Cahaya, Kekuasaan, dan Cara Kita Membaca Film
Tulisan dari Indri Ariefiandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menelusuri makna di balik gambar dalam Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini
Tidak semua film menyampaikan pesannya secara langsung. Ada yang mengandalkan dialog, ada yang membangun cerita melalui konflik antartokoh, dan ada pula yang membiarkan gambar, suara, serta simbol berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Empat Musim Pertiwi, film terbaru Kamila Andini yang dibintangi Putri Marino, termasuk karya yang mengajak penontonnya melakukan hal terakhir: memperhatikan, menghubungkan petunjuk, dan menyusun sendiri makna dari apa yang mereka lihat.
Film berdurasi 137 menit ini mengikuti perjalanan Pertiwi, seorang perempuan yang kembali ke kampung halamannya di lereng Bromo setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun. Kepulangannya tidak membawa ketenangan. Ia justru berhadapan dengan masyarakat yang masih menyimpan prasangka dan masa lalu yang belum benar-benar selesai. Cerita kemudian bergerak di antara drama psikologis, misteri, horor, dan realisme magis. (ANTARA, 9 Oktober 2026; IDN Times, 8 Oktober 2026).
Sekilas, kisah ini dapat dibaca sebagai cerita tentang trauma, kekerasan terhadap perempuan, dan sulitnya memulai hidup kembali. Pembacaan tersebut tentu relevan. Namun, ada sisi lain yang menarik untuk diperhatikan: bagaimana film ini menggunakan benda dan lingkungan sehari-hari untuk membicarakan sesuatu yang lebih besar daripada persoalan pribadi tokoh utamanya.
Salah satu contohnya adalah listrik.
Ketika terang belum tentu membawa perubahan
Dalam cerita, listrik menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat desa. Sumber energi yang seharusnya memudahkan kehidupan justru berkaitan dengan relasi kuasa, sementara Pertiwi berusaha membangun sumber energi alternatif. Detail ini memberi ruang untuk melihat konflik film dari sudut yang berbeda.
Listrik biasanya kita pahami sebagai tanda kemajuan. Rumah yang terang, peralatan yang berfungsi, dan akses energi yang semakin baik merupakan bagian dari peningkatan kualitas hidup. Namun, film ini mengingatkan bahwa perubahan material tidak selalu diikuti perubahan dalam hubungan antarmanusia.
Sebuah desa bisa menjadi lebih terang, tetapi masyarakatnya belum tentu menjadi lebih adil. Fasilitas dapat berkembang, sementara prasangka dan ketimpangan tetap bertahan.
Dari sini, listrik dapat dibaca sebagai simbol yang berkaitan dengan ketergantungan dan kemandirian. Siapa yang menguasai sumber daya? Siapa yang bergantung pada penguasaan tersebut? Dan apa yang terjadi ketika seseorang mencoba menawarkan alternatif?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat konflik Pertiwi terasa lebih luas. Perjuangannya tidak hanya berkaitan dengan masa lalu yang menyakitkan, tetapi juga dengan kemungkinan membangun kehidupan yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh sistem yang sudah ada.
Tentu, ini merupakan salah satu penafsiran atas pilihan visual dan cerita film, bukan satu-satunya makna yang mungkin. Namun, justru di situlah menariknya membaca sinema. Sebuah benda dapat memiliki fungsi praktis sekaligus membuka percakapan tentang persoalan sosial.
Siapa yang dipercaya ketika masa lalu belum selesai?
Persoalan yang lebih sulit muncul ketika Pertiwi kembali sebagai seseorang yang telah menjalani hukuman. Ia membawa pengalaman yang tidak mudah dipisahkan dari cara masyarakat memandang dirinya. Waktu telah berlalu, tetapi penerimaan tidak datang dengan sendirinya.
Film ini memperlihatkan betapa rumitnya hubungan antara masa lalu seseorang dan kesempatan untuk menjalani kehidupan baru. Apakah hukuman yang telah dijalani cukup untuk membuka jalan bagi pemulihan? Ataukah masyarakat memiliki pengadilan sosialnya sendiri, yang tidak mengenal batas waktu?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika kita memperhatikan siapa yang memperoleh kepercayaan dan siapa yang justru terus dicurigai. Dalam kehidupan sosial, penilaian terhadap seseorang tidak selalu dibentuk oleh fakta semata. Reputasi, kedudukan, hubungan keluarga, dan prasangka dapat memengaruhi cara sebuah kesaksian diterima.
Di sinilah pengalaman Pertiwi dapat mengajak kita memikirkan sesuatu yang lebih luas: seseorang bisa saja telah melewati proses hukum, tetapi belum tentu memperoleh kesempatan yang sama untuk kembali menjadi bagian dari masyarakat.
Namun, film tidak harus diperlakukan sebagai dokumen hukum. Kita tidak dapat mengambil seluruh kesimpulan tentang keadilan hanya dari pengalaman satu tokoh fiksi. Nilai film justru terletak pada kemampuannya membawa persoalan yang rumit ke ruang diskusi, tempat kita dapat menguji asumsi dan mempertanyakan cara kita memperlakukan orang lain.
Kita juga perlu membedakan antara memahami pengalaman seseorang dan mengabaikan tanggung jawab atas tindakannya. Keduanya bukan hal yang sama. Memahami konteks membantu kita melihat persoalan secara lebih utuh, sedangkan penilaian yang adil tetap membutuhkan bukti dan pertimbangan yang cermat.
Ketika perangkat elektronik menjadi bagian dari cerita
Pilihan Kamila Andini untuk menghadirkan perangkat elektronik yang kembali menyala dan memunculkan suara atau gambar dari masa lalu, serta memasukkan misteri UFO ke dalam kehidupan desa, membuat film ini bergerak keluar dari drama sosial yang realistis. Unsur-unsur tersebut menciptakan suasana ganjil yang memengaruhi cara penonton memahami peristiwa.
Bagi sebagian penonton, pendekatan seperti ini mungkin terasa tidak lazim. Mereka yang mengharapkan alur yang lurus dan penjelasan yang segera tersedia bisa merasa harus bekerja lebih keras untuk mengikuti cerita. Sebaliknya, penonton yang menikmati film metaforis mungkin menemukan daya tarik dalam hubungan antara kenyataan, ingatan, dan sesuatu yang tidak mudah dijelaskan.
Perbedaan pengalaman itu tidak dengan sendirinya menentukan apakah film berhasil atau gagal. Pertanyaan yang lebih tepat adalah apakah pilihan tersebut membantu membangun dunia cerita dan memperdalam pengalaman tokoh.
Perangkat elektronik, misalnya, bukan lagi sekadar benda yang digunakan untuk berkomunikasi atau memperoleh informasi. Dalam konteks film ini, ia menjadi bagian dari cara masa lalu kembali memasuki kehidupan sekarang. Sementara itu, kemunculan UFO memperluas wilayah cerita ke ranah yang tidak sepenuhnya tunduk pada logika keseharian.
Kita dapat membaca unsur-unsur tersebut sebagai cara film menghadirkan sesuatu yang belum selesai atau belum terjelaskan. Akan tetapi, kita perlu berhati-hati agar tidak memaksakan satu makna tunggal pada setiap simbol. Tafsir yang baik harus tetap berangkat dari adegan dan hubungan antarelemen dalam film, bukan sekadar dari dugaan tentang apa yang ingin disampaikan pembuatnya.
Di sinilah penonton diajak berpartisipasi. Menonton bukan hanya menerima cerita, melainkan juga mengamati bagaimana cerita itu dibangun.
Tidak semua yang indah otomatis berhasil
Salah satu kekuatan Empat Musim Pertiwi terletak pada penggunaan lanskap Bromo dan sinematografi Batara Goempar untuk membangun atmosfer. Kabut, ruang terbuka, dan suasana pegunungan membuat lingkungan terasa memiliki peran tersendiri dalam pengalaman tokoh.
Namun, keindahan visual tidak otomatis menjadikan setiap bagian film efektif. Sejumlah ulasan menilai bahwa film ini berani mengembangkan bahasa sinematiknya, tetapi juga mencatat ritme yang lambat dan penggunaan metafora yang terkadang terasa terlalu padat. (ANTARA, 9 Oktober 2026; IDN Times, 8 Oktober 2026).
Kedua hal itu layak dibicarakan secara bersamaan.
Ritme yang lambat dapat memberi ruang bagi suasana dan emosi untuk berkembang. Namun, apabila sebuah adegan terlalu lama mempertahankan informasi yang sebenarnya sudah dipahami penonton, ketegangan bisa kehilangan daya. Begitu pula simbolisme: ia dapat memperkaya cerita, tetapi juga berisiko membuat tokoh terasa hanya sebagai lambang suatu gagasan, bukan manusia dengan perkembangan yang meyakinkan.
Menurut saya, di sinilah kritik film perlu mengambil jarak dari dua kecenderungan. Kita tidak perlu menganggap karya yang sulit dipahami pasti lebih mendalam. Sebaliknya, kita juga tidak seharusnya menolak pilihan artistik hanya karena film tidak mengikuti pola penceritaan yang lazim.
Yang perlu dilihat adalah hubungan antara bentuk dan isi. Apakah gambar membantu cerita? Apakah simbol memperdalam karakter? Apakah suasana yang dibangun memiliki fungsi dramatik? Pertanyaan semacam ini menghasilkan penilaian yang lebih berguna daripada sekadar menyebut sebuah film indah, membingungkan, atau berani.
Membaca film, bukan sekadar menghitung adegan
Pembacaan terhadap Empat Musim Pertiwi membawa kita pada persoalan yang penting dalam literasi film: bagaimana memahami sebuah adegan secara utuh.
Ketika film menampilkan kekerasan, misalnya, kita perlu melihat bagaimana kekerasan itu digambarkan, apa fungsinya dalam cerita, bagaimana akibatnya terhadap tokoh, dan bagaimana keseluruhan film menempatkannya. Kekerasan yang ditampilkan untuk memperlihatkan penderitaan tidak otomatis memiliki fungsi yang sama dengan kekerasan yang disajikan sebagai sesuatu yang patut ditiru atau dinikmati tanpa konteks.
Hal serupa berlaku untuk seksualitas, horor, dan tema-tema sensitif lainnya. Kehadiran suatu tema tidak cukup untuk menentukan penilaian atas seluruh film. Cara penggambaran, intensitas, konteks naratif, dan kesesuaiannya bagi kelompok usia penonton perlu dipertimbangkan.
Dalam konteks Indonesia, klasifikasi usia memiliki fungsi penting untuk membantu masyarakat menentukan kesesuaian tontonan. LSF menggunakan kategori Semua Umur (SU), Remaja 13 Tahun (R13), Dewasa 17 Tahun (D17), dan Dewasa 21 Tahun (D21), dengan kriteria yang diatur dalam ketentuan yang berlaku. Penilaian klasifikasi tidak semestinya didasarkan pada satu tema atau satu adegan tanpa mempertimbangkan konteks dan keseluruhan materi film. (Sumber: situs resmi LSF RI, bagian Dasar Hukum dan Penggolongan Usia).
Karena itu, apresiasi artistik dan perlindungan penonton perlu ditempatkan secara proporsional. Sebuah film dapat memiliki nilai artistik yang kuat sekaligus memerlukan klasifikasi usia tertentu. Sebaliknya, tema yang berat tidak dengan sendirinya membuat seluruh film tidak layak ditonton oleh kelompok usia tertentu.
Keduanya merupakan pertimbangan yang berbeda, meskipun dapat saling berkaitan.
Literasi film membantu penonton memahami perbedaan tersebut. Mereka tidak hanya bertanya apakah sebuah adegan boleh ditampilkan, tetapi juga mengapa adegan itu hadir, bagaimana ia disusun, dan apa pengaruhnya dalam keseluruhan cerita. Dengan pemahaman yang lebih baik, diskusi mengenai film dapat berlangsung lebih kritis tanpa harus berubah menjadi penghakiman yang tergesa-gesa.
Menjaga keseimbangan antara karya dan penonton
Empat Musim Pertiwi tidak harus disukai semua orang untuk layak dibicarakan. Pilihan artistiknya dapat mengundang kekaguman sekaligus keberatan. Simbol-simbolnya dapat membuka penafsiran, tetapi juga mungkin terasa terlalu padat bagi sebagian penonton.
Bagi saya, hal terpenting dari pengalaman menonton film ini adalah kesempatan untuk menguji cara kita memahami sebuah karya. Apakah kita cukup sabar memperhatikan detail? Apakah kita mampu membedakan fakta cerita dari penafsiran pribadi? Dan apakah kita bersedia mengakui bahwa sebuah film dapat memiliki kekuatan sekaligus keterbatasan?
Pertanyaan-pertanyaan itu juga penting ketika membicarakan kebijakan perfilman. Perlindungan penonton membutuhkan ketelitian dalam membaca konten, sedangkan penghormatan terhadap karya seni membutuhkan pemahaman atas konteks dan bahasa sinema. Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Kebijakan yang baik bukanlah kebijakan yang mengabaikan kepentingan penonton demi kebebasan artistik, ataupun yang menilai karya hanya berdasarkan ketidaknyamanan terhadap tema tertentu. Yang dibutuhkan adalah pertimbangan yang dapat dijelaskan, penerapan aturan yang konsisten, dan pemahaman yang memadai atas materi yang dinilai.
Pada akhirnya, Empat Musim Pertiwi mengingatkan kita bahwa film tidak selalu memberikan jawaban secara langsung. Kadang-kadang, ia justru membuat kita berhenti sejenak dan melihat kembali sesuatu yang selama ini dianggap biasa.
Cahaya, misalnya, tidak hanya menerangi ruang. Dalam konteks tertentu, ia juga dapat mengajak kita bertanya tentang siapa yang memiliki kendali. Sebuah gambar tidak hanya memperlihatkan peristiwa, tetapi juga menentukan bagaimana kita melihatnya. Dan sebuah cerita tidak selalu meminta kita segera mengambil kesimpulan.
Membaca film dengan baik berarti memberi ruang bagi pertanyaan, tanpa kehilangan ketelitian dalam menilai. Dari sanalah apresiasi, kritik, dan perlindungan penonton dapat berjalan bersama.

