Konten dari Pengguna

Tidak Semua Pertemuan Berakhir Menjadi Sekadar Kenalan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Indana Fitrotun Nada tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah paket sederhana di depan pintu menjadi pengingat bahwa ada orang-orang yang tetap peduli, bahkan ketika jarak memisahkan. Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah paket sederhana di depan pintu menjadi pengingat bahwa ada orang-orang yang tetap peduli, bahkan ketika jarak memisahkan. Sumber: Unsplash

Tidak semua orang yang hadir dalam hidup kita datang untuk menetap. Sebagian hanya singgah sebentar, lalu pergi tanpa meninggalkan banyak cerita. Namun, ada pula pertemuan yang awalnya terasa begitu biasa, tetapi perlahan tumbuh menjadi hubungan yang tidak pernah disangka sebelumnya. Hubungan yang tidak dibangun oleh ikatan darah, melainkan oleh ketulusan yang terus dirawat dari waktu ke waktu.

Saya pernah dipertemukan dengan seseorang ketika tinggal di pondok pesantren. Saat itu, kami hanyalah dua orang yang sama-sama menjalani kehidupan sebagai santri. Tidak ada hubungan keluarga, tidak memiliki pertalian darah, bahkan tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan sederhana tersebut akan menjadi salah satu hubungan yang paling berharga dalam hidup saya.

Lucunya, orang yang kini saya anggap seperti kakak sendiri justru dahulu sering membuat saya menangis. Ia sangat jahil, suka mengganggu, dan tidak jarang membuat saya kesal. Namun, setiap kali saya benar-benar menangis, orang yang sama pula yang selalu datang membujuk. Kadang dengan es krim, kadang dengan makanan kecil, atau sekadar candaan yang perlahan membuat saya kembali tersenyum. Sejak saat itu, saya mulai memahami bahwa perhatian tidak selalu hadir dengan cara yang lembut. Ada orang yang menunjukkan rasa pedulinya lewat cara-cara sederhana yang mungkin tidak langsung kita sadari.

Waktu terus berjalan. Kami tidak lagi tinggal di tempat yang sama. Kesibukan masing-masing membuat pertemuan menjadi semakin jarang. Namun, yang membuat saya selalu terharu adalah perhatian itu ternyata tidak ikut berakhir bersama jarak.

Ketika saya tiba-tiba ingin makan dimsum, ia benar-benar mengirimkannya melalui paket. Saat saya sedang menyukai susu UHT, tanpa banyak bertanya ia juga pernah mengirimkannya. Bahkan ketika saya sedang benar-benar kesulitan di perantauan, ia beberapa kali membantu tanpa saya harus meminta. Semua itu bukanlah tentang seberapa mahal pemberiannya, melainkan tentang bagaimana ia selalu mengingat hal-hal kecil yang bahkan sering kali saya sendiri lupakan.

Ada satu momen yang hingga sekarang selalu berhasil membuat saya tersenyum ketika mengingatnya. Setiap kali saya selesai bercerita panjang tentang berbagai hal, saya sering bercanda kepadanya, "Capek tau cerita panjang, bayar pakai uang dong." Kalimat itu tentu hanya candaan. Namun, yang tidak pernah saya duga, ia justru benar-benar memberikan uang sambil ikut tertawa. Bukan karena saya memintanya, tetapi karena begitulah caranya menunjukkan perhatian.

Semakin dewasa, saya menyadari bahwa yang paling lama tinggal di ingatan sering kali bukan pemberian yang paling mahal, melainkan perhatian yang datang di waktu yang tepat. Barangkali itulah alasan mengapa sampai hari ini saya masih mengingat setiap hal kecil yang pernah ia lakukan. Bukan karena nilai barang yang diberikannya, tetapi karena saya tahu semua itu dilakukan dengan tulus, tanpa pernah menjadi sebuah kewajiban.

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, kita sering kali bertemu dengan banyak orang. Sebagian hanya menjadi teman seperjalanan, sebagian lagi hanya saling menyapa untuk sementara. Namun, ada pula orang-orang yang memilih tetap hadir meskipun sebenarnya mereka tidak memiliki alasan atau kewajiban untuk melakukannya. Mereka bukan keluarga sejak lahir, tetapi memilih menjadi keluarga melalui perhatian, kepedulian, dan ketulusan yang terus diberikan.

Pada akhirnya, saya belajar bahwa keluarga tidak selalu dipertemukan oleh hubungan darah. Ada keluarga yang lahir dari sebuah pertemuan sederhana, tumbuh melalui perhatian-perhatian kecil, lalu bertahan karena ketulusan yang tidak pernah berhenti. Mungkin benar, tidak semua pertemuan berakhir menjadi sekadar kenalan. Sebagian di antaranya justru berubah menjadi keluarga yang akan selalu kita syukuri kehadirannya.

Indana Fitrotun Nada merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pamulang. Ia aktif menulis artikel bertema pendidikan, karakter, dan refleksi kehidupan. Melalui tulisannya, Indana percaya bahwa pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi pelajaran berharga yang menginspirasi banyak orang.