Konten dari Pengguna

Gadget Minggir! Mahasiswa FISIP UB Punya Jurus Jitu Bikin Anak SD Lupa Main HP

INDRIA SUSILO HAPSARI

INDRIA SUSILO HAPSARI

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari INDRIA SUSILO HAPSARI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Melalui program KKN, mahasiswa Universitas Brawijaya memperkenalkan kegiatan alternatif yang edukatif dan menyenangkan untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari gadget.

Foto: Indria Susilo
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Indria Susilo

Dalam upaya menjawab tantangan era digital yang semakin memengaruhi pola perilaku anak-anak, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) menghadirkan sebuah inisiatif kreatif melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) FBD KOMPAK. Program ini dirancang tidak hanya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga sebagai sarana edukatif yang menyentuh langsung isu sosial yang berkembang di lingkungan sekolah dasar.

Salah satu kegiatan unggulan yang diusung oleh Mahasiswa (KKN) FBD KOMPAK adalah sosialisasi “Yuk Kurangi Main Handphone” dan juga praktik membuat kerajinan “Pipe Cleaner Flower Bouquet”, ajakan sederhana ini sangat bermakna untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari layar handphone ke aktivitas yang lebih produktif dan menyenangkan salah satunya dengan membuat kerajinan bunga dari kawat berbulu. Kegiatan ini digelar di SDN 1 Ampelgading, Kabupaten Malang, pada Sabtu (19/07), dan melibatkan siswa kelas 1 hingga kelas 4 dalam sesi sosialisasi hingga praktik kerajinan tangan.

Kegiatan ini berangkat dari keprihatinan terhadap meningkatnya durasi penggunaan gadget oleh anak-anak sekolah dasar terutama sejak pandemi COVID-19. Fenomena ini mendorong para mahasiswa KKN FBD KOMPAK FISIP UB untuk menghadirkan sebuah pendekatan edukatif yang tidak hanya mengalihkan perhatian anak-anak dari layar, tetapi juga mengajak mereka terlibat dalam aktivitas yang lebih sehat, kreatif, dan bermakna.

“Anak-anak saat ini sangat akrab dengan handphone bahkan sejak usia dini. Sayangnya penggunaan yang berlebihan dapat memengaruhi konsentrasi belajar, kestabilan emosi, dan kualitas interaksi sosial mereka. Melalui program ini, kami ingin memperkenalkan alternatif yang menyenangkan sekaligus mendidik dengan menghadirkan sebuah ruang bagi anak-anak untuk berkarya, berinteraksi, dan merasa bangga atas hasil kreativitas mereka.” Ujar Indria Susilo, selaku koordinator kegiatan “Yuk Kurangi Bermain Handphone”.

Foto: Indria Susilo

Siswa kelas 1 hingga kelas 4 turut mendapatkan pemahaman mengenai berbagai dampak negatif dari penggunaan handphone secara berlebihan. Materi ini disampaikan dengan pendekatan yang ringan dan menyenangkan, sehingga mudah dipahami dan diterima oleh anak-anak. Antusiasme mereka terlihat jelas sepanjang sesi sosialisasi berlangsung. Mereka tidak hanya menyimak dengan penuh perhatian, tetapi juga aktif bertanya dan berbagi pendapat mengenai pengalaman mereka terkait penggunaan handphone. Respon positif ini menunjukkan bahwa anak-anak mampu memahami isu digital dengan baik.

Setelah sesi sosialisasi selesai, para siswa diajak untuk membuat kerajinan tangan berupa pipe bouquet flower atau rangkaian bunga yang dibuat dari kawat berbulu. Kegiatan ini berlangsung secara interaktif di dalam kelas, memberikan ruang bagi siswa untuk bebas berkreasi dengan bentuk dan kombinasi warna sesuai imajinasi mereka. Mahasiswa pendamping turut serta secara aktif, membimbing setiap langkah proses pembuatan agar siswa memahami teknik dasar dan merasa percaya diri dalam berkarya.

Foto: Indria Susilo

Melalui pendekatan yang komunikatif dan partisipatif, para mahasiswa FISIP UB tidak hanya mengajarkan teknik membuat bunga dari pipe cleaners atau kawat berbulu warna-warni yang mudah dibentuk. Praktik kerajinan tangan berupa pipe bouquet flower ini menjadi momen yang menyenangkan sekaligus edukatif. Anak-anak terlihat antusias, saling berbagi ide, dan menunjukkan rasa bangga terhadap hasil karya mereka. Di akhir sesi, beberapa siswa bahkan memamerkan buket bunga ciptaan mereka dengan penuh semangat, menandakan keberhasilan pendekatan kreatif dalam membangun rasa percaya diri dan keterampilan sosial. Bahkan ada beberapa siswa menyatakan ingin membuat pipe bouquet flower di rumah untuk diberikan kepada orang tua mereka.

“Melalui kegiatan membuat pipe bouquet flower, anak-anak SDN 1 Ampelgading tidak hanya belajar berkreasi, tetapi juga menemukan kesenangan di luar layar handphone. Ketika tangan mereka sibuk merangkai bunga, pikiran mereka pun teralihkan dari kebiasaan bermain handphone. Ini adalah langkah kecil namun berarti untuk membentuk kebiasaan positif sejak dini,” ujar Marcella Diastuti selaku koordinator kegiatan “Pipe Cleaner Flower Bouquet”.

Foto: Indria Susilo

Kepala SDN 1 Ampelgading, Bapak Fachrizal Arviansyah, S.Pd.SD, menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa FISIP UB. “Kegiatan ini sangat positif karena anak-anak diajak belajar sambil bermain, dan itu sangat efektif dalam membentuk karakter serta mengembangkan kreativitas mereka. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut di masa mendatang,” ujarnya.

Menurut Mahasiswa (KKN) FBD KOMPAK Kelompok 24, pipe bouquet flower dipilih karena mudah dibuat, bahan-bahannya terjangkau, dan mampu melatih keterampilan motorik halus serta daya imajinasi siswa. Kegiatan ini juga dapat dijadikan contoh aktivitas yang bisa dilakukan orang tua di rumah sebagai alternatif waktu berkualitas bersama anak.

Dengan pendekatan yang kreatif dan menyenangkan, mahasiswa berharap anak-anak tidak hanya mengurangi durasi bermain handphone, tetapi juga mulai terbiasa mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif dan produktif. Mereka juga mendorong keterlibatan guru dan orang tua dalam mengawasi serta mengarahkan penggunaan teknologi secara bijak.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan hasil kerajinan kepada pihak sekolah sebagai bentuk kenang-kenangan dari mahasiswa KKN. Diharapkan, inisiatif ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk menghadirkan aktivitas pembelajaran non-digital yang tetap menyenangkan dan bermakna.