Konten dari Pengguna

Guiding Block: Solusi Trotoar Ramah Penyandang Disabilitas Tunanetra

Inea Kezia Amya

Inea Kezia Amya

Pelajar SMA Citra Berkat Tangerang

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inea Kezia Amya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi guiding block. Sumber foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi guiding block. Sumber foto: Pexels

Pernahkah kamu melihat guiding block? Guiding block atau blok pemandu merupakan salah satu fasilitas umum yang berfungsi sebagai pemandu jalan bagi para penyandang disabilitas, khususnya tunanetra. Blok ini dibuat dengan material khusus berbentuk persegi berwarna kuning dengan tekstur menonjol dan pola tertentu yang dapat dirasakan dengan tongkat. Pola bertekstur pada blok pemandu tentunya memiliki arti tersendiri, seperti pola garis lurus yang menandakan untuk jalan terus atau pola bulatan-bulatan timbul yang menandakan peringatan atau perubahan arah.

Keberadaan guiding block membantu penyandang tunanetra untuk tetap berada pada jalur prioritas mereka. Namun, meskipun kegunaannya sangat penting, di beberapa tempat, masih ditemukan guiding block yang tidak memenuhi standar, baik karena hancur, rusak, ataupun terhalang pohon atau fasilitas lainnya yang justru berisiko menimbulkan bahaya bagi penggunanya.

Permasalahan mengenai guiding block yang terdegradasi ini umumnya disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Kurangnya Kesadaran tentang Kesetaraan Aksesibilitas

Banyak pihak belum sepenuhnya menyadari mengenai pentingnya kesetaraan akses bagi penyandang tunanetra. Kurangnya pemahaman mengenai peran guiding block dalam memenuhi kebutuhan aksesibilitas, menyebabkan perwujudan fungsinya belum maksimal bagi para penyandang tunanetra.

2. Pemeliharaan dan Perawatan yang Minim

Tanpa pemeliharaan yang rutin, guiding block bisa saja mengalami keretakan ataupun terhalangi jalurnya oleh kendaraan parkir, sampah, dan tanaman. Pengguna guiding block bisa saja menyalahartikan pola dikarenakan blok pada lantai mengalami keretakan. Apabila pemeriksaan tidak dilakukan secara berkala, kemungkinan terjadi kerusakan pada guiding block akan meningkat, sehingga mengurangi fungsi utamanya sebagai alat penunjang mobilitas penyandang tunanetra.

3. Penggunaan yang Tidak Sesuai dengan Fungsi

Aktivitas yang padat di atas trotoar seringkali membuat peran guiding block dialihfungsikan. Penggunaan yang tidak sesuai dengan fungsi aslinya, seperti, menjadi area parkir kendaraan atau tempat untuk memasang iklan, papan reklame, dan barang dagangan menjadikan guiding block tidak lagi bebas akses bagi para penyandang tunanetra. Dengan objek-objek yang menghalangi blok pemandu, para pengguna terpaksa untuk berjalan keluar dari jalur yang justru berpotensi menimbulkan bahaya.

Seperti yang dikatakan oleh Emma Thompson, 'Menjadi difabel tidak berarti didiskualifikasi dari berbagai aspek kehidupan.' Kurangnya kesadaran akan kesetaraan aksesibilitas, pemeliharaan yang minim, dan penggunaan yang tidak sesuai fungsi dapat mengurangi efektivitas guiding block sebagai pendukung mobilitas penyandang tunanetra. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran dan fokus terhadap perawatan fasilitas publik ini sebagai upaya fundamental untuk menghadirkan guiding block yang lebih ideal bagi para penyandang tunanetra.