Mengapa Anak Perlu Belajar Menghargai Perbedaan Pendapat

Mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar di universitas pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Indana Fitrotun Nada tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Tidak ada anak yang tiba-tiba memilih diam. Mereka hanya lelah ketika setiap kali mencoba bersuara, pendapatnya tidak benar-benar didengar. Jangankan dihargai, kesempatan untuk menyelesaikan satu kalimat pun terkadang tidak mereka miliki.”
Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi menjadi kenyataan yang masih sering terjadi, termasuk di lingkungan pendidikan. Dalam sebuah diskusi, setiap anak berharap pendapatnya didengarkan. Mereka mungkin belum selalu memiliki jawaban yang paling tepat, tetapi setiap gagasan yang disampaikan merupakan bagian dari proses belajar. Sayangnya, tidak semua anak memperoleh ruang yang sama untuk menyampaikan pikirannya.
Padahal, tujuan sebuah diskusi bukanlah mencari siapa yang paling benar atau siapa yang paling pintar. Diskusi hadir agar setiap orang dapat bertukar pikiran, saling melengkapi, dan menemukan solusi terbaik bersama. Ketika setiap pendapat diberi kesempatan untuk didengar, anak tidak hanya belajar menyampaikan ide, tetapi juga belajar menghargai cara berpikir orang lain.
Perbedaan pendapat sebenarnya bukan sesuatu yang harus dihindari. Justru dari perbedaan itulah seseorang belajar melihat sesuatu yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Setiap anak datang dengan pengalaman, cara berpikir, dan sudut pandangnya masing-masing. Oleh karena itu, perbedaan bukanlah penghalang dalam belajar, melainkan kesempatan untuk memperluas cara pandang.
Sayangnya, tidak semua anak tumbuh dengan kebiasaan menghargai pendapat orang lain. Ada yang terbiasa merasa pendapatnya selalu paling tepat sehingga tanpa sadar mengabaikan gagasan orang lain. Keinginan untuk menjadi yang terbaik memang bukan sesuatu yang salah. Namun, ketika keinginan tersebut membuat seseorang enggan mendengarkan, proses belajar kehilangan salah satu makna terpentingnya, yaitu belajar bersama.
Sering kali, seseorang terlalu sibuk ingin didengar hingga lupa bahwa orang lain juga datang dengan harapan yang sama, yaitu didengarkan. Akibatnya, diskusi berubah menjadi ajang mempertahankan pendapat, bukan ruang untuk saling melengkapi. Padahal, mendengarkan bukan berarti mengalah. Mendengarkan adalah bentuk penghormatan bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk menyampaikan pikirannya.
Ketika pendapat seseorang terus-menerus diabaikan, perlahan ia akan kehilangan keberanian untuk berbicara. Bukan karena ia tidak memiliki ide, tetapi karena merasa apa pun yang disampaikan tidak lagi memiliki arti. Lama-kelamaan, ia memilih menyimpan pendapatnya sendiri. Jika keadaan seperti ini terus berlangsung, anak dapat kehilangan kepercayaan diri untuk menyampaikan gagasan pada kesempatan berikutnya. Padahal, bisa jadi gagasan sederhana yang tidak pernah didengar itulah yang sebenarnya mampu memberikan solusi terbaik.
Menghargai perbedaan pendapat bukan berarti harus selalu menyetujui semua gagasan yang disampaikan. Menghargai berarti memberi kesempatan kepada setiap orang untuk berbicara, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, lalu mempertimbangkannya sebelum mengambil keputusan bersama. Dengan cara seperti inilah anak belajar bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan kontribusi.
Kemampuan menghargai pendapat orang lain juga melatih anak untuk berpikir lebih terbuka. Mereka belajar bahwa sebuah masalah dapat diselesaikan melalui berbagai cara, bukan hanya dengan satu jawaban yang menurut dirinya paling benar. Dari sinilah anak memahami bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kesempatan untuk menemukan solusi yang lebih baik.
Kemampuan tersebut tidak hanya dibutuhkan saat berdiskusi di dalam kelas. Di rumah, anak juga perlu belajar bahwa setiap anggota keluarga dapat memiliki pandangan yang berbeda. Saat bermain bersama teman, mereka akan menemukan bahwa tidak semua orang menyukai permainan yang sama atau memiliki cara yang sama dalam menyelesaikan masalah. Dari pengalaman-pengalaman sederhana itulah anak belajar bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang harus diperdebatkan, melainkan dipahami dan dihargai.
Anak yang terbiasa menghargai perbedaan pendapat akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih mudah bekerja sama. Ia tidak merasa harus selalu menjadi orang yang paling didengar ataupun paling benar. Sebaliknya, ia memahami bahwa setiap keberhasilan yang dicapai bersama lahir dari kemampuan saling melengkapi, bukan dari keinginan untuk saling mengalahkan. Menghargai pendapat orang lain tidak akan membuat pendapatnya menjadi kurang berharga. Justru dari kesediaan mendengarkan, seseorang menunjukkan kedewasaan dalam berpikir.
Di lingkungan pendidikan, kemampuan seperti ini memiliki peran yang sangat penting. Dunia yang akan dihadapi anak di masa depan dipenuhi oleh orang-orang dengan latar belakang, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda. Jika sejak dini mereka tidak dibiasakan menghargai pendapat orang lain, mereka akan lebih sulit bekerja sama, berdiskusi, serta menyelesaikan perbedaan dengan cara yang bijaksana.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya mengajarkan anak untuk berani berbicara, tetapi juga membentuk karakter agar mampu mendengarkan. Sebab, setiap pendapat mungkin tidak selalu menjadi jawaban terbaik, tetapi setiap anak tetap berhak mendapatkan kesempatan untuk didengar. Ketika anak belajar menghargai perbedaan pendapat, sesungguhnya mereka sedang belajar menghargai manusia. Dan dari situlah tumbuh karakter yang akan menemani mereka, bukan hanya selama di bangku sekolah, tetapi juga sepanjang kehidupan.
Indana Fitrotun Nada merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD),Universitas Pamulang. Ia memiliki ketertarikan pada isu pendidikan, pendidikan karakter, serta pengembangan diri. Melalui tulisan-tulisannya, ia berupaya menghadirkan refleksi sederhana yang mengajak pembaca melihat pendidikan sebagai proses membentuk karakter, bukan sekadar mengejar prestasi.
