3 Kunci Kebangkitan Timnas Belanda Bersama Ronald Koeman

Info Bola adalah story berita bola hari ini, jadwal terkini, tentang pemain, sepak bola Liga indonesia, Eropa, dan dunia.
Tulisan dari Info Bola tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hasil bagus sukses ditorehkan Timnas Belanda di dua laga Kualifikasi Piala Eropa 2020. Melakoni dua laga tandang, Belanda menang atas sang rival Jerman dengan skor 4-2, kemudian membenamkan Estonia dengan skor telak 0-4. Kini, kans De Oranje untuk lolos ke Piala Eropa pun semakin besar.
Sebelumnya, setelah menempati peringkat ketiga di Piala Dunia 2014, Belanda gagal lolos ke Piala Eropa 2016. Kala itu, Belanda menempati peringkat keempat Grup A di babak kualifikasi, membuat mereka hanya bisa melihat Republik Ceko, Islandia, dan Turki yang lolos ke Piala Eropa.
Kegagalan Belanda lolos ke Piala Eropa 2016 tersebut kemudian kembali terulang, kali ini ke Piala Dunia 2018. Tergabung di Grup A, Prancis dan Swedia jadi tim yang lolos ke Rusia sebagai juara grup dan runner-up, sementara Belanda di tempat ketiga. Belanda sejatinya punya jumlah poin yang sama dengan Swedia (19), tapi mereka masih kalah selisih gol.
Sejak dua kegagalan tersebut, Belanda yang menunjuk Ronald Koeman mulai berbenah. Kompetisi UEFA Nations League kemudian jadi awal kebangkitan Belanda. Satu grup dengan juara Piala Dunia di dua edisi sebelumnya, Prancis dan Jerman, Belanda sukses memuncaki klasemen.
Bertemu Inggris di semifinal, Belanda kemudian sukses melenggang ke final usai menang dengan skor 1-3. Meski pada akhirnya kalah 1-0 dari Portugal di babak final, hasil tersebut tetap tak mengubah kenyataan bahwa kini Belanda sudah bangkit jadi salah satu kekuatan terbesar di dunia.
Kini sukses kembali membuktikan kebangkitan, dengan punya kans besar lolos ke Piala Eropa 2020, berikut tiga hal yang jadi kunci kebangkitan Timnas Belanda bersama Ronald Koeman.
1. Pertahanan solid
Bersama Koeman, pertahanan jadi perubahan signifikan Timnas Belanda dari sebelum mereka bangkit. Bek sayap mereka memang bukan yang terbaik, diperkuat Danny Blind yang lebih optimal sebagai gelandang dan Denzel Dumfries yang terlalu menyerang. Namun, jantung pertahanan bisa menutup kelemahan di kedua sisi tersebut.
Punya Jasper Cillessen yang sejatinya punya kualitas, hanya minim kesempatan lantaran jadi cadangan Marc-Andre Ter Stegen, tepat di depannya Belanda diperkuat duet bek tengah yang layak disebut terbaik di dunia. Adapun dua nama tersebut Virgil van Dijk dan Matthijs de Ligt.
Musim lalu, Van Dijk jadi kunci kala Liverpool menjuarai Liga Champions, juga saat ‘The Reds’ jadi yang paling sedikit kebobolan di Liga Inggris. De Ligt juga tidak kalah, memimpin Ajax double winners dan melaju ke semifinal Liga Champions. Bersama Cillessen, Van Dijk, dan De Ligt, Timnas Belanda yang solid pun mulai bangkit sebagai raksasa dunia.
2. Kembali dengan formasi 4-3-3
Setelah sempat bermain dengan skema 3-5-2 di laga persahabatan, Ronald Koeman mulai menerapkan formasi 4-3-3 di UEFA Nations League. Bermain dengan taktik yang sudah melekat dengan Timnas Belanda, Koeman menekankan permainan pada umpan-umpan dan penguasaan bola.
Berkat skema tersebut, Belanda sukses mendominasi permainan di hampir tiap laga. Bermain menyerang dengan cepat, kemampuan mengidentifikasi kelemahan lawan juga begitu membantu buat Belanda. Terutama ketika biasanya Belanda menumpuk pemain di tengah, mereka menciptakan ruang untuk penyerang sayap menusuk pertahanan lawan.
Lini depan yang diisi Ryan Babel, Memphis Depay dan satu lagi penyerang bergantian, biasanya diisi Quincy Promes, tampil impresif dengan skema 4-3-3 Koeman. Kombinasi Depay yang punya kreativitas dan visi, penyerang veteran Babel, dan satu lagi penyerang cepat jadi senjata utama Belanda saat ini.
3. Generasi baru dengan Frenkie de Jong sebagai pusatnya
Setelah bintang-bintangnya seperti Arjen Robben, Robin van Persie, dan Wesley Sneijder pensiun. Kini, Belanda memulai generasi baru. Saat baru ditunjuk, Ronald Koeman langsung mengandalkan pemain muda seperti Matthijs de Ligt di pertahanan dan Memphis Depay di daerah penyerangan lini tengah kemudian ada Frenkie de Jong.
Seperti yang sebelumnya disebutkan, De Ligt bermain solid dengan seniornya, Van Dijk, di jantung pertahanan. Sementara Depay yang jadi false nine, efektif membuat Quincy Promes dan Ryan Babel yang kariernya sempat memudar jadi kembali impresif. Catatan individu Depay di bawah asuhan Koeman pun luar biasa, terlibat dalam 19 gol Timnas Belanda.
Meski Depay gemilang di depan, dirinya bukan jadi kunci utama permainan Timnas Belanda. Adapun Frenkie de Jong pusat dari generasi baru yang membuat Belanda bangkit. Sebagai box-to-box, De Jong mampu menangani pertahanan di tengah dengan solid. Tak kalah, saat menyerang umpan-umpan De Jong juga luar biasa, membuat timnya mendominasi laga.
Punya ketenangan, etos kerja, visi bermain, dan pengambilan keputusan yang luar biasa, gelandang berusia 21 tahun tersebut jadi sosok yang membuat Belanda bisa mendominasi lini tengah. Tak khayal bila akhirnya De Jong disebut sebagai pemain terpenting selain Depay dan Van Dijk dalam kebangkitan Timnas Belanda. (bob)
Baca lebih banyak informasi mengenai berita artis/berita heboh/info bola/dan lifehack lebih nyaman di aplikasi kumparan.
Download aplikasi Android di sini.
Download aplikasi iOS di sini.
