Konten dari Pengguna

Pendidikan Bermutu Untuk Semua

Indar Cahyanto

Indar Cahyanto

Mengajar Di SMAN 25 Jakarta Aktif Dalam Kegiatan Pengembangan diri dan Organisasi Di APKS PGRI DKI Jakarta sebagai Sekretaris Aktifis Muhammadiyah Ciracas Jakarta Timur dan Assosiasi Guru Sejarah Indonesia DKI Jakarta sebagai Bendahara Umum

·waktu baca 11 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Indar Cahyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan Bermutu Untuk Semua
zoom-in-whitePerbesar

Oleh : Indar Cahyanto

(Guru SMAN 25 Jakarta,Ketua MGMP Sejarah Jakarta Pusat dan Bendahara umum AGSI DKI Jakarta)

Visi “Pendidikan Bermutu untuk semua” dari kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah di bawah di bawah Prof.Dr. Abdul Mu’ti. Kalimat yang mengisyaratkan bahwa proses Pendidikan itu yang dilakukan di negri ini haruslah bermutu dan menjangkau semua lapisan Masyarakat di Indonesia. Dengan kata lain ada cerminan komitmen kuat dari pemerintah Indonesia untuk menciptakan sistem pendidikan yang berkualitas, merata, dan dapat diakses oleh seluruh warga negara, tanpa terkecuali.

Pendidikan merupakan suatu proses investasi jangka panjang bagi masyarakat Indonesia. Di dalamnya memiliki muatan pengembangan pengetahuan dan pembentukan karakter bagi generasi muda bangsa Indonesia. Dalam pendidikan merupakan proses pematangan kognitif psikomotor serta afektif dari kualitas siswa perlu dikembangkan dengan cara membebaskan siswa dari ketidaktahuan, ketidakmampuan, ketidakberdayaan, ketidakbenaran, ketidakjujuran, dan dari buruknya akhlak perilaku generasi muda saat ini.

Pendidikan bermutu untuk semua melihat bahwa proses pendidikan yang ada di Indonesia belumlah mengakar dalam seluruh kehidupan masyarakat. Kemudian akses Pendidikan yang didapatkan oleh masyarakat Indonesia belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Masih ada kesenjangan dalam mendapatkan akses Pendidikan yang ada di Indonesia antara orang kaya dengan orang tak mampu serta ada beberapa alasan yang krusial menyangkut masalah ekonomi.

Merujuk data dasbor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah per tanggal 1 April 2026, jumlah ATS mutakhir mencapai 3.966.858, BPB (1.913.633), DO (986.755), serta LTM (1.066.470). Dari data-data tersebut, peserta didik yang tercatat tidak aktif berdasarkan rekam didik akan dikelompokkan ke dalam kategori putus sekolah (DO), peserta didik tidak aktif yang terindikasi putus sekolah, serta Lulus Tidak Melanjutkan (LTM), peserta didik dengan rekam didik tidak aktif dan terindikasi tidak melanjutkan dengan riwayat pendidikan terakhir di kelas 6 atau 9.

Kemudian berdasarkan data Susenas BPS Tahun 2025, jumlah Anak Tidak Sekolah pada kelompok usia 7-18 tahun sebanyak sebanyak 2.922.607 anak, terbesar pada kelompok usia 16-18 tahun yang mencapai 2.009.918 anak. Alasan anak tidak sekolah Susenas 2025 juga menyebutkan, beberapa alasan anak tidak sekolah antara lain, merasa pendidikan sudah cukup (21,78 persen), tidak ada biaya (20,35 persen), dan sudah bekerja (16,75 persen). Beberapa alasan lain yakni menikah, disabilitas, jarak rumah ke sekolah yang jauh, mengurus rumah tangga, dan mengalami perundungan. Dan masalah lain yang dihadapinya https://puslapdik.kemendikdasmen.go.id/kemendikdasmen-perkuat-data-anak-tidak-sekolah/.

Dalam buku naskah Akademik Pembalajaran Mendalam Kemendikdasmen menyebutkan bahwa Indonesia relatif telah berhasil meningkatkan akses pendidikan dasar dan menengah yang ditunjukkan dengan angka partisipasi kasar (APK) untuk jenjang pendidikan dasar (wajib belajar) yaitu SD 104,97% dan SMP yang mencapai 90,67% (BPS, 2024). Namun demikian, pendidikan di Indonesia saat ini masih harus menyelesaikan beberapa persoalan yang terkait dengan kualitas, antara lain masih rendahnya skor literasi membaca dan numerasi (literasi matematika) peserta didik Indonesia sebagaimana tercermin dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA). Data PISA menunjukkan bahwa literasi dan numerasi peserta didik Indonesia masih berada di bawah rata-rata peserta didik internasional (Matematika: 472, Sains: 485, Membaca: 476). Indonesia berada di peringkat 68 dari 81 negara dengan skor; matematika (379), sains (398), dan membaca (371) (OECD, 2023).

Pendidikan bermutu untuk semua masih banyak rintangan dan hambatan yang cukup signifikan dialami oleh Masyarakat Indonesia. Maka proses penyadaran diri itu sangat penting bagi seluruh Masyarakat Indonesia untuk bagaimana mendapatkan akses Pendidikan dan memiliki pemahaman belajar sepanjang hayat. Karena sebuah keharusan yang menjadi tantangan Masyarakat global dimana kesadaran untuk mendapatkan pengetahuan itu sangat penting dalam rangka peningkatan sumber daya manusia.

Pendidikan untuk semua selalu menjadi bagian integral dari agenda pembangunan berkelanjutan. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang dikembangkan oleh Kelompok Kerja Terbuka Majelis Umum PBB tentang SDGs (OWG) memasukkan ESD dalam target yang diusulkan untuk agenda pasca-2015. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan keempat yang diusulkan berbunyi " Memastikan pendidikan berkualitas yang inklusif dan adil serta mempromosikan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua ". https://sdgs.un.org/topics/education.

Kemudian apabila ditilik dari Pasal 3 Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Melihat perkembangan zaman yang terus bergerak cepat dengan segala macam dinamika yang ditampilkannya. Peran Pendidikan sangat Pendidikan dalam memberikan stimulus kepada anak bangsa untuk terus belajar dalam menanamkan ide kreatifitas serta landasam yang sangat penting dalam penanaman pembelajaran sepanjang hayat. Pendidikan sepanjang hayat merupakan konsep pendidikan yang menerangkan tentang keseluruhan peristiwa kegiatan belajar mengajar dalam proses pembinaan kepribadian yang berlangsung secara kontinyu dalam keseluruhan hidup manusia.

PENDIDIKAN BERMUTU UNTUK SEMUA

Tujuan Kurikulum memiliki tujuan untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi serta menumbuhkembangkan cipta, rasa, dan karsa Peserta Didik sebagai pelajar sepanjang hayat yang berkarakter Pancasila melalui pembelajaran mendalam.

Pada tahun 2025, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia merumuskan kerangka kerja pembelajaran mendalam yang terdiri atas empat lapisan utama:

1. Dimensi Profil Lulusan Dimensi profil lulusan merupakan kompetensi utuh yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik setelah menyelesaikan proses pembelajaran dan pendidikan. Profil lulusan terdiri atas delapan dimensi, yaitu (1) keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) kewargaan, (3) penalaran kritis, (4) kreativitas, (5) kolaborasi, (6) kemandirian, (7) kesehatan, dan (8) komunikasi.

2. Prinsip Pembelajaran Prinsip pembelajaran merupakan landasan penting yang memastikan proses belajar berjalan efektif. Tiga prinsip utama yang mendukung pembelajaran mendalam adalah berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Ketiga prinsip ini dalam implementasinya tidak harus berurutan, tetapi saling melengkapi dalam membangun pembelajaran mendalam bagi murid. Ketiga prinsip pembelajaran tersebut dilaksanakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olahraga.

3. Pengalaman Belajar Pengalaman belajar merupakan proses yang dialami individu dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, atau nilai. Pengalaman belajar dalam konteks pembelajaran mendalam berfokus pada proses yang bertahap untuk mencapai pemahaman yang mendalam, mencakup pengalaman belajar memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.

4. Kerangka Pembelajaran Kerangka pembelajaran merupakan panduan sistematis untuk menciptakan ekosistem Pendidikan yang mendukung pembelajaran. Fokus utama kerangka ini adalah membentuk pengalaman belajar yang holistik bagi murid. Keempat elemen ini yaitu praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi digital.

Dalam buku naskah akdemik pembalajaran mendalam kemendikasmen menyebutkan tokoh Pendidikan yang bernama John Dewey, bahwa pendidikan bukanlah sekadar persiapan untuk hidup di masa yang akan datang, namun juga merupakan kehidupan itu sendiri. Hal ini berarti pendidikan tidak hanya menjadi sarana transfer ilmu, tetapi juga alat untuk membangun masyarakat ideal yang mencerminkan nilai-nilai universal seperti kebebasan, keadilan, dan kemanusiaan, dengan mengintegrasikannya ke dalam pengalaman hidup peserta didik.

Mewujudkan pendidikan bermutu salah satu pilar penting dalam pembangunan bangsa. Karena tertuang dalam tujuan negara dalam pembukaan UUD 1945 yakni Mencerdaskan kehidupan Bangsa”. Apalagi Dalam era globalisasi dan persaingan yang semakin ketat, pendidikan bermutu tidak hanya menjadi kebutuhan, tetapi juga menjadi keharusan untuk menciptakan generasi yang berdaya saing serta generasi yang memiliki inovasi kreatifitas.

Salah satu yang memainkan peran penting dalam menuangkan gagasan Pendidikan bermutu untuk adalah sekolah. Sekolah merupakan Lembaga resmi sebagai tranfer pengetahuan dan penanaman budi pekerti akhlak kepada peserta didik. Di sekolah juga merupakan proses pelembagaan yang terstruktur dalam proses pembelajaran kegiatan belajar mengajar. Pandangan KH. M. Hasyim Asy’ari, lingkungan pendidikan yang baik harus mencerminkan penghormatan terhadap guru, teman sejawat, dan sumber ilmu. Guru dihormati sebagai pembimbing penuh kasih sayang, teman sejawat dihargai dalam semangat kolaborasi, dan sumber ilmu dirawat dengan sikap rendah hati. Melalui sistem among, yang mencakup nilai asah, asih, dan asuh, (kemendikdasmen;2025)

Dalam kegiatan belajar mengajar menurut Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan harus berorientasi pada kemandirian peserta didik, didukung oleh sistem among yang mencakup nilai asah, asih, asuh. Kemudian selanjutnya Syaikh Az-Zarnuji (2009) dalam Ta’līm al-Muta’allim menekankan pentingnya adab dan metode belajar yang efektif dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat. Salah satu konsep utama yang relevan dengan PM adalah urgensi kesungguhan dan niat yang ikhlas dalam belajar sehingga peserta didik mendapat kemanfaatannya. Pembelajaran juga terkait erat dengan adab memuliakan, yang mencakup penghormatan terhadap ilmu dan guru. (kemendikdasmen;2025)

Indikator Pendidikan Bermutu

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, mutu adalah ukuran baik atau buruk suatu benda, kadar, taraf, atau derajat (kepandaian, kecerdasan, dan sebagainya). Dalam pengertian lain, mutu juga sering diartikan sebagai kualitas, nilai, atau tingkat keunggulan.

Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 adalah peraturan tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Peraturan ini mewajibkan setiap sekolah/madrasah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi/pengawasan, kepemimpinan sekolah, dan sistem informasi manajemen untuk meningkatkan kualitas Pendidikan

Menurut Jarome, ketika membicarakan masalah perbaikan mutu pendidikan, seringkali yang dibicarakan adalah perbaikan peringkat kenaikan kelas atau nilai rapor. Para guru hanya terfokus tugas pokoknya pada aspek pendidikan artinya membantu siswa belajar dan mendapatkan pengetahuan. Ia memaknai mutu dengan dua tipologi, yakni mutu dengan m-kecil; dimisalkan seperti seorang guru yang telah lama menerapkan mutu namun hanya bersifat instrumental dalam mengembangkan mutu dan memberikan pembinaan terhadap guru-guru lain, dimana banyak diantara teman-teman mereka enggan menerima tantangan mutu.Sebaliknya, Mutu dengan M-besar; membuat setiap orang bertanggung jawab pada mutu. Orang dilengkapi dengan alat yang dibutuhkan untuk mengubah pola cara kerjanya untuk memperbaiki mutu keluaran yang dihasilkan dari proses pembelajaran. Setiap orang bertanggung jawab mengurangi pemborosan dan melakukan efisiensi. Sebagai hasil upaya tersebut, mereka menciptakan pembelajaran dan lingkungan kerja (mengajar) yang lebih baik sesuai dengan tujuan Pendidikan. Semantik : Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Budaya

Vol. 2, No.2 Mei 2024 DOI : https://doi.org/10.61132/semantik.v2i2.610

Untuk memahami apa itu pendidikan bermutu, kita perlu mengetahui indikator-indikator yang menentukannya. Indikator pendidikan bermutu meliputi beberapa aspek penting seperti:

1. Kurikulum yang Relevan dan Dinamis: Kurikulum harus dapat menjawab tantangan zaman dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. Kurikulum yang baik juga harus dinamis dan mampu beradaptasi dengan perubahan. Kurikulum yang dapat dejawantahkan oleh pelaksana Pendidikan di Indonesia. Karene di dalam kurikulum sumber suatu perencanaan dalam mengembangkan pembinaan keilmuan dan karakter peserta didik.

2. Visi & Kepemimpinan Kuat: Memiliki arah tujuan yang jelas, relevan, serta manajemen yang efektif untuk perbaikan layanan terus menerus. Kepala sekolah menjadi dirigen dari suatu orkestra symphoni dalam suatu sekolah. Seorang kepala sekolah harus mampu memberikan pesan kepemimpinan yang memberikan kenyamanan dan keteladanan.

3. Kualitas Guru: Guru yang berkualitas adalah kunci dari pendidikan bermutu. Mereka harus memiliki kompetensi yang mumpuni, berkomitmen, dan mampu mentransfer ilmu dengan efektif. Pendidik Kompeten & Peduli: Guru profesional, kreatif, gemar belajar, dan peduli pada perkembangan karakter serta mental siswa.

4. Metode Pembelajaran yang Inovatif: Metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif dapat meningkatkan minat belajar siswa dan membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif. Pembelajaran Berpusat pada Murid yang mana proses belajar mengajar menyenangkan, kreatif, dan memfasilitasi kebutuhan serta potensi unik setiap siswa (bakat, minat). Guru pun harus dapat memahami metoda pembelajaran sebagaimana empat pilar pendidikan menurut UNESCO adalah konsep holistik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, yang terdiri dari: Learning to know (belajar mengetahui), Learning to do (belajar berbuat), Learning to be (belajar menjadi diri sendiri), dan Learning to live together (belajar hidup bersama).

5. Fasilitas Pendidikan: Fasilitas yang memadai seperti ruang kelas yang nyaman, laboratorium, dan perpustakaan yang lengkap turut mendukung proses belajar mengajar yang optimal.

6. Evaluasi dan Penilaian yang Tepat: Evaluasi yang baik akan memberikan gambaran yang jelas mengenai perkembangan siswa, sehingga dapat dilakukan perbaikan dan penyesuaian jika diperlukan.

7. Iklim Aman, Nyaman, dan Inklusif: Sekolah bebas dari bullying, bersih, nyaman, serta menjunjung tinggi perbedaan (inklusif).

8. Lulusan Berkualitas: Tidak hanya unggul dalam akademik, tapi juga memiliki karakter, keterampilan sosial, dan kompetensi yang relevan dengan dunia kerja.

9. Budaya Mutu: Komitmen dari seluruh warga sekolah untuk melakukan yang terbaik sejak awal guna meminimalisir kesalahan. Seluruh keluarga besar sekolah harus bisa sinergi dan kolektig kologial dalam membangun kepercayaan team sekolah yang handal.

Rasulullah Muhammad SAW berpesan agar kita tidak duduk kepada setiap “orang berilmu”, kecuali kepada mereka yang membawa kita dari lima kegelapan menuju lima cahaya kehidupan.

وعنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «لَا تَجْلِسُوا عِندَ كُلِّ عَالِمٍ إِلَّا الَّذِي يَدْعُوكُمْ مِنَ الْخَمْسِ إِلَى الْخَمْسِ:مِنَ الشَّكِّ إِلَى الْيَقِينِ،وَمِنَ التَّكَبُّرِ إِلَى التَّوَاضُعِ، وَمِنَ الْعَدَاوَةِ إِلَى النَّصِيحَةِ،وَمِنَ الرِّيَاءِ إِلَى الْإِخْلَاصِ،وَمِنَ الرَّغْبَةِ إِلَى الزُّهْدِ».

“Janganlah kalian duduk (berguru) kepada setiap orang yang mengaku berilmu, kecuali kepada orang yang mengajak kalian dari lima hal menuju lima hal:dari keraguan menuju keyakinan,dari kesombongan menuju kerendahan hati,dari permusuhan menuju ketulusan nasihat,dari riya’ menuju keikhlasan,dan dari ketamakan menuju sifat zuhud.”

Dunia selalu menggoda. Dari sisi harta, jabatan/tahta, maupun wanita perhatian manusia itu semua bisa memalingkan hati dari Allah. Guru yang memiliki hati dapat mengarahkan muridnya untuk mengambil dunia sekadar kebutuhan, bukan tujuan. Ia membimbing agar hati bebas dari belitan keinginan yang tak ada habisnya.

Pesan Rasulullah muhammad tidak hanya memberi peringatan, tetapi juga memberikan ukuran yang jelas: guru yang layak diikuti oleh muridnya adalah guru yang menuntun hati, bukan sekadar mengajarkan kata-kata. Dialah yang menyalakan lilin ketenangan, bukan api perpecahan. Dialah yang menambah iman, bukan kebingungan. Dialah yang mengajak kita lebih dekat kepada Allah, bukan lebih dekat kepada dunia. Tidak semua orang berilmu dapat menuntun, tetapi yang menuntun pasti berilmu. Dan yang paling berbahagia adalah mereka yang menemukan guru yang menuntunnya menuju cahaya.