Konten dari Pengguna

Idul Fitri: Proses Pembelajaran Menggapai Kemenangan

Indar Cahyanto

Indar Cahyanto

Mengajar Di SMAN 25 Jakarta Aktif Dalam Kegiatan Pengembangan diri dan Organisasi Di APKS PGRI DKI Jakarta sebagai Sekretaris Aktifis Muhammadiyah Ciracas Jakarta Timur dan Assosiasi Guru Sejarah Indonesia DKI Jakarta sebagai Bendahara Umum

·waktu baca 9 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Indar Cahyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : Indar Cahyanto

Guru SMAN 25 Jakarta dan aktivis Muhammadiyah PCM Ciracas Jakarta Timur

Hari kemenangan bagi kaum Muslimin setelah menjalani Ibadah Shaum dan Qiyam Ramadhan akan berlalu. Hari kemenangan yang menandakan bagi mereka telah sukses melaksanakan perintah Allah dan Rosul Muhammad SAW. Kemenangan ketika mereka telah berjuang menundukkan hawa nafsunya dari rasa malas, tamak dan serakah.

Selama 1 bulan penuh digembleng dan ditempa dalam madrasah Ramadhan untuk membentuk diri menjadi insan yang bertaqwa. Ada rasa setiap perbuatan baik yang dilakukan selama bulan Ramadhan diganjar pahala dari Allah SWT. Obral pahala yang berlipat ganda diyakini apabila seorang muslim dapat menjalankan perintah dan kewajibannya secara maksimal.

Ketika pada malam hari kita melaksanakan ibadah qiyam Ramadhan mulai dari sholat isya, tarawih serta sholat sunnah lainnya kemudian dikala siang hari kita melaksanakan shuam Ramadhan disertai dengan tadarus Quran ditambah dengan menunaikan zakat infaq dan shodaqoh. Proses pembelajaran yang diajarakan secara langsung dari Allah SWT kepada ummatnya yang beriman dan bertaqwa kepada Allah.

Rasa keindahan Ketika kita melakukan ibadah di bulan suci Ramadhan terasa Bahagia buat kita yang menunaikan yakni Ketika berbuka puasa pada saat beduk maghrib dan melaksanakan saur di pagi hari. Kebahagian itu memuncak karena kita bisa berkumpul pada saat kedua ibadah itu. Sebab setelah Ramadan dua hal itu mungkin akan menghilang dalam kehidupan kita selama 11 bulan.

Pembelajaran menggapai kemenangan pada hakikatnya sudah terlaksana setiap hari Ketika kita berbuka dan pada saur. Akan tetapi hari kemenangan yang besar dan megah Ketika pada saat idul fitri. Besar dan megah Ketika perayaan Idul Fitri pada intinya setiap manusia membuka pintu diri dari hati yang terdalam untuk saling memaafkan dan saling menjaga kesucian.

Esok ketika matahari di ufuk terakhir bulan suci Ramadan perlahan mulai tenggelam, ada rasa yang tak menentu menyelinap di relung kalbu kaum muslimn. Ada sesak yang tertahan saat menyadari bahwa bulan yang penuh limpahan pahala akan segera pergi. Kita berdiri di ambang pintu perpisahan, menatap sajadah yang masih menyimpan bekas sujud, teringat akan tarawih yang mungkin kurang khusyuk, atau tadarus yang terkadang terburu-buru dan teringat akan butiran doa yang kita langitkan di sepertiga malam.

Teringat akan butiran dosa yang menghampiri setiap Langkah perjalanan kita setiap hari. Teringat akan konflik yang terjadi di belahan dunia sana serta teringat akan keserakahan ketamakan kemunafiqkan yang kita buat sepanjang hari. Ramadhan seharusnya kita buat ibadah dengan riang dan gembira malahan kita buat dengan kemarahan keegoisan. Pendidikan di madrasan Ramadan mungkin ada yang belum maksimal kita lakukan.

Lantas dalam diri ini ketika hari kemenangan itu datang menghampiri kita dengan gema Takbir ada ketakutan yang merayap: “Sudahkah Allah memaafkanku? Ataukah Ramadan ini berlalu tanpa bekas?” Begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan untuk kesikian kalinya dalam hidup kita tapi kita abai. Kita cuman bilang rasa rindu yang mendalam akan tetapi hati dan gerak kita tidak tunduk kepada Allah dan Rosul Muhammad SAW.

Namun, di tengah kemelut rasa rindu yang mulai tumbuh sebelum ia benar-benar pergi, Sang Khalik tidak membiarkan hamba-Nya terkubur dalam kesedihan. Di balik tabir langit, skenario kemuliaan sedang dipersiapkan. Sebagaimana dikabarkan melalui lisan suci Baginda Nabi Muhammad SAW Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memilih empat hari istimewa dari hari-hari yang ada Idulfitri adalah salah satu permata dari empat hari tersebut. Maka ia merupakan prose perjalanan yang akan ditempuh itu adalah:

Pertama . Lailatul Ja’izah: Malam Hadiah bagi Jiwa yang Lelah menunaikan ibadah sesuai perintahNya. Di saat bumi riuh dengan gema takbir dan kesibukan setiap orang mempersiapkan perayaan idul fitri dengan lembaran baru. Coba kita bayangkan pada malam pertama hingg akhir Ramadan, Allah memandang mereka dengan rahmat-Nya. Bayangkan, pada saat engkau bersujud di keheningan malam ramadhan, di saat hatimu masih merasa kotor oleh noda maksiat dan air mata penyesalan mulai jatuh, Allah justru menatapmu dengan kelembutan yang tak terlukiskan.

Dan Ketika takbir tahlil dan Tahmid menggema ke seluruh penjuru dunia dan isinya. Maka langit justru menamakannya sebagai "Malam Hadiah". Inilah malam sunyi yang sakral, di mana Allah memandang hamba-hamba-Nya bukan lagi sebagai penguji, melainkan sebagai Raja yang Maha Dermawan. Setiap sujud yang kau lalui dengan kantuk, setiap ayat yang kau baca dengan terbata-bata, dan setiap sedekah yang kau beri dengan sembunyi-sembunyi, semuanya dihargai dengan hadiah yang tak ternilai: Ridha-Nya.

Bukan tatapan hakim hendak menghukum, melainkan tatapan pencipta yang ingin menyembuhkan luka jiwamu. Satu detik saja Allah menatapmu dengan cinta-Nya, maka seluruh masa lalumu yang kelam terbakar habis oleh kasih-Nya, dan pintu neraka terkunci rapat bagimu selamanya. Engkau bukan lagi budak masa lalumu, engkau adalah hamba yg telah diterima kembali. Begitulah indahnya Ketika kita merasa yakin akan perjalanan kehidupan kita yang terus diwarnai pancaran Ilahi Robbi.

Kedua. Seruan Malaikat di Persimpangan Jalan Begitu fajar Syawal menyingsing, bumi dipenuhi oleh tamu-tamu tak kasat mata. Para insa kaum musliman bergegas menuju tanah lapang, masjid untuk menunaikan kewajiban sholat idul Fitri. Maka para malaikat turun dari setiap penjuru langit, berdiri di mulut-mulut jalan, memanggil kita dengan suara yang mengguncang arasy namun lembut bagi jiwa yang beriman.

Kemudian dari lantunan Istighfar dari lisan hambat yang berimana dan dari MalaikatNya. Allah Ta'ala memerintahkan para malaikat untuk memohonkan ampunan bagi mereka." Mungkin engkau merasa tak layak berdoa karena lisanmu seringkali penuh dusta dan keluhan. Namun ketahuilah, saat engkau berpuasa dan merayakan hari kemangan, Allah memerintahkan makhluk-makhluk-Nya yang paling suci yang tak pernah mengenal dosa untuk menyebut namamu di Arsy. Jutaan malaikat bersimpuh, membisikkan namamu dengan penuh kasih: "Ya Allah, ampuni si fulan yg sedang menahan haus demi-Mu, hapuskanlah khilafnya." Engkau tidak sendirian dalam perjuanganmu; seluruh penghuni langit sedang bersatu demi keselamatanmu

Begitu mereka mengajak kita melangkah menuju Sang Kerajaan Cinta, Allah yang tak pernah bosan memberi meski kita sering lupa meminta, Allah yang saking luas ampunan-Nya, mampu melenyapkan gunung dosa hanya dengan satu hembusan kasih sayang-Nya. Rasa cinyaNya melebihan Samudra dan alam semesta kepada hambaNya yang mau tunduk patuh taat kepada ajaran dan perintahNya. Pendidikan Ramadhan rasa cinta itu kan tumbuh setelah kita merayakan hari kemenangan.

Ketiga Persaksian Agung di Hadapan Penduduk Langit Inilah momen paling mengharukan dalam kehidupan seorang mukmin. Saat kita duduk bersimpuh di Majid, Di lapangan untuk salat Id, mengharap belas kasihan-Nya setelah kita menunaikan Shaum dan Qiyam Ramadhan. Ketika kita berpuasa Aroma yg Lebih Harum dari Kasturi أَSesungguhnya aroma mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak misk." Mungkin dunia menjauhimu karena kekuranganmu, atau engkau merasa rendah diri karena bau mulut saat berpuasa. Namun bagi Allah, itu adalah wewangian paling mewah di semesta. Setiap detik rasa haus yang kau tahan, setiap keroncong perut yang kau sabari dalam diam, mengirimkan aroma cinta yang menembus langit ketujuh. Allah tidak melihat rupa dan hartamu; Dia sangat mencintai setiap tetes lelahmu yang kau sembunyikan dari manusia hanya demi menyenangkan hati-Nya. Bagimu itu pengorbanan, bagi-Nya itu adalah keindahan yg luar biasa.

Di sinilah Allah justru sedang membanggakan nama kita di hadapan para malaikat-Nya. Dia tidak memandang seberapa indah pakaianmu atau seberapa harum wewangianmu serta pangkat derajatmu didunia, tapi Dia melihat bekas-bekas perjuanganmu selama sebulan penuh selama Ramadgan. Dengan segala keagungan-Nya, Dia bersaksi kepada penghuni langit: "Saksikanlah, Aku telah mengampuni mereka." Adakah kemenangan yang lebih besar daripada pengampunan Tuhan di hari kemenangan?

Keempat Kepulangan Sang Pemenang Puncak dari segala kebahagiaan adalah saat kita melangkah kembali ke rumah setelah melakukan sholat idul fitri. Kita tidak pulang dengan tangan hampa, akan tetapi ada nasihat Ketika khatib melakukan wasiat dan nasihat tentang makna Idul Fitri. Nasihat dan waiat tentang Surga yang Bersolek untukmu Allah Ta'ala berfirman kepada surga: 'Bersoleklah', dan Dia berfirman: 'Beruntunglah hamba-hamba-Ku yang beriman, mereka adalah kekasih-kekasih-Ku'." Surga tempat yang keindahannya tak mampu dilukiskan oleh mata dan kata kini sedang bersiap-siap. Allah memintanya berdandan hanya untuk menyambut kedatanganmu. Di sana, Allah memanggilmu dengan sebutan: "Kekasih-kekasih-Ku". Jika dunia pernah mencacimu atau membuatmu merasa tidak berharga, ingatlah bahwa Raja dari segala Raja sedang membanggakanmu di depan penghuni surga. Engkau bukan orang asing di langit; engkau adalah tamu agung yg kepulangannya sangat dinanti

Kemudian Malaikat-malaikat itu mengiringi langkah kita sembari membisikkan janji langit: "Pulanglah kalian dalam keadaan suci." Segala catatan hitam di masa lalu tidak hanya dihapus, melainkan disulap oleh kemurahan Allah menjadi catatan kebaikan. Kita pulang bukan hanya sebagai hamba yang dimaafkan, tapi sebagai kekasih yang kembali dicintai. Penutup Maka, izinkanlah Ramadan pergi dengan tenang, karena ia telah menuntaskan tugasnya untuk membentukmu. Kini, sambutlah Idulfitri dengan kerendahan hati. Resapilah setiap takbir yang kau ucapkan, karena di setiap Allahu Akbar terdapat pengakuan bahwa hanya Dia yang Maha Besar, dan kita hanyalah hamba kecil yang tak berdaya tanpa ampunan-Nya. Itulah harapan tertinggi sebagai umatNya kepada Sang Pencipta Alam semesta Allah SWT. https://www.tiktok.com/@yaiz.mudzakir.elidrus/photo/7618031316822461717

Ada puncak yang hakikat adalah Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia merupakan dari setiap isi surat cinta dari Sang Pencipta yang rindu pada hamba-Nya. Di dalamnya, ada anugerah istimewa yang Allah siapkan khusus bagi kita, umat akhir zaman, yg tak pernah diberikan kepada umat-umat terdahulu. Kerinduan dan kasih sayang Allah kepada UmatNya begitu luar biasa tingginya. Maka sebagai seorang hamba dengan membalas anugrah yang diberikan oleh Allah dengan penuh keyakinan dalam hati yang terdalam dari diri kita

Kehidupan di akhir zaman yang begitu banyak dinamika dan penuh anomali kehidupan. Keresahan dan perjuangan hidup dari orang-orang yang tak pernah berhenti mencari sesuap nasi. Konflik peperangan ditengah arus global terus membayangi hidup kita seakan-akan ada hura-hara perang dunia ke tiga. Sebagian dari kita tersandera dengan dramaturgi kehidupan yang dibuat oleh sekolompok manusia.

Maka Ketika kaum Muslimin yang penuh keyakinan dalam beribadah dengan akal dan logikanya. Maka basuhan Ampunan yg Menghapus Segalanya akan Allah Ta'ala mengampuni mereka semua.. Saat di penghujung Ramadan, Allah tidak ingin ada satu pun hamba-Nya yg keluar membawa beban kesedihan dosa. Dia ingin membasuh luka hatimu, mencuci noda di lembaran amalmu, dan mengembalikan fitrahmu seputih awan. Ini adalah janji-Nya yg paling tulus: tidak ada satu pun jiwa yang bersungguh-sungguh melintasi Ramadan, kecuali ia akan didekap dalam ampunan-Nya yg seluas samudera. Jangan biarkan Ramadan ini berlalu tanpa bekas di jiwamu. Setiap jamnya, ada jiwa-jiwa yang dirantai dari api neraka dan dibebaskan untuk selamanya. Berlarilah menuju-Nya dengan sisa tenagamu.

Proses pembelajaran Ramadhan menjadi nilai yang terindah dan mungkin terakhir disisa hidup kita. Belajar secara langsung dihadapan Allah SWT sebagai maha guru yang menilai proses kesempurnaan ibadah yang umat muslim lakukan. Setiap rangkaian ibadah bernilai ganda pahala diberikan olehNya. Karena gurunya itu langsung dari Allah SWT sehingga apabila kita merasakan kehadiran Tuhan (Ihsan) Pelajaran terbesar adalah tentang tingkat Ihsan ketika seseorang menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya, atau setidaknya sadar bahwa Allah selalu melihatnya. Begitulah proses pembelajaran dihari kemenangan dalam mencapai kesucian hati jiwa lahir dan batin.Sehingga berproses menjadi manusia yang mau banyak membaca dengan menyebut Tuhannya. Iqra merupakan kunci dan jendala dalam memahami proses dialektika kehidupan yang fana ini.