KKN BTV III UNEJ Desa Sawo Inovasi Pengolahan Jamu Herbal Serbuk

Mahasiswa FMIPA Universitas Jember
Tulisan dari Indriyani Rohmatul Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Masa pandemi covid19 tidak menjadi penghalang bagi mahasiswa Universitas Jember (http://unej.ac.id) untuk tetap melanjutkan kegiatan akademik, salah satunya yaitu Kuliah Kerja Nyata (KKN). KKN Back to Village 3 dilaksanakan secara mandiri oleh mahasiswa yang ditempatkan di desa tempat tinggal masing-masing. Tentunya keadaan seperti ini tidak mengurangi inovasi dan kreativitas mahasiswa dalam menjalankan program kerjanya dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Pandemi yang terjadi ini tentu saja berimbas di segala bidang kehidupan bagi masyarakat khususnya pada bidang perekonomian. Hal ini dikarenakan meningkatnya angka pengangguran akibat pembatasan pekerja, perusahaan yang terpaksa gulung tikar akibat penurunan penjualan, serta keterbatasan para pelaku usaha dalam proses penjualan. Oleh sebab itu, pandemi yang tak kunjung selesai ini sangat meresahkan seluruh masyarakat, kerena perekonomian merupakan elemen terpenting dalam menopang kehidupan.
Indriyani Rohmatul Aulia salah satu mahasiswa Universitas Jember yang melaksanakan KKN di Desa Sawo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto yang didampingi oleh Dosen Pendamping Lapangan (DPL) Ibu Susan Barbara Patricia SM, S.Hut., M.Sc. Dengan memilih tematik program pemberdayaan wirausaha masyarakat yang terdampak covid19. Tema ini menjadi pilihan karena melihat kondisi desa yang berpotensi dalam wirausaha namun sedang terdampak covid19. Berdasarkan permasalahan tersebut Indri melakukan kegiatan KKN bersama sasaran Ibu Fita yang merupakan salah seorang penjual jamu tradisional di Desa Sawo. Alasannya memilih sasaran tersebut yakni melihat permasalahan yang dihadapi UMKM Jamu Tradisional dimana omset penjualan menurun dan produk yang kurang dikenal masyarakat. Produk jamu tradisional kurang diminati masyarakat luas, padahal di era pandemi seperti ini jamu seharusnya baik dikonsumsi untuk meningkatkan imun tubuh dan menjaga kesehatan dari berbagai penyakit. Hal ini mendorong Indri memberikan inovasi produk kepada sasaran untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. Berdasarkan permasalahan tersebut telah dilakukan inovasi untuk produk jamu tradisional milik sasaran. Inovasi yang telah dilakukan yaitu dengan membuat produk jamu varian baru dalam bentuk serbuk sehingga memudahkan masyarakat untuk dijadikan persediaan di masa pandemi. Serta kita tahu bahwa sekarang sedang dimasa pemberlakuan PPKM yang membatasi aktivitas di luar rumah sehingga varian baru jamu berbentuk serbuk bisa sangat membantu masyarakat.
Dengan begitu masyarakat akan lebih tertarik untuk mencoba produk jamu yang telah dibuat. Tidak hanya itu saja namun juga memberikan inovasi lain yang tak kalah penting yakni stiker produk yang berisi merek dan logo produk. Indri memberikan sosialisasi pentingnya branding (merek) produk kepada sasaran dan juga memberikan pelatihan desain pembuatan logo. Upaya ini dilakukan agar produk memiliki identitas supaya lebih dikenal oleh masyarakat luas. Jamu yang telah dibuat diberikan merek yaitu "Omah Jamu" dengan tiga varian rasa yakni jamu kunyit, temulawak dan jahe merah. Masing-masing jamu ini memiliki banyak manfaat, khususnya yakni untuk menambah daya tahan tubuh. Selain itu Indri juga memberikan pelatihan dan pendampingan terkait tentang pentingnya digital marketing terhadap produk yang dijual sasaran. Pada tahapan ini diadakan kelas KKN guna untuk menyampaikan materi dan sekaligus pendampingan pembuatan akun media sosial seperti Instagram, Facebook dan WhatsApp yang akan digunakan untuk penjualan online produk jamu tradisional.
Pemanfaatan media sosial sebagai tempat penjualan produk pada saat pendemi seperti sekarang ini merupakan sebuah alternatif yang sangat mudah dilakukan serta memberikan peluang besar terhadap pemasaran produk dimana dampak yang didapat adalah produk akan lebih banyak dikenal oleh masyarakat dan sekaligus berdampak terhadap omset yang akan didapatkan oleh pelaku usaha jamu tradisional. Dengan adanya program pemberdayaan, pelatihan, pendampingan serta inovasi pada produk ini, diharapkan akan memberikan dampak yang positif terhadap pelaku usaha jamu tradisional di Desa Sawo dan bisa bersaing dengan produk jamu tradisional yang lain. (Indriyani Rohmatul Aulia).
