Konten dari Pengguna

Ketika Museum Sonobudoyo Menjadi Ruang Instagramable di Mata Gen Z

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Indah Insani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menyusuri jejak sejarah Jawa, tampak bagian depan Museum Sonobudoyo. (Foto: Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Menyusuri jejak sejarah Jawa, tampak bagian depan Museum Sonobudoyo. (Foto: Dok. Pribadi)

Museum yang kuno, mistis, dan menyeramkan? Sonobudoyo justru punya cerita lain. Di tengah panas dan padatnya kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Gedung Pameran Sonobudoyo justru menawarkan suasana yang jauh berbeda. Pencahayaan lembut, tata ruang yang rapi, dan koleksi bersejarah yang ditampilkan dengan cara menarik menyambut saya saat memasuki ruangan. Jauh dari bayangan museum yang identik dengan tempat tua, mistis, dan menakutkan, suasananya justru terasa modern dan estetik tanpa kehilangan identitasnya sebagai ruang yang menyimpan sejarah.

Di era ketika banyak orang suka mengabadikan pengalaman lewat foto dan video, tampilan sebuah tempat bisa menjadi salah satu alasan mereka tertarik untuk berkunjung. Museum Sonobudoyo menawarkan cara tersendiri untuk mendekatkan warisan budaya kepada generasi muda. Namun, tantangannya bukan hanya membuat museum terlihat Instagramable, melainkan juga mendorong pengunjung untuk mengenal sejarah dan budaya yang tersimpan di dalamnya.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah layar interaktif pada bagian Weapon Collections. Melalui layar sentuh tersebut, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi senjata tradisional dan memilih bahasa Indonesia atau bahasa Inggris untuk mendapatkan informasi mengenai koleksi yang dipilih. Pengunjung juga dapat menekan gambar senjata tertentu untuk melihat penjelasan lebih lanjut.

Pengalaman interaktif di Museum Sonobudoyo: pengunjung dapat mengeksplorasi filosofi dan bentuk keris serta senjata tradisional lewat instalasi layar digital modern. (Foto: Dok. Pribadi)

Selain layar interaktif, Museum Sonobudoyo juga menyediakan pengalaman Virtual Reality (VR) Jemparingan. Dari yang saya amati, pengunjung dapat mencoba simulasi tradisi memanah khas Yogyakarta dengan posisi duduk, yaitu bersimpuh bagi perempuan dan bersila bagi laki-laki. Kehadiran VR ini menjadi salah satu cara menarik untuk memperkenalkan tradisi kepada pengunjung melalui teknologi yang lebih dekat dengan pengalaman generasi sekarang.

Museum Sonobudoyo juga menyajikan cerita dalam bentuk animasi melalui video mapping. Cerita yang disampaikan tidak hanya berupa teks atau penjelasan tertulis, tetapi divisualisasikan melalui gambar bergerak sehingga terasa lebih menarik untuk diikuti. Cara ini membuat cerita dan informasi mengenai budaya terasa lebih mudah dinikmati, terutama bagi generasi muda yang lebih terbiasa dengan konten visual.

Strategi ini makin terasa tepat sasaran karena tiket masuk Museum Sonobudoyo juga sangat ramah di kantong pelajar, bahkan harganya lebih murah dibandingkan secangkir kopi di kafe-kafe sekitar Malioboro. Dengan harga yang terjangkau, pengunjung tidak hanya mendapatkan pengalaman mengenal sejarah dan budaya, tetapi juga tetap bisa mendapatkan foto-foto yang Instagramable dari ruang museum yang estetik. Jadi, berkunjung ke museum tidak lagi terasa seperti aktivitas kaku yang hanya dilakukan untuk belajar, tetapi juga bisa menjadi bagian dari pengalaman jalan-jalan yang menyenangkan.

Sonobudoyo membuktikan bahwa warisan tradisi tidak akan ditinggalkan jika disajikan dengan cara yang tepat. Dengan merangkul teknologi interaktif dan kultur visual yang relevan bagi generasi muda, museum ini berhasil mengubah pandangan bahwa belajar sejarah bukanlah aktivitas yang kuno, melainkan sebuah pengalaman yang seru, membanggakan, dan tetap kekinian.