Konten dari Pengguna

Mengapa Anak Tidak Boleh Takut Melakukan Kesalahan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Indana Fitrotun Nada tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak membutuhkan dukungan, bukan tuntutan untuk selalu sempurna. Dari rasa aman yang diberikan orang tua, keberanian untuk mencoba dan belajar dari kesalahan dapat tumbuh sejak dini. Foto: Bruno Nascimento/Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Anak membutuhkan dukungan, bukan tuntutan untuk selalu sempurna. Dari rasa aman yang diberikan orang tua, keberanian untuk mencoba dan belajar dari kesalahan dapat tumbuh sejak dini. Foto: Bruno Nascimento/Unsplash.

Menjadi anak pertama sering kali berarti menjadi orang yang belajar segala sesuatu lebih dulu, tanpa memiliki jejak langkah kakak yang bisa diikuti. Di sisi lain, tidak sedikit orang tua yang secara tidak sadar menaruh harapan lebih besar kepada anak pertamanya. Mereka diharapkan menjadi contoh bagi adik-adiknya, mampu bersikap dewasa, dan dapat diandalkan dalam berbagai keadaan.

Harapan tersebut tentu lahir dari rasa sayang dan kepercayaan orang tua kepada anak. Namun, menjadi anak pertama juga berarti belajar menghadapi banyak hal tanpa memiliki contoh yang lebih dulu melewatinya. Mereka sering kali meraba setiap pengalaman dengan kemampuannya sendiri, mencoba berbagai cara, melakukan kesalahan, menerima teguran, lalu bangkit dan mencoba kembali hingga akhirnya berhasil.

Mungkin yang membuat banyak anak pertama terlihat lebih kuat bukan karena mereka tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan karena mereka terbiasa bangkit setelah melakukannya.

Pengalaman tersebut mengingatkan kita bahwa setiap anak, baik anak pertama, anak tengah, anak bungsu, maupun anak tunggal, sama-sama sedang belajar menjalani proses kehidupannya. Tidak ada anak yang langsung mampu melakukan segala sesuatu dengan benar. Semua membutuhkan waktu, kesempatan untuk mencoba, dan ruang untuk melakukan kesalahan.

Sayangnya, tidak semua anak memiliki keberanian yang sama dalam menjalani proses tersebut. Sebagian anak justru tumbuh dengan rasa takut melakukan kesalahan. Mereka khawatir dianggap tidak mampu, takut dipandang kurang pintar, atau takut mengecewakan orang-orang di sekitarnya. Padahal, keberanian untuk mencoba adalah langkah pertama dalam setiap proses belajar.

Ketakutan itu sering kali terlihat di lingkungan sekolah. Pernahkah kita melihat seorang guru mengajukan pertanyaan di kelas, tetapi hampir semua siswa memilih diam? Belum tentu mereka tidak mengetahui jawabannya. Bisa jadi, mereka sebenarnya memiliki pendapat, tetapi memilih menyimpannya karena takut jawaban tersebut dianggap salah. Bagi sebagian anak, diam terasa lebih aman daripada mengambil risiko melakukan kesalahan di depan teman-temannya.

Hal yang sama juga dapat terjadi ketika guru meminta siswa menyampaikan hasil diskusi atau mengemukakan pendapat. Ada anak yang berkali-kali ingin mengangkat tangan, tetapi mengurungkan niatnya pada detik terakhir. Bukan karena tidak mampu berbicara, melainkan karena rasa takut telah mengalahkan keberaniannya. Mereka khawatir akan ditertawakan, dikoreksi dengan cara yang membuat malu, atau dibandingkan dengan teman yang dianggap lebih pintar.

Jika kondisi seperti ini terus berlangsung, anak tidak hanya kehilangan kesempatan untuk belajar, tetapi juga perlahan kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.

Mereka akan terbiasa memilih jalan yang paling aman, menghindari tantangan, bahkan meragukan kemampuan yang sebenarnya mereka miliki. Padahal, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan keberanian mengambil keputusan justru tumbuh ketika seseorang berani mencoba, termasuk ketika hasilnya belum sesuai harapan.

Di sinilah peran orang tua dan guru menjadi sangat penting. Anak membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa aman untuk belajar, bukan lingkungan yang membuat mereka takut melakukan kesalahan. Respons orang dewasa ketika anak melakukan kesalahan sering kali menentukan apakah anak akan berani mencoba lagi atau justru memilih berhenti.

Alih-alih langsung mengatakan, "Kamu salah," orang tua maupun guru dapat mengajak anak berpikir melalui pertanyaan sederhana seperti, "Menurutmu, bagian mana yang masih bisa diperbaiki?" atau "Bagaimana kalau kita coba cara yang lain?" Kalimat-kalimat seperti ini membantu anak memahami bahwa kesalahan bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan kesempatan untuk menemukan cara yang lebih baik.

Begitu pula ketika anak berani mengemukakan pendapat di kelas. Guru tidak harus selalu memberikan penilaian benar atau salah secara langsung. Memberikan apresiasi atas keberanian anak untuk berbicara merupakan langkah kecil yang dapat menumbuhkan rasa percaya dirinya. Ketika anak merasa dihargai, mereka akan lebih berani mencoba lagi pada kesempatan berikutnya.

Anak-anak tidak membutuhkan tuntutan untuk selalu sempurna. Mereka membutuhkan orang dewasa yang bersedia menemani setiap proses belajarnya. Sebab, keberanian untuk mencoba sering kali lahir bukan karena anak yakin akan selalu berhasil, melainkan karena mereka yakin tetap akan diterima, didengarkan, dan dibimbing meskipun melakukan kesalahan.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukanlah membentuk anak yang tidak pernah salah. Pendidikan seharusnya membentuk anak yang mampu belajar dari setiap kesalahan, bangkit setelah mengalami kegagalan, serta terus berusaha menjadi lebih baik. Sebab, kehidupan tidak menuntut seseorang untuk selalu benar. Kehidupan justru mengajarkan bahwa setiap kesalahan dapat menjadi langkah awal menuju pemahaman yang lebih baik.

Mungkin yang perlu kita ajarkan kepada anak bukanlah bagaimana agar mereka tidak pernah salah, melainkan bagaimana agar mereka tidak pernah takut untuk mencoba. Karena sering kali, keberanian untuk mencoba adalah awal dari tumbuhnya kepercayaan diri, kreativitas, dan semangat belajar yang akan mereka bawa hingga dewasa.

Indana Fitrotun Nada merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Pamulang. Memiliki minat pada bidang inovasi pembelajaran, pendidikan karakter, dan kepenulisan.