Konten dari Pengguna

Inflasi Turun, tapi Petani Belum Tentu Untung

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ircham Andrianto Taufick tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dampak perubahan harga bagi produsen dan konsumen. Foto Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dampak perubahan harga bagi produsen dan konsumen. Foto Generated by AI

Berdasarkan pantauan penulis pada 4 Agustus 2026, harga cabai di Pasar Bersehati, Kota Manado, turun dari Rp45.000 per kilogram pada pekan sebelumnya menjadi Rp35.000 per kilogram. Bagi ibu rumah tangga, penurunan itu memberi sedikit ruang bernapas setelah belanja bulan sebelumnya terasa semakin mahal. Namun, bagi petani di sentra produksi, penurunan harga dapat menghadirkan cerita berbeda. Harga jual cabai turun ketika harga pupuk, benih, dan ongkos angkut tidak ikut menurun. Harga yang sama dapat melegakan konsumen sekaligus menambah beban produsen.

Di sinilah inflasi memiliki dua wajah. Harga pangan yang lebih rendah membantu konsumen, tetapi bila penurunannya ditanggung petani, stabilitas hari ini dapat menciptakan masalah produksi esok hari. Konsumen membutuhkan harga yang terjangkau, sedangkan petani membutuhkan harga yang sesuai untuk menjaga keberlangsungan usaha. Kebijakan pangan harus menjaga keduanya, bukan memenangkan satu pihak dengan mengorbankan pihak lain.

Data Juli 2026 memperlihatkan ketegangan tersebut. BPS mencatat inflasi tahunan sebesar 2,88 persen. Secara bulanan, Indonesia bahkan mengalami deflasi 0,14 persen. Pada periode yang sama, Nilai Tukar Petani atau NTP naik tipis 0,15 persen menjadi 127,84. Sekilas, kombinasi ini terlihat ideal: harga terkendali dan posisi petani membaik.

NTP Bukan Laporan Laba Rugi

Namun, kenaikan NTP perlu dibaca secara hati-hati. Secara sederhana, NTP memberi gambaran umum mengenai daya tukar pendapatan petani terhadap kebutuhan hidup dan biaya produksinya. Pada Juli, NTP memang meningkat. Namun, kenaikan itu tidak otomatis menunjukkan keuntungan usaha yang lebih besar. NTP bukan laporan laba rugi petani. Angka itu tidak menunjukkan luas lahan yang digarap, volume panen yang dijual, utang yang harus dibayar, atau seberapa besar margin yang diperoleh.

Kondisi tersebut terlihat pula dari indikator usaha pertanian yang justru melemah pada Juli. Hal ini menunjukkan bahwa biaya produksi meningkat ketika harga yang diterima petani menurun. Menyimpulkan bahwa kesejahteraan petani otomatis meningkat karena NTP naik dapat menyederhanakan kenyataan yang lebih rumit.

Murah karena Efisien atau Petani Tertekan?

Pengendalian inflasi pangan penting. Kenaikan harga makanan paling cepat menggerus daya beli kelompok berpendapatan rendah karena porsi pangan dalam pengeluaran mereka relatif lebih besar. Pemerintah dan bank sentral tidak boleh membiarkan gangguan pasokan berkembang menjadi lonjakan harga yang berkepanjangan. Namun, keberhasilan tidak cukup dinilai dari harga akhir di pasar. Pertanyaan yang sama pentingnya adalah: mengapa harga turun dan siapa yang menanggung penurunannya?

Harga yang turun karena panen meningkat, produktivitas membaik, jalan produksi lebih lancar, gudang penyimpanan tersedia, atau rantai distribusi memendek merupakan kabar baik. Konsumen membayar lebih murah tanpa mengurangi pendapatan petani. Sebaliknya, harga yang turun karena petani harus segera menjual hasil panen, tidak memiliki tempat penyimpanan, atau berhadapan dengan pembeli yang lebih kuat hanya memindahkan beban dari konsumen kepada produsen.

Dalam jangka pendek, keadaan itu mungkin membantu menahan inflasi. Dalam jangka panjang, petani dapat mengurangi penggunaan pupuk, menunda perawatan lahan, beralih komoditas, bahkan berhenti menanam. Produksi musim berikutnya berisiko menurun. Harga murah hari ini kemudian dapat berubah menjadi kelangkaan dan inflasi pada masa mendatang. Inflasi yang ditekan dengan menggerus insentif petani pada akhirnya dapat memakan benihnya sendiri.

Dashboard Dua Sisi

Ada pandangan bahwa NTP yang berada jauh di atas 100 sudah cukup membuktikan kondisi petani relatif baik. Argumen itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi belum lengkap. NTP memang dapat menggambarkan daya tukar petani secara agregat. Namun, angka nasional dapat menyembunyikan perbedaan antarkomoditas, wilayah, skala usaha, dan kepemilikan lahan. Petani yang memiliki lahan luas tentu menghadapi keadaan berbeda dari petani penggarap.

Oleh karena itu, pengendalian inflasi pangan memerlukan dashboard dua sisi. Sisi pertama mengukur keterjangkauan bagi konsumen melalui inflasi dan harga eceran. Sisi kedua mengukur keberlanjutan produsen melalui harga di tingkat petani, biaya produksi, dan tingkat produktivitas.

Selisih harga antara tingkat petani dan pasar eceran juga perlu diperiksa. Harga konsumen dapat tetap tinggi meskipun harga yang diterima petani turun karena ongkos distribusi, penyimpanan, dan panjangnya rantai perdagangan. Tanpa membaca selisih tersebut, kebijakan berisiko menekan harga petani ketika sumber inefisiensi justru berada setelah hasil panen meninggalkan lahan.

Pada akhirnya, kebijakan juga perlu memastikan harga turun melalui efisiensi, bukan karena pelemahan daya tawar petani. Perbaikan jalan produksi, fasilitas penyimpanan, akses informasi harga, pembiayaan yang terjangkau, serta kemitraan yang adil dapat menekan biaya sekaligus menjaga pendapatan produsen.

Inflasi rendah patut dijaga dan kenaikan NTP layak diapresiasi. Stabilitas pangan yang sehat tercapai ketika harga tetap terjangkau, usaha tani tetap layak, dan produksi berikutnya tetap tumbuh. Apa artinya pangan murah hari ini apabila petani kehilangan alasan untuk menanamnya kembali esok hari?