, yang penduduknya pada zaman kolonial juga kerap menjadi korban perdagangan manusia seperti Indonesia, buku ini juga cukup mendapat perhatian,” ujar Isna.
Sumbangan Besar Bagi Kemanusiaan
Pada Maret 2026 lalu, novel tersebut masuk dalam daftar pendek (shortlist) penghargaan sastra perempuan, Chommanard International Women’s Literary Award di Bangkok, Thailand. Ajang ini merupakan penghargaan bagi karya sastra yang ditulis oleh penulis perempuan dari negara-negara anggota ASEAN, Tiongkok, Hong Kong dan Taiwan yang dianggap memiliki kualitas sastra yang kuat sekaligus juga menunjukkan relevansi budaya serta dampak sosial yang signifikan. “Saya sangat bersyukur Mountains More Ancient masuk daftar pendek Chommanard Award. Rasanya seperti mimpi disebut dalam satu daftar bersama para penulis yang begitu mumpuni. Pengakuan ini menunjukkan bahwa kisah dalam novel ini juga relevan di luar Indonesia dan negara-negara bekas koloni Belanda,” ujar Isna seperti dikutip dalam siaran pers yang dikirimkan oleh penerbit Kabar Media menjelang keberangkatan penulis tersebut ke Bangkok pada awal April 2026 silam. Selain itu, Isna juga mengatakan bahwa hal yang juga menarik dari terpilihnya karya novelnya dalam daftar pendek penghargaan tersebut adalah karena ia melihat secara nyata, bahwa karyanya tersebut memiliki relevansi di luar Indonesia, Afrika Selatan dan Belanda, tiga negara yang terlibat dalam cerita yang ia kisahkan. Terpilihnya novel ini, menurut Isna, mencerminkan meningkatnya minat internasional terhadap fiksi sejarah Indonesia—menghadirkan tema sejarah kolonial, pemindahan paksa (displacement), serta hubungan manusia yang tak terputus dengan tanah asal.
Terlebih lagi, perdagangan orang dalam segala bentuk masih terjadi hingga saat ini. “Misalnya, adanya scam centers di beberapa negara di Asia Tenggara seperti Myanmar atau Kamboja yang isinya orang-orang yang dibohongi dengan janji-janji kerja di luar negeri. Juga pekerja kapal ikan internasional, ternyata banyak yang tidak diberi gaji atau perlakuan yang layak. Ini semua menandakan betapa rentannya pencari kerja yang tidak memiliki banyak pilihan di negeri mereka sendiri,” kata Isna.
Keberpihakannya pada korban perdagangan orang, bisa dengan jelas kita temui dalam Sapaan Sang Giri. Begitu pula keberpihakannya pada perempuan dan perjuangannya bertahan hidup, yang secara terbuka disampaikannya lewat sosok Wulan yang mewakili perjuangan para korban perdagangan orang dari Jawa dan daerah lainnya di Indonesia yang menetap dan menjadi bagian sejarah Cape Malay di Cape Town, Afrika Selatan. Hanya saja, kendati novelnya bertutur dengan sangat tajam tentang ketidakadilan dan penderitaan korban perdagangan manusia, Isna paham bahwa persoalan perdagangan orang ini bukan masalah sederhana, karena telah berakar amat kuat dalam sejarah peradaban manusia, juga melibatkan kekuatan besar dan jejaring yang amat kompleks. Dengan rendah hati, ia mengatakan bahwa dirinya tak memiliki harapan terlalu muluk bahwa novelnya bisa menjadi inspirasi yang bisa menghentikan perdagangan orang dari muka bumi. Isna hanya berharap novelnya bisa membuat pembaca di Indonesia, tahu tentang sejarah Cape Malay dan tahu bahwa kita punya sedulur jauh di Afrika Selatan. Sementara untuk pembaca internasional, ia berharap bisa membagi wawasan bahwa sejarah kelam perdagangan orang juga terjadi antara Asia dan Afrika. Apa pun, sebuah langkah yang diambil Isna untuk menulis tentang sejarah Cape Malay merupakan sumbangan besar bagi kemanusiaan.
