Konten dari Pengguna

Hari Raya Idul Adha Dan Aktualisasi Pendidikan Sejarah

Indar Cahyanto

Indar Cahyanto

Mengajar Di SMAN 25 Jakarta Aktif Dalam Kegiatan Pengembangan diri dan Organisasi Di APKS PGRI DKI Jakarta sebagai Sekretaris Aktifis Muhammadiyah Ciracas Jakarta Timur dan Assosiasi Guru Sejarah Indonesia DKI Jakarta sebagai Bendahara Umum

·waktu baca 10 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Indar Cahyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Diambil dari AL Gemini
zoom-in-whitePerbesar
Diambil dari AL Gemini

Oleh : Indar Cahyanto, M.Pd

Pendidikan sejarah bukan hanya sekadar menghafal tanggal, tokoh, dan peristiwa, tetapi juga membangun kesadaran historis peserta didik dan masyrakat pada umumnya agar mampu mengambil hikmah dari perjalanan umat manusia sejak masa Kenabian Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW hingga zaman saat ini. Dalam konteks ini Idul Adha memberikan inspirasi penting untuk membentuk karakter generasi yang berintegritas dan berkeadaban. Maka Idul Adha dapat mengaktualisasikan Pendidikan Sejarah ke dalam perjalanan kehidupan umat Islam.

Ada suatu masa penegasan ketika kaum Muslimin memasuki bulan Dzulhijjah ada momentum dimana kita belajar secara bersama dalam mengaktualisasi diri sebagai bagian insan yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Di bulan Dzulhijjah ada Hari Raya Akbar yakni Idul Adha memiliki makna historis dalam menapaki perjalanan spiritual seorang Hamba. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengajarkan keteladanan dalam ketaatan, kesabaran, dan pengorbanan. Pendidikan sejarah juga bertujuan menghadirkan tokoh-tokoh bangsa sebagai sumber inspirasi moral.

Proses pembelajaran Sejarah dalam bingkai ibadah Qurban pada bulan Dzulhijjah merupakan bagian rasa empati dan simpati mengingat perjuangan manusia yang Sholeh pada masa lampau. Kesalehan yang ditunjukkan oleh orang-orang terpilih dari zamannya memberikan isyarat untuk kita umatnya agar dapat mengikutinya. Jejak nilai spiritual yang ditinggalkan masih terakam dalam ingatan hamba yang beriman. Ingatan ini menunjukkan bahwa Sejarah memberikan rasa kesadaran nilai-nilai kehidupan untuk diikuti dan ditaati.

Berawal dari kisah Sejarah pada masa Nabi Adam AS dan keluarganya dimana mereka Habil dan Qabil, anak Nabi Adam dan Siti Hawa. Qabil lahir kembar bersama Iqlima, sementara Habil memiliki saudara kembar Labuda. Sesuai perintah Allah, Nabi Adam memerintahkan pernikahan silang antara keduanya: Habil dengan Iqlima, dan Qabil dengan Labuda. Namun Qabil tidak terima dengan Keputusan tersebut dan menginginkan Iqlima.

Dalam tafsir kemenag menurut riwayat Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan lain-lain, bahwa putra Adam yang bernama Qabil mempunyai ladang pertanian dan putranya yang bernama Habil mempunyai peternakan kambing. Kedua putra Adam itu mempunyai saudara kembar perempuan. Pada waktu itu Allah mewahyukan kepada Adam agar Qabil dikawinkan dengan saudara kembarnya Habil. Dengan perkawinan itu Qabil tidak senang dan marah, saudara kembarnya lebih cantik. Keduanya sama-sama menghendaki saudara yang cantik itu. Akhirnya Adam menyuruh Qabil dan Habil agar berkurban guna mengetahui siapa di antara mereka yang akan diterima kurbannya. Qabil berkurban dengan hasil pertaniannya dan yang diberikan bermutu rendah, sedang Habil berkurban dengan kambing pilihannya yang baik. Allah menerima kurban Habil, yang berarti bahwa Habil-lah yang dibenarkan mengawini saudara kembar Qabil. Dengan demikian bertambah keraslah kemarahan dan kedengkian Qabil sehingga ia bertekad untuk membunuh saudaranya. Tanda-tanda kurban yang diterima itu ialah kurban itu dimakan api sampai habis.197)

Sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam Surat Al – Maidah ayat 27 yang artinya: “Ceritakanlah (Muhammad) kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Ma'idah: 27).

Narasi Sejarah yang diangkat dalam kisah perjalanan Nabi Adam dan keluarganya memiliki latar keimanan kepada Allah SWT sebagai pencipta alam semesta. Hal ini menunjukkan poin adanya rasa Ikhlas dan niat dalam diri akan pentingnya perintah yang harus diyakini dan diikutinya sebagai bagian rasa taat tunduk dan patuh. Maka kata Qurban berasal dari bahasa Arab “Qariba -Yaqrabu –Qurbanan” yang berarti dekat. Maksudnya mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan perintah-Nya. Umat Islam memperingati Idul Adha setiap tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan dengan saat jamaah haji melaksanakan wukuf di Arafah.

Dalam proses pendidikan Sejarah yang dipelajari dibangku sekolah atau madrasah atau pengajian, Idul Adha menyajikan suatu tempat laboratorium hidup untuk memahami bagaimana peristiwa masa lalu direlevansikan dengan kehidupan masa kini dan bekal untuk masa depan. Proses ini ditujukan bagi umat muslim yang memiliki kesadaran nilai dan rasa keimanan. Pada dasarnya kesadaran Sejarah dalam Hari Raya Idul Adha menuntun hamba menjadi sadar akan konteks ruang dan waktu darimana dia berasal dan dia diciptakan. Sehingga membangun kepekaan diri dalam bertranformasi nilai-nilai Tauhid.

Aktualisasi pendidikan sejarah melalui Idul Adha dapat dilihat melalui beberapa lensa berikut: Pertama Sejarah Bukan Hanya Masa Lalu, Tetapi Jejak Nilai yang memiliki kesadaran Sejarah Pendidikan sejarah yang diajarkan sering kali terjebak pada masalah hafalan nama, tanggal, dan tempat. Tanpa ada makna lain dari proses perjalanan kehidupan manusia yang memiliki fakta dan peristiwa Sejarah yang dapat dikaji dan dipelajari.

Aktualisasi pendidikan sejarah di sini adalah membangun Kesadaran Sejarah. Peserta didik diajak tidak hanya mengetahui "kapan" Ibrahim diuji, tetapi "mengapa" peristiwa itu terjadi dan "apa dampaknya" bagi peradaban manusia saat ini. Nilai keimanan, ketaatan, dan keteguhan hati yang ditunjukkan Ibrahim ribuan tahun lalu menjadi "bahan baku" bagi pembentukan karakter generasi muda masa kini. Hal ini dapat juga dikaitkan dengan kehidupan tokoh kebangsaan yang dimiliki bangsa ini dalam memperjuangankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Apabila kita melihat sisi Pendidikan sejarah dari Hari Raya Idul Adha ini, maka pikiran kita akan teringat kisah teladan Madrasah Nabi Ibrahim, yaitu ketika Beliau diperintahkan oleh Allah SWT untuk menempatkan istrinya Hajar bersama Nabi Ismail putranya, yang saat itu masih menyusu. Mereka ditempatkan disuatu lembah yang tandus, gersang, tidak tumbuh sebatang pohon pun. Lembah itu demikian sunyi dan sepi tidak ada penghuni seorangpun. Nabi Ibrahim sendiri tidak tahu maksud sebenarnya dari wahyu Allah yang memerintahkannya menempatkan istri dan putranya yang masih bayi itu, ditempatkan di suatu tempat paling asing, yakni di sebelah utara kurang lebih 1600 KM dari negaranya sendiri palestina. Tapi baik Nabi Ibrahim, maupin istrinya Siti Hajar, menerima perintah itu dengan ikhlas dan penuh tawakkal.

Kedua Pembentukan Karakter melalui Internalisasi Sejarah (Internalisasi Nilai) Salah satu tujuan utama pendidikan sejarah adalah pembentukan watak bangsa. Idul Adha adalah perwujudan nyata dari pendidikan karakter berbasis sejarah. Nilai Pengorbanan: Dalam konteks sejarah, Ibrahim rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintai (putranya) demi ketaatan kepada Tuhan. Proses aktualisasi pendidikan sejarah modern, peserta didik diajak untuk memahami: "Apa yang bisa mereka korbankan demi kebenaran dan kemajuan bangsa?" Pengorbanan di sini tidak harus berupa nyawa, akan tetapi bisa berupa mengorbankan egoisme, melawan kemalasan, atau berjuang menumpas korupsi. Nilai Kemandirian: Sejarah mencatat Ismail yang sangat kecil rela berkorban dan menunjukkan kemandirian. Ini relevan dengan pendidikan sejarah yang menanamkan semangat kemandirian dalam membangun negeri, tidak bergantung pada pihak lain, serta mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Seperti yang diceritakan oleh Ibnu Abbas bahwa tatkala Siti Hajar kehabisan air minum hingga tidak biasa menyusui nabi Ismail, beliau mencari air kian kemari sambil lari-lari kecil (Sa’i) antara bukit Sofa dan Marwah sebanyak 7 kali. Tiba-tiba Allah mengutus malaikat jibril membuat mata air Zam Zam. Siti Hajar dan Nabi Ismail memperoleh sumber kehidupan. Lembah yang dulunya gersang itu, mempunyai persediaan air yang melimpah-limpah. Datanglah manusia dari berbagai pelosok terutama para pedagang ke tempat siti hajar dan nabi ismail, untuk membeli air. Datang rejeki dari berbagai penjuru, dan makmurlah tempat sekitarnya. Akhirnya lembah itu hingga saat ini terkenal dengan kota mekkah, sebuah kota yang aman dan makmur, berkat do’a Nabi Ibrahim dan berkat kecakapan seorang ibu dalam mengelola kota dan masyarakat.

Ketiga Memupuk Solidaritas Sosial Berbasis Tradisi (Historical Empathy) Salah satu kompetensi dalam pendidikan sejarah adalah Empati Sejarah kemampuan memahami perasaan dan tindakan orang di masa lalu. Idul Adha mengajarkan empati ini menjadi aksi nyata: berbagi daging kurban kepada yang membutuhkan. Tradisi pembagian daging kurban mengajarkan kepada peserta didik bahwa sejarah perjuangan para Nabi adalah sejarah perjuangan kemanusiaan. Ibrahim adalah sosok yang peduli. Aktualisasinya di sekolah atau masyarakat adalah membangun budaya peduli dan solidaritas. Pendidikan sejarah menjadi tidak kaku di dalam kelas, tetapi "turun ke jalan" dalam bentuk aksi sosial, memperkuat jalinan silaturahmi dan kepedulian antar sesama, yang merupakan pilar utama kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Kisah masa lalu Nabi Ibrahim dalam narasinya memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai 12.000 ekor ternak. Suatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah tergolong milliuner. Ketika pada suatu hari, Ibrahim ditanya oleh seseorang “milik siapa ternak sebanyak ini?” maka dijawabnya: “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku Ismail, niscaya akan aku serahkan juga.

Keempat Pendidikan Kritis dan Berpikir Logis Kisah Ibrahim dalam sejarah juga sarat dengan dialog dan logika. Dalam sejarah, Ibrahim menggunakan akal budinya untuk menolak penyembahan berhala dan menerima kebenaran tauhid. Bahkan dalam momen kurban, terjadi dialog antara ayah dan anak Al Quran Surat Ash-Shaffat ayat 102 yang artinya : “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahm) bertkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihkanmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah, datanglah setan sambil berkata, “Hai Ibrahim, kamu orang tua macam apa kata orang nanti, anak saja kau disembelih?” “Apa kata orang nanti?” “Apa kamu tidak malu? Aduh tega sekali, anak satu-satunya disembeli!” “Coba lihatlah, anaknya yang lincah seperti itu!” “Anaknya pintar lagi, enak dipandang mata, anaknya patuh seperti itu kok dipotong!” “Tidak punya lagi nanti setelah itu, tidak punya lagi yang seperti itu! Belum tentu nanti ada lagi seperti dia.” Nabi Ibrahim sudah mempunya tekat. Ia mengambil batu lalu mengucapkan, “Bismillahi Allahu akbar.” Batu itu dilempar. Akhirnya seluruh jamaah haji sekarang mengikuti apa yang dulu dilakukan oleh Nabi Ibrahim ini di dalam mengusir setan dengan melempar batu sambil mengatakan, “Bismillahi Allahu akbar”. Dan hal ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah

Dalam konteks pendidikan sejarah, Idul Adha mengajarkan bahwa agama dan sejarah tidak bertentangan dengan akal. Aktualisasinya adalah menumbuhkan pemikiran kritis bagi generasi muda. Mereka diajak untuk belajar sejarah bukan sekadar menerima informasi, tetapi mengolahnya dengan logika, memilah mana yang benar dan mana yang salah, sebagaimana Ibrahim mengolah nubuat menjadi keyakinan yang rasional.

Kelima Relevansi Masa Lalu dengan Masa Depan Hikmah terbesar Idul Adha adalah terkabulnya doa Ibrahim: mewujudkan tanah suci (Makkah) dan generasi yang subur (QS. Ibrahim: 37). Ini menunjukkan bahwa sejarah adalah proses menuju visi masa depan. Pendidikan sejarah yang aktual harus mampu menghubungkan pengorbanan di masa lalu dengan kesejahteraan di masa depan. Generasi muda dididik untuk memahami bahwa "Kurban" hari ini adalah bekal untuk "Kebahagiaan" esok hari. Belajar sejarah membuat mereka menyadari bahwa kemerdekaan dan kemajuan yang dinikmati saat ini adalah hasil "kurban" (perjuangan) para pahlawan di masa lalu.

Kesimpulan

Idul Adha dan Pendidikan Sejarah memiliki sinergi yang sangat kuat. Idul Adha bukan hanya momentum keagamaan, tetapi juga momen pendidikan sejarah yang hidup. Melalui Idul Adha, pendidikan sejarah diaktualisasikan dalam bentuk:.

Dengan memahami makna sejarah Idul Adha secara mendalam, kita berharap dapat melahirkan generasi "Ibrahim Baru": generasi yang memiliki sejarah yang kuat, akal yang sehat, hati yang peka, serta nyali yang berani untuk berkorban demi kebenaran dan kemajuan bangsa.

Idul Adha memberikan pelajaran penting tentang keteladanan, pengorbanan, keikhlasan, dan solidaritas sosial. Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk diaktualisasikan dalam pendidikan sejarah agar pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan kesadaran kemanusiaan.

Melalui pendidikan sejarah yang berkesadaran dan bernilai, peserta didik diharapkan mampu menjadi generasi yang cerdas, berakhlak, cinta tanah air, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Spirit Idul Adha pada akhirnya menjadi energi moral dalam membangun pendidikan sejarah yang humanis, bermutu, dan berkemajuan.