Sinema Indonesia di Panggung Global: Cerita Kita, Dunia Mendengar

Aktivis Reformasi 1998 & Sekjen PIJAR 98. Pegiat & pengkaji industri perfilman, pernah bertugas sebagai staf kehumasan di Ditjen Kebudayaan. Saat ini menjabat Ketua Umum Sinergi Untuk Film Indonesia (SUFI).
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Indri Ariefiandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa tahun terakhir, film-film Indonesia tak lagi hanya tayang di bioskop lokal. Judul-judul seperti Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, Yuni, hingga Ali & Ratu Ratu Queens melenggang di festival internasional, bahkan tayang di platform global seperti Netflix dan Disney+ Hotstar. Kini, film turut memperluas jangkauan dengan menembus pasar ASEAN. Ini menjadi bukti bahwa cerita dari Indonesia memiliki daya tarik lintas budaya dan wilayah. Dunia mulai melirik sinema kita. Dan kita tak sekadar hadir—kita didengar, dirayakan.
Inilah momen langka: ketika film Indonesia bukan hanya menghibur, tapi juga memperkenalkan budaya, membuka dialog, bahkan menjadi alat diplomasi yang lebih halus dari pidato resmi mana pun.
Kolaborasi, Jendela Baru bagi Sineas
Satu hal yang mendorong sinema kita melangkah lebih jauh adalah kolaborasi internasional. Ingat The Raid? Disutradarai Gareth Evans, sineas asal Wales yang bekerja sama dengan tim lokal, film ini sukses besar dan dikenang sebagai salah satu film aksi terbaik dari Asia. Kolaborasi ini membuka jalan bagi sineas Indonesia untuk percaya diri tampil di panggung dunia.
Kini, kerja sama semacam itu makin meluas. Sineas kita tak ragu lagi bekerja dengan rumah produksi luar, ikut program residensi, atau pitching di pasar film internasional. Bagi yang bisa menjaga orisinalitas cerita sambil memenuhi standar global, peluang itu terbuka lebar.
Budaya Lokal, Gaya Global
Ketika bicara soal film Indonesia di ranah global, satu hal jadi kunci: cerita lokal. Bukan cerita luar rasa lokal, tapi cerita kita sendiri—apa adanya, otentik, dan terkadang getir. Yang menarik, penonton global justru menyukai itu.
Marlina, misalnya, dengan nuansa western ala Sumba yang kering dan sunyi, justru mencuri perhatian karena tampil beda. Yuni membuka tabir soal tekanan sosial terhadap perempuan di lingkungan yang konservatif. Ini bukan cerita rekaan—ini realitas kita, yang dibalut sinema dengan cara cerdas dan berkelas.
Interaksi dengan budaya luar bukan berarti meniru habis-habisan. Justru, dalam pertemuan itu, kita belajar mengemas cerita dengan lebih tajam, lebih berani, dan lebih siap untuk bersaing.
Film sebagai Duta Budaya
Bukan rahasia lagi kalau film bisa jadi alat diplomasi budaya. Film bisa menjelaskan Indonesia lebih baik daripada promosi wisata. Lewat film, dunia melihat keberagaman kita, konflik sosial yang kita alami, atau harapan yang tetap tumbuh di tengah keterbatasan.
Ketika Laskar Pelangi menceritakan semangat belajar anak-anak Belitung, atau Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas menyajikan kisah cinta dan kekerasan dengan cara yang absurd namun jujur, film-film ini membawa pesan, seakan berkata: inilah kami, dengan segala warna dan luka, tapi juga dengan banyak cinta.
Negara Hadir Lewat Dana Indonesiana
Tentu, semua ini tidak akan terjadi tanpa dukungan. Dan dalam hal ini, negara patut diapresiasi. Lewat program Dana Indonesiana, pemerintah mendukung proyek-proyek kebudayaan—termasuk film. Dana ini tidak hanya menyasar film-film besar, tetapi juga memberi napas bagi sineas dari daerah, komunitas film independen, hingga dokumenter yang jarang mendapat sorotan.
Pendekatannya pun menarik: tidak sekadar memberi dana, tapi membangun ekosistem. Ada ruang untuk riset, pengembangan kapasitas, dan distribusi. Artinya, film tak hanya jadi produk, tapi juga proses panjang yang menghidupkan budaya dan komunitas.
Cerita Kita, Suara Kita
Sinema Indonesia sedang berada di titik penting. Dunia sudah membuka telinga. Sekarang, tugas kita adalah terus menyuarakan cerita yang jujur, berani, dan berakar dari tanah sendiri. Tidak perlu malu dengan kampung halaman, bahasa ibu, atau tradisi yang kita miliki—justru di sanalah letak kekuatan kita.
Karena ketika dunia menonton, mereka tidak mencari film yang mirip Hollywood. Mereka mencari suara baru. Dan suara itu, bisa jadi, adalah suara kita.
