Konten dari Pengguna

Kelas Menengah Terjepit dari Segala Arah

Indrawan Susanto

Indrawan Susanto

Pegawai Negeri Sipil

·waktu baca 5 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Indrawan Susanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambaran para pekerja kelas menengah. Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambaran para pekerja kelas menengah. Ilustrasi AI

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah "kelas menengah" semakin sering menjadi perbincangan. Kelompok yang selama ini dipandang sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Mereka adalah para pekerja profesional, aparatur sipil negara, pegawai swasta, pelaku usaha kecil dan menengah, serta jutaan keluarga yang hidup dari penghasilan tetap dan berupaya meningkatkan kualitas hidup melalui pendidikan, kepemilikan rumah, dan investasi masa depan.

Namun di balik citra tersebut, realitas yang dihadapi kelas menengah saat ini tidaklah sederhana. Mereka berada dalam posisi yang semakin sulit akibat tekanan biaya hidup yang terus meningkat, sementara pertumbuhan pendapatan berjalan jauh lebih lambat. Terbaru, kenaikan harga BBM non-subsidi dalam beberapa hari terakhir, menjadi salah satu simbol dari tekanan yang sesungguhnya telah berlangsung cukup lama.

Efek Domino Kenaikan Biaya Hidup

Bagi sebagian masyarakat, kenaikan harga BBM mungkin terlihat sebagai penyesuaian yang wajar mengikuti dinamika pasar energi global. Akan tetapi, bagi rumah tangga kelas menengah, dampaknya tidak berhenti pada biaya pengisian bahan bakar kendaraan. Kenaikan harga energi hampir selalu memicu efek berantai pada berbagai sektor ekonomi. Biaya transportasi meningkat, distribusi barang menjadi lebih mahal, dan puncaknya adalah harga berbagai kebutuhan sehari-hari ikut terkerek naik.

Kondisi tersebut terjadi ketika masyarakat juga harus menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, biaya kesehatan, biaya transportasi, serta berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya. Pada saat yang sama, kenaikan gaji yang diterima sebagian besar pekerja tidak mampu mengimbangi laju kenaikan biaya hidup tersebut.

Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Masalah utama yang dihadapi kelas menengah bukan semata-mata kenaikan harga satu atau dua komoditas, melainkan semakin lebarnya jarak antara pertumbuhan pendapatan dan pertumbuhan pengeluaran. Banyak keluarga merasa penghasilannya secara nominal memang meningkat dibanding beberapa tahun lalu, tetapi daya belinya justru menurun.

Fenomena ini sering kali tidak terlihat dalam statistik makroekonomi. Pertumbuhan ekonomi mungkin tetap berada di kisaran lima persen. Tingkat inflasi nasional juga mungkin masih terkendali dalam rentang target pemerintah. Namun di tingkat rumah tangga, banyak keluarga merasakan tekanan yang jauh lebih besar daripada yang tercermin dalam angka-angka agregat tersebut.

Ketika Daya Beli Menurun

Tidak sedikit keluarga kelas menengah yang kini harus melakukan berbagai penyesuaian. Rencana membeli rumah ditunda. Keinginan mengganti kendaraan dibatalkan. Liburan keluarga dikurangi. Pengeluaran untuk hiburan dipangkas. Bahkan sebagian mulai mengurangi porsi tabungan dan investasi untuk memenuhi kebutuhan rutin yang terus meningkat.

Padahal, kemampuan menabung dan berinvestasi merupakan salah satu karakteristik utama yang membedakan kelas menengah dari kelompok rentan. Ketika ruang untuk menabung semakin menyempit, maka sesungguhnya daya tahan ekonomi keluarga juga ikut melemah. Sedikit saja terjadi gangguan seperti kehilangan pekerjaan, sakit, atau kebutuhan mendesak lainnya, kondisi keuangan rumah tangga dapat dengan cepat terguncang.

Ironisnya, kelas menengah sering kali berada dalam posisi yang serba tanggung. Mereka tidak termasuk kelompok masyarakat miskin yang menjadi sasaran utama berbagai program bantuan sosial. Namun mereka juga belum memiliki tingkat kekayaan yang cukup untuk menghadapi tekanan ekonomi tanpa dampak berarti.

Kelompok ini tetap membayar pajak, membayar iuran kesehatan, membayar cicilan rumah, membayar biaya pendidikan anak, dan menanggung berbagai kewajiban ekonomi lainnya secara mandiri. Ketika harga-harga naik, mereka harus menyerap sebagian besar dampaknya tanpa banyak perlindungan langsung.

Ancaman bagi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Situasi tersebut menjelaskan mengapa dalam beberapa tahun terakhir muncul kekhawatiran mengenai fenomena middle class squeeze atau terjepitnya kelas menengah. Fenomena ini menggambarkan kondisi ketika kelas menengah menghadapi tekanan yang semakin besar sehingga kemampuan mereka untuk mempertahankan standar hidup terus menurun.

Laporan berbagai lembaga internasional bahkan menunjukkan bahwa sebagian kelompok yang sebelumnya masuk kategori kelas menengah mulai bergeser menjadi kelompok rentan akibat tekanan ekonomi pascapandemi. Jika tren ini berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu dan keluarga, tetapi juga oleh perekonomian nasional secara keseluruhan.

Hal ini karena kelas menengah merupakan motor utama konsumsi domestik. Mereka membeli rumah, kendaraan, peralatan rumah tangga, produk teknologi, jasa pendidikan, hingga layanan wisata. Ketika kelompok ini mengurangi belanja karena tertekan biaya hidup, maka aktivitas ekonomi di berbagai sektor juga ikut melambat.

Dalam konteks pembangunan jangka panjang, keberadaan kelas menengah yang kuat memiliki arti yang jauh lebih besar dibanding sekadar angka konsumsi. Di banyak negara, kelas menengah merupakan fondasi stabilitas sosial, sumber inovasi, dan penggerak produktivitas ekonomi. Mereka berinvestasi pada pendidikan anak, mengembangkan usaha, menciptakan lapangan kerja, serta menjadi jembatan penting menuju masyarakat yang lebih sejahtera.

Menjaga Harapan dan Ketahanan Kelas Menengah

Karena itu, menjaga daya tahan kelas menengah seharusnya menjadi bagian penting dari agenda pembangunan. Pemerintah tentu perlu terus melanjutkan upaya pengentasan kemiskinan dan perlindungan kelompok rentan. Namun perhatian terhadap kelas menengah juga tidak kalah penting.

Kebijakan pengendalian inflasi perlu terus diperkuat agar kenaikan harga tidak menggerus daya beli masyarakat secara berlebihan. Di sisi lain, penciptaan lapangan kerja yang berkualitas harus menjadi prioritas agar produktivitas dan pendapatan masyarakat dapat tumbuh lebih cepat. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan sulit dirasakan manfaatnya jika tidak diikuti peningkatan kesejahteraan kelompok pekerja yang menjadi penopangnya.

Selain itu, akses terhadap perumahan, pendidikan, kesehatan, dan transportasi yang terjangkau perlu terus diperluas. Komponen-komponen inilah yang selama ini menyerap porsi terbesar pengeluaran rumah tangga kelas menengah. Ketika biaya pada sektor-sektor tersebut terus meningkat tanpa diimbangi pertumbuhan pendapatan, tekanan ekonomi akan semakin besar.

Persoalan kelas menengah bukan sekadar persoalan kelompok tertentu. Nasib mereka mencerminkan kesehatan perekonomian secara keseluruhan. Ketika kelompok yang bekerja keras, membayar pajak, dan menjadi motor konsumsi mulai kesulitan mempertahankan kualitas hidupnya, maka sinyal peringatan perlu dibaca dengan serius.

Di tengah situasi seperti ini, tantangan terbesar bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan bahwa hasil pertumbuhan tersebut benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang selama ini menjadi penopangnya. Sebab tanpa kelas menengah yang kuat dan optimistis terhadap masa depan, fondasi menuju Indonesia yang lebih maju akan menjadi jauh lebih rapuh.