Konten dari Pengguna

Pesan Pancasila Untuk Bangkit dan Hijrah Membina Peradaban

Oleh : Indar Cahyanto

Guru SMAN 25 Jakarta dan Ketua Majlis Pustaka dan Hubungan Kelembagaan PC Muhammadiyah Ciracas serta Sekretaris APKS PGRI DKI Jakarta

Dari Chat CGP
zoom-in-whitePerbesar
Dari Chat CGP

Peringatan Hari lahirnya Pancasila 1 Juni 2026 ditengah kehidupan kebangsaan yang sedang menghadapi kondisi geopolitik dunia yang sedang bergejolak.Tekanan ekonomi global yang masuk ke dalam ruang kehidupan Masyarakat memiliki dampak terhadap pengaruh jual beli. Maka perlunya adanya refleksi Pancasila sebagai sebuah ideologi kebangsaan untuk bangkit dan hijrah dalam membina peradaban kebangsaan Indonesia.

Ada pesan yang sangat penting agar kita tak salah memahami arti dari nilai-nilai Pancasila yang kita jalankan. Kemudian kita pun jangan sampai Pancasila itu hanya dihafal di dalam alam pikiran tanpa ada suatu usaha untuk mengejawantahkan nilai-nilai dalam kehidupan Masyarakat. Atau pun jangan sampai ada anggapan atau pandangan sempit tentang nilai Pancasila yang kemudian dibenturkan di Tengah kehidupan Masyarakat.

Tantangan dan hambatan ketika sejak Pancasila itu berdiri dan kemudian dijadikan sebagai peringatan pada 1 Juni 2016 oleh pemerintah. Wajah-wajah kehidupan kebangsaan kita belumlah banyak berubah masih adanya korupsi, Kasus intoleransi perundungan serta bentuk diskriminasi yang dilakukan oleh sekolompok Masyarakat. Sehingga perlu juga direfleksi jika Pancasila benar-benar menjadi pedoman hidup bangsa, seharusnya korupsi, intoleransi, dan berbagai bentuk ketidakadilan tidak muncul di ruang publik. Karena kita melihat ada kesenjangan yang nyata antara nilai yang kita junjung tinggi dengan praktik yang kita jalankan sehari-hari. Putus hubungan antara idealitas dan realitas.

Pada saat ini bangsa Indonesia menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan era kemerdekaan. Jika masa lalu musuh bangsa adalah penjajahan fisik berupa kolonialisme dan imperialisme asing, kini ancaman itu hadir dalam bentuk perpecahan sosial, radikalisme, narkoba, korupsi, kekerasan digital, hingga krisis moral generasi muda. Maka dalam peringatan Hari Lahir Pancasila mengajak kita seluruh elemen bangsa kembali pada semangat para pendiri bangsa yang mampu meletakkan kepentingan Indonesia di atas kepentingan kelompok. Semangat inilah yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda pada saat ini.

Upaya yang paling penting bagi kita Masyarakat Indonesia untuk kembali merefleksi kehadiran Pancasila sebagai sebuah ideologi negara ke dalam ruang privat dan sosial yang kita lakukan. Mari kita mencoba apakah Pancasila sudah benar-benar nilai-nilai sila yang ada sudah kita jalankan?. Apakah nilai-nilai itu telah kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari?. Serta nilai-nilai Pancasila sudah benar-benar hidup dalam jiwa dan benak Masyarakat Indonesia.

Abd Rohim Ghazali melihat Pancasila ditengah krisis keteladanan beliau menyatakan bahwa persoalan terbesar Pancasila hari ini bukanlah lantaran kurangnya pengakuan, melainkan karena krisis keteladanan. Ada beberapa catatan yang diutarakan hal ini terlihat dari pelaksanaan sila dari Pancasila

Pertama. Terkait Sila pertama mengajarkan ketuhanan yang melahirkan kejujuran dan integritas. Namun masyarakat masih disuguhi berbagai kasus korupsi yang melibatkan orang-orang yang rajin berbicara tentang moralitas.

Kedua, Sila kedua menegaskan pentingnya kemanusiaan yang adil dan beradab. Namun ujaran kebencian, perundungan, dan diskriminasi masih mudah ditemukan di dunia nyata yang sebagian diekspose di dunia maya.

Ketiga Sila ketiga berbicara tentang persatuan Indonesia, tetapi polarisasi sosial dan politik sering kali membuat sesama anak bangsa saling curiga.

Keempat Sila keempat mengajarkan musyawarah dan kebijaksanaan, sementara ruang publik kerap dipenuhi pertengkaran dan saling hujat. Kritik dilontarkan alih alih membangun malah untuk merendahkan atau bahkan menistakan lawan politik.

Kelima sila kelima tentang keadilan sosial masih menjadi pekerjaan rumah besar di tengah kesenjangan yang belum sepenuhnya teratasi. https://suaramuhammadiyah.id/read/pancasila-di-tengah-krisis-keteladanan

Ditengah diserupsi tekanan geopolitik dan sosial yang dilakukan oleh pola tingkah laku anak bangsa pada saat ini. Menuntun untuk merefeleksikan peran Pancasila agar nilai-nilainya bisa hidup dan bangkit ditengah kehidupan Masyarakat secara massif. Dibutuhkan kejerniahan dari pola pikir masyarakat untuk saling welas asih dalam merajut kebersamaan. Serta dibutuhkan peran keteladanan dari seluruh tokoh bangsa, guru bangsa serta orangtua untuk memberikan ruang pembelajaran bagi generasi muda.

Dibutuhkan contoh yang kecil namun bermanfaat besar dampaknya bagi generasi muda dalam memahami teks nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya. Contoh keteladanan dari orangtua dan guru secara langsung dikelas dan dirumah menjadi tolak ukur pembinaan itu bisa tercapai. Artinya ketika kita mau belajar dari Nabi Ibrahim ketika ada perintah menyembelih anaknya Ismail. Nabi Ibrahim memberikan contoh dan ruang dialog kepada anaknya dalam memutuskan perkara yang datang dari Allah SWT.

Ruang kelas dan rumah menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak generasi penerus bangsa mereka diberikan ruang untuk merefleksikan gagasannya tanpa ada paksaan dan rasa takut. Nilai-nilai keteladan yang hilang dan memudar guru dan orangtua dapat merangkai kembali menjadi suatu giat yang produktif. Ruang perbedaan dikelas itu dapat dirajut dengan solidaritas kelompok yang beragam manusia sebagai makhluk yang hidup saling berdampingan dan membutuhkan satu sama lain. Proses pembelajaran yang didalamnya melibatkan seluruh generasi anak bangsa dalam menciptakan ruang diskusi maka akan terjadi harmoni.

Emile Durkheim mengatakan kemunculan solidaritas sosial itu berawal dari individu sebagai makhluk hidup dan sosial itulah tarjadilah bentuk komunal, lalu hidup membentuk kelompok, dan berinteraksi sesamanya dilingkungannya. Pembentukan kelompok tidak terjadi secara kebetulan, akan tetapi ada faktor yang menyebabkan adanya upaya untuk menyatukan gagasan menjadi sama, dari sinilah terjadi kontrak sosial atau perjanjian yang dilakukan oleh masyarakat. Perjanjian tersebut tentu saja melahirkan kelompok atas dasar kepentingan, persamaan, nasib yang sama, dan keberlangsungan hidup dan berkembang,

Kelompok masy arakat yang lahir dalam perjanjian sosial, menimbulkan efek kebersamaan yang tinggi. Ibnu Khaldun berpendapat kelompok masyarakat lahir akibat faktor keturunan, budaya yang sama, rasa cinta akan golongan, persamaan nasib. Dalam perjalanannya, kelompok tersebut bersatu dan menimbulkan rasa persaudaraan yang tinggi, sehingga terbentuklah kekuatan dalam kelompok tersebut. Ibnu Khaldun dalam mukkaddimah menyebutnya dengan ashabiyah.

Pancasila bukan sekadar warisan masa lalu bangsa ini, melainkan proyek masa depan yang belum selesai. Momentum untuk "Bangkit dan Hijrah" adalah dengan menjadikan Pancasila sebagai jiwa dari setiap gerak pembangunan, kita tidak hanya sedang mempertahankan sebuah negara, melainkan sedang melahirkan kembali sebuah peradaban besar yang disegani oleh dunia.. Artinya kita kembali ke terbentuknya Tujuan negara republic Indonesia serta UUD 1945

Untuk membina peradaban baru berbasis Pancasila, ada tiga pilar gerakan yang harus kita lakukan:

1. Hijrah Literasi & Digital: Membersihkan ruang digital kita dari hoaks, ujaran kebencian, dan adu domba. Menggantinya dengan konten yang mencerahkan, inovatif, dan edukatif.

2. Bangkitkan Etos Kerja (Meritokrasi): Menghargai proses, kerja keras, dan keahlian (skill). Kita harus hijrah dari mentalitas "potong kompas" atau nepotisme menuju budaya prestasi.

3. Kemandirian Ekologis: Membina peradaban yang selaras dengan alam. Pancasila mengajarkan kita bersyukur atas tanah air, maka hijrah ekologis berarti menjaga bumi dari kerusakan iklim dan eksploitasi keserakahan.

Buya Anwar Abbas menulis di suara Muhammadiyah beliau mengatakan ada peribahasa orang Minangkabau dan Melayu yang perlu kita camkan dan terapkan dengan baik. Katanya, bila sesat diujung jalan maka surut atau kembalilah ke pangkalnya. Artinya bila kita telah terlanjur melakukan kesalahan atau melangkah terlalu jauh ke arah yang salah, maka langkah terbaik yang harus kita lakukan adalah kembali ke awal atau ke sila pertama dari falsafah bangsa kita yaitu sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Serta menjadikan sila tersebut sebagai dasar yang akan memimpin dan membimbing kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di negeri yang sama-sama kita cintai ini.