Konten dari Pengguna

Ketika Orang Tua Berpisah: Emosi dan Kesiapan Belajar Anak Usia Dini

Indana Fitrotun Nada

Indana Fitrotun Nada

Mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar di universitas pamulang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Indana Fitrotun Nada tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak usia dini dalam kegiatan membaca dan belajar.Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak usia dini dalam kegiatan membaca dan belajar.Sumber: Unsplash

Perceraian orang tua bukan hanya persoalan relasi pasangan suami istri, tetapi juga peristiwa yang membawa dampak besar bagi perkembangan anak, terutama pada usia dini. Pada fase ini, anak masih sangat bergantung pada stabilitas emosi, rasa aman, dan kelekatan dengan figur orang tua. Ketika struktur keluarga berubah akibat perceraian, anak berpotensi mengalami gangguan emosional yang turut memengaruhi kesiapan belajar dan penyesuaian sosialnya.

Dari perspektif psikologi pendidikan, perceraian orang tua perlu dipahami secara komprehensif karena berkaitan langsung dengan proses perkembangan emosi, perilaku, serta kemampuan anak dalam mengikuti pembelajaran.

Daehoon dan Jule merupakan pasangan dengan tiga anak yang masih berada pada tahap usia dini. Setelah mengalami ketidakharmonisan dalam rumah tangga, keduanya memutuskan untuk bercerai dan menerapkan pola pengasuhan co-parenting. Meskipun kedua orang tua tetap berupaya hadir dalam kehidupan anak, perubahan struktur keluarga tetap menimbulkan konsekuensi psikologis. Anak usia dini memiliki ketergantungan tinggi terhadap figur kelekatan (attachment) dan rutinitas yang konsisten, sehingga perubahan mendadak dapat memicu kecemasan dan ketidakamanan emosional.

Penelitian menunjukkan bahwa perubahan struktur keluarga akibat perceraian dapat menyebabkan anak mengalami kecemasan, rasa takut kehilangan, serta ketidakstabilan emosi (Sosial et al., 2024). Kondisi ini relevan dengan teori perkembangan Hurlock yang menekankan pentingnya stabilitas lingkungan dalam pembentukan regulasi emosi dan rasa percaya diri anak. Selain itu, teori Erikson pada tahap trust versus mistrust serta autonomy versus shame and doubt menegaskan bahwa konsistensi pengasuhan sangat dibutuhkan agar anak mampu membangun kepercayaan terhadap lingkungan dan dirinya sendiri.

Ketidakmampuan anak usia dini dalam memahami konflik orang tua seringkali termanifestasi dalam bentuk regresi perilaku, seperti tantrum, menangis berlebihan, perilaku clingy, atau penolakan untuk berpisah dari orang tua. Reaksi tersebut merupakan bentuk ekspresi stres emosional yang belum mampu diungkapkan secara verbal. Apabila konflik orang tua pasca perceraian masih berlangsung dan komunikasi tidak berjalan efektif, kondisi emosional anak dapat semakin terganggu, ditandai dengan perubahan suasana hati, perilaku agresif, atau justru menarik diri.

Dari perspektif perkembangan sosioemosional, dampak perceraian berbeda pada setiap tahap usia. Pada masa kanak-kanak, anak dengan orang tua bercerai cenderung mengalami kecemasan, rasa malu, gangguan emosi, serta kesulitan dalam menjalin hubungan sosial (Wiskana et al., 2024). Kondisi emosional yang tidak stabil ini dapat memengaruhi perilaku sehari-hari anak, termasuk munculnya perilaku agresif, antisosial, dan kesulitan mematuhi aturan di lingkungan sekolah.

Sementara itu, pada usia remaja, dampak perceraian dapat bersifat positif maupun negatif. Beberapa remaja menunjukkan kemandirian dan ketangguhan, namun tidak sedikit yang mengalami kesedihan mendalam, kemarahan, kehilangan arah hidup, serta gangguan dalam hubungan sosial (Wiskana et al., 2024). Perbedaan utama antara anak usia dini dan remaja terletak pada kemampuan memaknai peristiwa. Remaja relatif lebih mampu memahami dan mengambil pelajaran dari peristiwa perceraian, sedangkan anak usia dini cenderung mengekspresikan emosi secara langsung tanpa pemahaman kognitif yang matang.

Dalam konteks pendidikan, perceraian orang tua juga berdampak pada kesiapan belajar anak. Kurangnya perhatian, dukungan emosional, serta keterlibatan orang tua dapat menyebabkan penurunan motivasi dan prestasi belajar. Anak sering mengalami kesulitan konsentrasi, menarik diri di kelas, serta mengalami penurunan kepercayaan diri(Zalva et al., 2025). Kondisi emosional yang tidak stabil turut memengaruhi kemampuan anak dalam berinteraksi sosial dan mengikuti proses pembelajaran secara optimal.

Meskipun demikian, dampak negatif perceraian dapat diminimalkan melalui penerapan faktor protektif. Hubungan co-parenting yang sehat, komunikasi yang baik antar orang tua, serta pemenuhan kebutuhan emosional dan pendidikan anak berperan penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis anak (Eldasari & Diana, 2024). Anak yang tetap mendapatkan kasih sayang, rasa aman, dan dukungan konsisten memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara optimal meskipun berada dalam keluarga dengan struktur yang berubah.

Perceraian orang tua tidak selalu berujung pada kegagalan perkembangan anak apabila disertai dengan pola pengasuhan yang adaptif dan berorientasi pada kepentingan terbaik anak. Kerja sama orang tua pasca perceraian, komunikasi yang sehat, serta pemenuhan kebutuhan emosional dan pendidikan anak menjadi kunci dalam meminimalkan dampak negatif yang mungkin muncul. Dalam perspektif psikologi pendidikan, lingkungan pengasuhan yang memberikan rasa aman, konsistensi, dan dukungan berkelanjutan tetap memungkinkan anak tumbuh dan menyesuaikan diri secara optimal meskipun berada dalam kondisi keluarga yang berubah.

Indana Fitrotun Nada, Anggun Wulandari, Vivi Septiyani, Amanda Maulida, Annisa Oktaviani Penulis merupakan Mahasiswa Bidang pendidikan Guru Sekolah Dasar yang memiliki minat pada kajian psikologi pendidikan dan perkembangan anak.perceraian orang tua, emosi anak, kesiapan belajar, anak usia dini, psikologi pendidikan