Konten dari Pengguna

Indonesia di Tengah Rivalitas AS-Tiongkok: Benarkah Kita Punya Posisi Tawar?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ria Ramahdani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi posisi Indonesia di tengah rivalitas AS-Tiongkok (from:ChatGPT)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi posisi Indonesia di tengah rivalitas AS-Tiongkok (from:ChatGPT)

Persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok semakin terasa di kawasan Asia. Persaingan ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga teknologi, keamanan, dan pengaruh politik. Hal ini ikut berdampak pada Indonesia.

Selama ini, Indonesia dikenal memiliki hubungan baik dengan Amerika Serikat maupun Tiongkok. Indonesia bekerja sama dengan Tiongkok dalam berbagai bidang ekonomi dan perdagangan, sementara hubungan dengan Amerika juga berkembang dalam bidang ekonomi, pendidikan, hingga keamanan.

Karena itu, Indonesia sering dianggap berhasil menjaga keseimbangan di antara kedua negara besar tersebut. Tapi, apakah menjaga hubungan dengan keduanya sudah cukup menunjukkan bahwa Indonesia punya posisi kuat?

Menurut saya, belum tentu.

Tidak Memilih Bukan Berarti Selalu Kuat

Indonesia memiliki prinsip politik luar negeri bebas aktif. Sederhananya, Indonesia tidak ingin berpihak pada blok tertentu dan tetap menentukan sikap berdasarkan kepentingan nasional.

Prinsip ini penting, terutama ketika persaingan antara AS dan Tiongkok semakin kuat. Namun, ada satu hal yang perlu dipikirkan. Bebas aktif bukan hanya soal tidak memilih pihak. Indonesia juga harus punya kemampuan untuk menentukan pilihannya sendiri.

Misalnya, Indonesia bisa bekerja sama dengan Tiongkok dalam bidang Ekonomi dan pada saat yang sama membangun kerja sama dengan Amerika Serikat. Ini tentu memberikan banyak peluang bagi Indonesia.

Tetapi, jika Indonesia terlalu bergantung pada salah satu pihak, ruang geraknya bisa ikut terbatas. Jadi, memiliki hubungan dengan dua negara besar tidak otomatis membuat posisi Indonesia kuat.

Indonesia Jangan Hanya Jadi Penonton

Persaingan AS dan Tiongkok juga ikut memengaruhi kondisi di Asia Tenggara. Kedua negara sama-sama berusaha memperkuat pengaruhnya di kawasan.

Indonesia tentu memiliki kepentingan sendiri. Kita membutuhkan hubungan ekonomi yang baik, keamanan kawasan yang stabil, serta kerja sama yang bisa membantu pembangunan nasional.

Karena itu, Indonesia seharusnya tidak hanya bertanya:

"Apa yang bisa kita dapatkan dari AS atau Tiongkok?"

Tetapi juga:

"Apa yang sebenarnya kita butuhkan sebagai Indonesia?"

Pertanyaan ini penting supaya kerja sama dengan negara besar tidak hanya memberi keuntungan sekarang, tetapi juga membantu Indonesia menjadi lebih kuat ke depannya.

Dengan begitu, Indonesia tidak hanya menjadi tempat masuknya investasi, tetapi juga bisa mendapatkan kemampuan dan manfaat yang lebih besar dari kerja sama tersebut.

ASEAN Juga Penting

Indonesia tidak harus menghadapi persaingan AS dan Tiongkok sendirian. ASEAN bisa menjadi ruang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dan menjaga kepentingan kawasan.

Namun, ASEAN tidak cukup hanya menjadi tempat negara-negara bertemu dan berdiskusi. Indonesia perlu mendorong kerja sama yang lebih kuat agar Asia Tenggara tidak hanya menjadi tempat persaingan negara besar.

Menurut saya, Indonesia tidak perlu memilih antara AS dan Tiongkok. Yang lebih penting adalah memastikan Indonesia tetap punya ruang untuk menentukan kepentingannya sendiri.

Kerja sama dengan kedua negara harus menjadi peluang, bukan ketergantungan. Bebas aktif bukan berarti sekadar berdiri di tengah, tetapi mampu menentukan arah sendiri.