Belajar Merawat Hati Di Tahun Baru Muharram 1448 H
Tulisan dari Indar Cahyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh : Indar Cahyanto M.Pd
Bendahara AGSI DKI Jakarta/ Ketua MGMP Sejarah Jakarta Pusat 1 / Guru SMAN 25 Jakarta.

Ketika zaman terus bertumbuh dan berkembang cepat mengikuti arus berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Ruang privat yang terkikis dengan pola informasi yang diterima dalam 24 jam secara langsung. Kehidupan manusia pun berubah seketika mengikuti arus peradaban zaman. Maka disinilah kita harus pintar dalam belajar merawat diri ditengah gempuran ego individual zaman. Apalagi ketika kita akan memasuki bulan Muharram sebagai bulan refleksi pembelajaran.
Gawai yang saban hari kita pandang sehari semalam bisa 24 jam dengan beragam aktifitas menggunakan gawai. Pada hakikatnya kita sedang melakukan interaksi secara semu dan kita menyaksikan sebuah fenomena zaman yang cukup menyayat hati. Kemudian Kita hidup di zaman di mana jarak antarnegara bisa dipangkas dalam hitungan detik lewat teknologi, namun jarak antara kita dengan tetangga sebelah rumah justru terasa berkilo-kilo meter jauhnya.
Zaman yang begitu canggih akan tetapi kita hidup dalam era individualisme. Sebuah gaya hidup modern yang pelan-pelan meracuni pikiran dan hati kita dengan bisikan: "Yang penting urusanku selesai, yang penting keluargaku kenyang, yang penting duniaku aman. Urusan orang lain, bukan urusanku.". Kita tak peduli dengan kehidupan yang ada disekitar kita. Akibatnya, kita mengalami krisis akut yang bernama kelangkaan empati.
Kemudian Kita sering melihat ada orang yang tertimpa musibah di jalanan, bukannya tangan yang bergerak untuk menolong, melainkan kamera HP atau smartphone yang dinyalakan demi sebuah konten. Kita melihat kemiskinan di sekitar kita, namun hati kita sudah terlalu bebal untuk merasa iba. Rasa peduli telah digantikan oleh sikap apatis; rasa persaudaraan telah digerus oleh sikap masa bodoh. Kita acuh dengan kondisi kemanusian yang sedang terjadi dan dialami oleh teman kita..
Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk hidup mulia sendirian. Islam adalah agama yang merajut kebersamaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan kita dengan sangat indah dalam Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat ayat 10: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damai-kanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga memberikan perumpamaan yang sangat menggetarkan jiwa tentang bagaimana seharusnya seorang muslim memandang muslim lainnya. Beliau bersabda: Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah bagai satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh anggota tubuh ikut merasakan tidak bisa tidur dan demam." (HR. Muslim)
Mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing: Saat saudara kita seiman atau bahkan tetangga kita yang terdekat sedang menangis karena lilitan kesulitan hidup, apakah mata kita ikut terjaga? Ataukah kita justru tidur nyenyak di atas kasur yang empuk sambil memeluk sifat masa bodoh?nRasulullah bahkan memberikan peringatan keras bagi mereka yang kenyang sendirian di tengah lingkungan yang kelaparan: "Bukanlah seorang mukmin, yang ia tidur dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangga di sebelahnya kelaparan." (HR. Al-Baihaqi)
Kita seolah dikepung oleh Perasaan "yang penting saya bahagia", "yang penting keluarga saya kenyang", "yang penting urusan saya lancar". Kita seringkali Menutup mata terhadap ketidakpedulian atas sesama, apakah disekitar kita masih ada yang belum makan? Ataukah ada mata yang sedang menetes di rumah sebelah. Kita tidak peduli apakah ada anak-anak yang putus sekolah karena biaya. Kita telah menjadi manusia-manusia hidup dan bernyawa, namun kehilangan kemanusiaan.
Implementasi sila dari kedua Pancasila yakni Kemanusian Yang Adil dan beradab yang dimiliki oleh bangsa ini sebagai filosofi bernegara sudah memudar. Ketika seluruh hati yang dimiliki oleh bangsa ini terbujur kaku Rasa tak lagi tertanam dengan landasan yang kuat tersimpan dalam benak anak bangsa yang ada di negri ini. Kemudian ditengah krisis kehidupan yang saat ini kita sedang alami ketika dunia sedang mengalami resesi global.
Ditengah ketidakpastian krisis ekonomi global karena kepentingan golongan kapital pemilik modal dalam mencengkram diri dan ego hanya untuk patuh pada kekayaan dan kekuasaan semata tanpa memperdulikan orang lain. Kemudian bagi kita yang terkena imbasnya memiliki tekanan ego individualisme hanya untuk memikirkan dirinya.
Oleh karena itu mari kita bertanya secara jujur pada hati dan diri sendiri. Berapa kali mata ini memandang yang haram di tahun lalu? Berapa kali lidah ini menyakiti hati istri, suami, anak, tetangga, atau teman kita? Berapa banyak harta subhat yang masuk ke perut kita? Dan yang paling menyedihkan, berapa kali kita menunda-nunda shalat, sementara Allah tidak pernah menunda sedetik pun dalam memberikan napas dan rezeki-Nya kepada kita?. Berapa kali kita acuh terhadap kehidupan semesta yang kita Jalani.
Mari kita renungkan sejenak perjalanan hidup kita. Di dunia ini, manusia sering kali silau oleh kilauan panggung sandiwara. Kita berlomba-lomba mengejar sebuah nama, memburu pangkat, dan mendaki tangga jabatan. Seolah-olah, dengan duduk di kursi yang tinggi, kita telah menggenggam kebahagiaan abadi. Dunia yang kita genggam sementara hanya pelipur lara sesaat.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)."
Ayat ini adalah dasar utama dari muhasabah (evaluasi diri). Terkait ayat ini, seorang khalifah yang agung, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah memberikan nasihat yang sangat menggetarkan hati: "Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah kelak, dan berhiaslah (bersiaplah) untuk hari pertunjukan yang agung (hari kiamat)."
Dalam kisah Sejarah Islam yang kita pelajari sebagai renungan dan kita bayangkan sebuah malam di kota Makkah, ketika Rasulullah ﷺ harus meninggalkan tanah kelahirannya yang sangat beliau cintai. Beliau diusir, diancam dibunuh, dan harus mengendap-endap di kegelapan malam bersama sahabat tercinta, Abu Bakar As-Siddiq. Mereka bersembunyi di Gua Tsur. Ketika para pengejar dari kaum Quraisy sudah berdiri di mulut gua, hingga Abu Bakar gemetar bukan karena takut mati, melainkan takut jika keselamatan Rasulullah ﷺ terancam. Di saat genting itulah, dengan ketenangan yang luar biasa, Rasulullah ﷺ berbisik yang kemudian diabadikan dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 40: "Janganlah engkau berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita."
Bulan Dzulhijjah beberapa saat lagi akan berganti bulan Muharrom artinya berganti menjadi tahun baru dalam penanggalan Islam. Muharrom hadir menandakan bahwa proses hijrah ke dalam suatu perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. Selama satu tahun sebelum Muharrom tiba kita dididik untuk menjadi manusia yang Taqwa. Serta di didik untuk memberikan kebermanfaatan untuk umat manusia lainnya.
Dalam satu tahun Ketika di didik melihat kehidupan sekeliling, belajar hidup berdampingan,belajar untuk hidup tolong menolong. Bahkan Kita rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk hobi dan kesenangan pribadi, namun tangan kita gemetar dan merasa rugi saat harus mengeluarkan beberapa ribu rupiah untuk kotak amal atau anak yatim. Kemudian Kita pun bisa menangis tersedu-sedu saat menonton film fiksi, namun mata kita kering dan hati kita dapat tergerak untuk membatu saat melihat tetangga kita kelaparan.
Maka ketika bulan Muharrom akan tiba mari kita bertafakur instropeksi diri dari apa yang sudah kita lakukan selama satu tahun kemarin. Kita coba memperbaiki diri dan hati ini agar terrus selalu ingat dan belajar sepanjang masa. Dengan kita memperbaiki hati maka sesungguhnya kita dapat berhijrah ke dalam perbuatan yang baik dan bermanfaat.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Munabbihât ‘ala Isti‘dâdi li Yaumil Mî‘âd memaparkan penjelasan Imam Hasan al-Bashri bahwa setidaknya ada enam hal yang membuat hati manusia menjadi rusak
Pertama, berbuat dosa dengan berharap kelak ia bisa bertobat. Ia sadar bahwa apa yang dilakukan adalah kedurhakaan, tapi berangan-angan ia bisa menghapus kesalahan-kesalahan kini di kemudian hari.
Kedua, berilmu tapi tidak mau mengamalkannya. Pepatan bijak mengatakan, al-‘ilmu bilâ ‘amalin kasy syajari bilâ tsamarin (ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah). Pengamalan dalam kehidupan sehari-hari dari setiap pengetahuan tentang hal-hal baik adalah tujuan dari ilmu..
Ketiga, ketika seseorang beramal, ia tidak ikhlas. Setelah ilmu diamalkan, urusan belum sepenuhnya beres. Sebab, manusia masih dihinggapi hawa nafsu dari mana-mana. Ia mungkin saja berbuat baik banyak sekali, namun sia-sia belaka karena tidak ada ketulusan berbuat baik. Ikhlas adalah hal yang cukup berat sebab meniscayakan kerelaan hati meskipun ada yang dikorbankan.
Keempat, memakan rezeki Allah tapi tidak mau bersyukur. Karunia dan syukur merupakan pasangan yang tak bisa dipisahkan. Jika tidak ada kehidupan manusia di dunia ini yang luput dari karunia Allah, maka bersyukur adalah pilihan sikap yang wajib. Orang yang tak mau bersyukur adalah orang yang tidak memahami hakikat rezeki.
Kelima adalah tidak ridha dengan karunia Allah. Pada level ini, orang bukan hanya tidak mau mengucapkan rasa syukur, tapi juga kerap mengeluh, merasa kurang, bahkan dalam bentuknya yang ekstrem melakukan protes kepada Allah. Allah memberikan kadar rezeki pada hambanya sesuai dengan proporsional.
Keenam, mengubur orang mati namun tidak mengambil pelajaran darinya. Peristiwa kematian adalah nasihat yang lebih gamblang daripada pidato-pidato dalam panggung ceramah. Ketika ada orang meninggal, kita disajikan fakta yang jelas bahwa kehidupan dunia ini fana. Liang kuburan adalah momen perpisahan kita dengan seluruh kekayaan, jabatan, status sosial, dan popularitas yang pernah dimiliki. Selanjutnya, orang mati akan berhadapan dengan semua pertanggungjawaban atas apa yang ia perbuat selama hidup di dunia.
Jenis anugerah Allah mungkin ia batasi hanya kepada ukuran-ukuran yang bersifat material belaka, misalnya jumlah uang, rumah, jenis makanan, dan lain-lain. Padahal, rezeki telah diterima setiap saat, berupa nikmat bendawi maupun nonbendawi. Mulai dari napas, waktu luang, akal sehat, hingga berbagai kecukupan kebutuhan lainnya seperti makan, tempat tinggal, dan pakaian. Hanya mereka yang sanggup merenungkannya yang akan jauh dari kufur nikmat alias tidak bersyukur. Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashaihul ‘Ibad mengartikan syukur dengan ijrâ’ul a‘dlâ’ fî mardlâtillâh ta‘âlâ wa ijrâ’ul amwâl fîhâ (menggunakan anggota badan dan harta benda untuk sesuatu yang mendatangkan ridha Allah). Artinya, selain ucapan “alhamdulillah”, kita dianggap bersyukur bila tingkah laku kita, termasuk dalam penggunaan kekayaan kita, bukan untuk jalan maksiat kepada Allah Sumber: https://nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-6-hal-yang-membuat-hati-rusak-menurut-hasan-al-bashri-6bkwF
Muharrom tiba merupakan bulan refleksi diri kembali untuk membersihkan hati dari seluruh proses pembelajaran yang dilakukan oleh manusia beriman selama satu tahun. Kita jadikan menjadi suatu titik tolak perubahan agar menjadi hati yang Ikhlas. Serta menjadi manusia yang selalu belajar sepanjang hayat memperbaiki dirinya.
Muharram mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil untuk memperbaiki diri. Saatnya berhijrah dari kebiasaan yang melemahkan menuju kebiasaan yang menguatkan, dari kelalaian menuju kepedulian, dan dari sekadar menjalani hidup menuju kehidupan yang lebih bermakna.
"Belajar merawat diri menjelang Muharram adalah belajar menghargai amanah kehidupan, agar setiap langkah hijrah membawa kita lebih dekat kepada Allah dan lebih bermanfaat bagi sesama." ✨
Selamat menyambut Bulan Muharram 1448 H. Mari berhijrah, bertumbuh, dan memperbaiki diri menuju peradaban yang lebih berakhlak dan bermartabat..

