Belajar dari Congklak: Ketika Permainan Tradisional Menjadi Media Belajar MTK

Mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar di universitas pamulang
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Indana Fitrotun Nada tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, anak-anak kini tumbuh di era yang dipenuhi berbagai permainan digital. Waktu bermain yang dahulu identik dengan berlari di halaman, bermain petak umpet, atau congklak bersama teman perlahan tergantikan oleh layar gawai. Perubahan ini memang tidak dapat dihindari, tetapi ada satu hal yang patut dipertanyakan: apakah kita mulai melupakan permainan tradisional yang sebenarnya menyimpan banyak nilai pembelajaran?
Salah satu permainan tradisional yang masih relevan hingga saat ini adalah congklak. Permainan yang telah dikenal turun-temurun ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga dapat menjadi media belajar yang menyenangkan, khususnya dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar.
Banyak siswa SD masih menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang sulit. Ketika mendengar kata "berhitung", sebagian anak sudah merasa takut sebelum mencoba mengerjakan soal. Padahal, rasa takut tersebut sering kali muncul bukan karena anak tidak mampu belajar matematika, melainkan karena proses belajarnya terasa terlalu abstrak dan kurang melibatkan pengalaman nyata.
Sebagai calon guru sekolah dasar, saya memandang bahwa pembelajaran matematika seharusnya tidak selalu berpusat pada buku paket, papan tulis, ataupun latihan soal yang berulang. Anak-anak belajar lebih baik ketika mereka dapat mengalami sendiri konsep yang sedang dipelajari melalui aktivitas yang menyenangkan.
Di sinilah congklak memiliki keunggulan. Saat bermain, anak memindahkan biji dari satu lubang ke lubang lainnya sambil menghitung jumlah biji yang dipegang. Tanpa disadari, mereka sedang melatih kemampuan berhitung, mengenali pola, memperkirakan langkah, menyusun strategi, hingga berpikir logis. Aktivitas tersebut menjadi bentuk pembelajaran yang terjadi secara alami karena anak merasa sedang bermain, bukan sedang mengikuti pelajaran.
Dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar, congklak dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan berbagai konsep dasar, seperti penjumlahan, pengurangan, pengelompokan bilangan, hingga pembagian sederhana. Pendekatan ini juga sejalan dengan konsep etnomatematika, yaitu mengaitkan pembelajaran matematika dengan budaya yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Melalui permainan tradisional, konsep yang semula terasa abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami karena siswa dapat melihat, memegang, serta mempraktikkannya secara langsung.
Penggunaan congklak di sekolah juga memberikan manfaat yang lebih luas. Selain membantu siswa memahami materi pelajaran, permainan ini menjadi salah satu cara memperkenalkan budaya Indonesia kepada generasi muda. Di tengah derasnya perkembangan teknologi, sekolah memiliki peran penting dalam menjaga agar permainan tradisional tidak sekadar menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Tentu saja, permainan tradisional bukan berarti harus menggantikan teknologi. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan. Teknologi memberikan kemudahan dalam mengakses informasi, sedangkan permainan tradisional menghadirkan interaksi sosial, kerja sama, komunikasi, dan pengalaman belajar secara langsung yang tetap dibutuhkan oleh anak-anak.
Bagi guru, inovasi pembelajaran tidak selalu harus diwujudkan melalui media yang mahal atau aplikasi yang rumit. Kreativitas dalam memanfaatkan lingkungan sekitar justru dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih bermakna. Congklak menjadi contoh sederhana bahwa media pembelajaran yang efektif tidak selalu lahir dari teknologi canggih, tetapi juga dari kekayaan budaya yang telah lama dimiliki bangsa Indonesia.
Sebagai mahasiswa PGSD, saya percaya bahwa pembelajaran yang menyenangkan akan meninggalkan kesan yang lebih kuat dibandingkan pembelajaran yang hanya berorientasi pada penyelesaian materi. Ketika siswa menikmati proses belajar, mereka akan lebih mudah memahami konsep, berani mencoba, dan memiliki rasa ingin tahu yang terus berkembang.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya membuat siswa mampu menjawab soal dengan benar, tetapi juga membangun kecintaan terhadap proses belajar itu sendiri. Permainan tradisional seperti congklak membuktikan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat dalam dunia pendidikan modern. Mungkin sudah saatnya kita kembali memberi ruang bagi permainan tradisional, bukan sekadar sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang mampu membuat matematika terasa lebih dekat, lebih menyenangkan, dan lebih bermakna bagi siswa sekolah dasar.
Indana Fitrotun Nada merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pamulang. Memiliki minat pada bidang pendidikan dasar, inovasi pembelajaran, psikologi pendidikan, dan kepenulisan. Aktif menghasilkan karya berupa artikel populer, buku antologi, serta Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di bidang pendidikan
